
Aku masuk ke dalam ruang perawatan, nampak Bu Purnama masih terbaring lemah di atas ranjang. Ia tak mengatakan apapun, karena menurut Dokter ia masih dalam pengaruh obat sehingga ia tak dapat di ajak berkomunikasi. Ya sudahlah setidaknya aku sudah tau jika ia telah sadar, dan untuk memastikan itu benar-benar dirinya mungkin aku akan menunggu sampai ia tak dalam pengaruh obat. Ku katakan pada Pak Bos, jika sekarang mungkin semua baik-baik saja. Tapi aku harus menunggu sampai ia sadar seutuhnya. Jadi aku berpamitan untuk kembali ke kantor, karena aku ada pekerjaan yang menumpuk sejak kemarin.
Sesampainya di kantor, Mbak Rika memberikan begitu banyak berkas yang menumpuk di meja kerja ku. Ia memintaku untuk membantu menyelesaikan pekerjaan Silvia yang ditinggalkan sejak beberapa hari yang lalu. Baiklah, aku terpaksa mengerjakan semua nya tapi aku harus menanyakan kabar Beny dan juga Mbak Ayu terlebih dulu. Aku mengirimkan pesan singkat pada mereka, tapi hanya Beny yang menjawab pesan ku. Ia mengatakan ingin berbicara dengan ku secara langsung. Entah kenapa sejak ia sadar, Beny menjadi aneh. Dia yang biasanya selalu konyol mendadak penuh teka-teki.
"Mungkin lusa gue baru bisa kesana Ben, sekarang tugas gue lagi numpuk nih. Lu cepet sembuh ya, biar bisa balik kerja lagi." Kataku melalui pesan wassap.
Triing.
Pesan masuk dari Beny.
"Ran, kayaknya waktu gue gak akan lama lagi. Kalau ada apa-apa sama gue, sampaiin ke Silvia untuk berhati-hati ya. Karena ada makhluk jahat yang masih mengincar nyawanya. Gue gak tega buat nyampaiin langsung ke dia, karena nanti Silvia pasti ketakutan. Maaf ya kalau ada salah selama ini." Balasan pesan nya melalui wassap.
Seketika pikiran ku jadi tak tenang. Apa sih maksudnya Beny ngomong kayak gini. Ku panggil Petter dan memintanya untuk pergi menemui Beny. Aku meminta tolong pada Petter untuk memantau kondisi nya disana. Dan menceritakan mengenai makhluk jahat yang mengincar nyawa Silvia. Bahkan Petter terlihat heran mendengar penjelasan ku. Karena menurutnya, setelah terbebas dari kereta hantu tak ada makhluk yang mengejar Silvia ataupun Beny. Hmm mungkin Petter tak melihat bayangan putih yang ku lihat waktu itu.
"Sudahlah Petter, kau pergi kesana dulu ya. Kasih tau aku kalau ada sesuatu yang janggal disana. Karena aku masih banyak pekerjaan, dan aku juga harus melihat kondisi Mbak Ayu di rumah." Ucapku melalui batin.
"Baiklah, aku akan pergi untuk melihatnya. Sampai jumpa nanti Rania." Kata Petter sebelum melesat pergi.
Aku menghembuskan nafas panjang seraya menyenderkan kepala di kursi. Ku pijat pangkal hidungku, karena rasa pusing menyeruak ke dalam kepala ku. Ku lirik layar ponsel di atas meja, belum ada balasan pesan dari Mbak Ayu. Kali ini aku benar-benar cemas, jangan-jangan terjadi sesuatu padanya.
Plaaak!
Mbak Rika menepuk pundak ku dari belakang. Ia menaikan dagunya, bertanya dengan gestur tubuh.
"Gak ada apa-apa kok Mbak. Gue lagi gak fokus kerja nih."
"Emangnya ada apa lagi Ran? Bukannya Beny udah sadar ya? Terus Bu Purnama juga udah gak apa-apa kan?" Tanya Mbak Rika seraya duduk di samping ku.
"Banyak hal yang belum pasti kejelasan nya Mbak. Bantu doa aja ya, semoga semua lancar gak ada kendala."
"Kalau lu belum bisa fokus kerja, gak usah diselesaikan semuanya gak apa-apa kok. Kerjain semampu lu aja, gue gak akan minta lu kerja lapangan kok. Lu udah terlalu capek belakangan ini, sorry ya kalau gue gak bisa bantu apa-apa." Pungkas Mbak Rika seraya merangkul ku.
"Ya udah Mbak gue kerjain semampu gue dulu ya. Ntar gue mau balik cepet, gue hawatir sama Mbak Ayu. Tadi dia yang bantuin gue buat jemput jiwa Bu Purnama di alam gaib. Tapi demit itu malah nyelakain dia, dan sekarang gak ada kabar dari Mbak Ayu. Gue jadi hawatir."
"Kalau gitu ntar gue temenin jenguk Mbak Ayu ya. Udah lama gue gak ketemu dia juga."
"Yuk ke kost an lu. Kita bawa mobil kantor aja, Pak Bos udah kasih ijin kok buat lu pakai tuh mobil." Kata Mbak Rika dengan menaikan alis matanya.
"Lu tumben gak lembur Mbak? Ntar kalau Pak Arya ngoceh gimana?"
"Gue gak takut lagi sama dia Ran. Toh kita disini sama-sama kerja meski beda jabatan. Yang penting kan kerjaan gue selesai sebelum deadline. Mau gue lembur atau gak kan yang gaji kita bukan dia!"
Aku hanya menyunggingkan senyum mendengar ucapannya. Sampai akhirnya kami tak sengaja berpas-pasan dengan Pak Arya. Ia menatap kami dengan sinis.
"Kau mau kemana Rika? Bukankah kau belum menyelesaikan laporan yang akan dikumpulkan besok, kenapa sudah pulang secepat ini? Kalau anak buahmu yang satu itu memang sudah tidak heran, kalau dia suka seenaknya di jam kerja. Kalau kau, apa keistimewaan mu sampai kau ikutan seperti dia pulang kerja sesuka mu?" Tegur Pak Arya menghadang kami di depan pintu lift.
"Maaf Pak, jam kerja saya memang seharusnya sampai jam 5 sore. Dan kali ini saya pulang sesuai anjuran departemen tenaga kerja, yaitu bekerja selama 8 jam sehari. Kalau saya pulang tepat waktu bukannya wajar ya Pak. Yang penting besok saya tetap memberikan laporan tepat waktu di meja kerja Pak Arya." Tegas Mbak Rika, dan tanpa tau percakapan mereka di dengar beberapa staf yang akan keluar dari dalam lift.
Seketika wajah Pak Arya berubah merah, nampaknya ia menahan marah karena Mbak Rika menegurnya di depan staf lainnya. Terkadang orang-orang yang diberi jabatan lebih tinggi memang suka semena-mena, dan para bawahan memang seharusnya lebih bijak menanggapi para atasan yang seperti Pak Arya itu.
"Udah yuk Mbak kita jalan." Kataku seraya menarik tangan nya masuk ke dalam lift.
Sebelum pintu lift benar-benar tertutup, aku melihat Pak Arya mengepalkan kedua tangannya dengan sorot mata tajam. Ia bahkan bergumam, akan membalas perbuatan Mbak Rika. Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkah lelaki itu.
"Aaah gue lega juga akhirnya dapat negur atasan yang sok macam dia!" Pungkas Mbak Rika seraya menghembuskan nafas panjang.
"Mbak kayaknya dia gak terima udah lu tegur tadi."
"Iya Ran, gue lihat kok gimana tatapan matanya ke gue."
"Eh Mbak, gimana perkembangan berita mengenai pembunuhan yang di Bogor itu? Udah clear ya beritanya?"
"Kayaknya sih belum Ran, berita yang terus beredar katanya tersangka melakukan pembunuhan bukan hanya faktor tentang ekonomi aja. Katanya dia juga mempelajari praktek ilmu hitam gitu. Kemarin gue ada nugasin jurnalis buat ngeliput kesana lagi. Dia dapat informasi dari warga yang gak mau ngungkapin identitasnya. Menurutnya tersangka melakukan perjanjian dengan makhluk gaib buat ngasih tumbal nyawa gitu. Gak tau deh bener atau gak nya." Jelas Mbak Rika seraya melangkahkan kaki nya.
Apakah benar yang dikatakan Mbak Rika barusan. Lalu kenapa aku tak melihat makhluk gaib yang dimaksud nya tadi ya. Aku hanya melihay kedua jiwa korban pembunuhan itu. Ataukah mungkin makhluk itu tak menampakkan wujudnya padaku. Ataukah ini ada hubungannya dengan makhluk jahat yang diceritakan Beny.