Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 140 KEJUTAN?


"Kenapa lu gelap-gelapan Hen?" Tanya Mbak Ayu seraya mendongakan kepalanya ke dalam kamar Heni.


"Gue lagi rebahan sambil dengerin lagu Mbak. Emang ada apa ya?"


Mbak Ayu tak menjawab dan menatap ke arah ku. Sepertinya ia memintaku untuk menjawab pertanyaan Heni.


"Hmm. Gak ada apa-apa kok Hen, btw ntar malam lu ada acara gak? Nongkrong diluar yuk, kita ngopi di Starbeck, biar mbak Ayu yang traktir."


Mbak Ayu tercengang dengan wajah keheranan. "Lah kok gue Ran?" Tanya nya dengan wajah kebingungan.


"Ya kan lu yang udah gajian Mbak. Gue lagi tipis nih." Keluhku dengan menyunggingkan senyum termanis.


Mbak Ayu menganggukan kepala, lalu menaikan dagunya. Menanyakan jawaban Heni, apakah dia mau pergi bersama kami.


"Okelah Mbak. Tapi jangan lama-lama ya, soalnya gue ada webinar jam 9 malam nanti."


"Lah malam banget webinar nya?"


"Iya. Biasalah Mbak anak muda, pada sibuk masing-masing. Btw dalam rangka apa Mbak Ayu mau nraktir gue?" Heni menatap kami bergantian, sepertinya ia curiga dengan rencana dadakan ini.


"Eh gak cuma lu kok Hen. Kan gue juga di traktir. Mbak Ayu lagi pengen buang duit aja, bosen katanya di kost terus!"


Setelah Heni setuju, ia pun masuk kembali ke dalam kamarnya. Masih berdiri mematung dengan rasa penasaran.


"Balik ke kamar yuk, gue mau mandi istirahat bentar. Sejak pulang kerja belum duduk sama sekali gue." Keluh Mbak Ayu seraya berjalan gontai masuk ke dalam kamar.


Kami masuk ke kamar dan merebahkan tubuh di atas ranjang. Kami sedang membahas tentang Om Dewa. Tak habis pikir, kemana dia pergi. Dan kami jadi mencurigai Heni, yang ada di belakang peristiwa hilang nya Om Dewa.


Suara dering hape memecah kesunyian. Nampak panggilan telepon masuk dari Mas Adit. Ia memberi kabar, jika Ari sudah mengakui kejahatan nya. Dan benar, jika ia mengenal Tante Ajeng.


"Menurutnya, dia baru bertemu Tante Ajeng selama beberapa kali. Dia mengaku jika Tante Ajeng memang berada di TKP, saat Ari mengeksekusi Dinar. Tapi dia tak mengatakan tentang ritual persembahan bersama para anggota sekte sesat itu. Katanya tak tahu siapa pemimpin sekte yang aku tanyakan." Kata Mas Adit diseberang telepon sana.


"Sudahlah Mas, biarkan saja dia mau mengaku atau tidak. Nanti malam kita akan membuktikan nya sendiri. Tapi ada masalah baru Mas. Baru saja Om Dewa menghilang dari rumah utama. Kami tidak tahu kemana dia pergi. Sepertinya ada yang sengaja membawanya. Dan kami mencurigai seseorang!"


"Kalian lakukan saja yang terbaik, pantau orang itu. Dan nanti malam, salah satu dari kalian harus ikut penggerebekan. Dan harus ada satu orang yang mantau orang yang kalian curigai. Kau tahu maksud ku kan Ran?"


Aku mengakhiri panggilan telepon itu. Dan memikirkan ucapan Mas Adit. Sepertinya, salah satu dari kami memang harus tetap bersama Heni untuk menyelidikinya.


"Jangan terbawa dendam Mbak. Apa lu mau jadi kayak Tante Ajeng? Ntar jiwa lu akan dipenuhi kemarahan, lalu Calon Arang bisa memanfaatkan jiwa dan raga lu buat perbuatan jahat. Biar saha polisi yang akan menegakan keadilan."


Tak ada jawaban dari Mbak Ayu, ia hanya menundukkan kepala dengan mata berkaca-kaca. Aku pun mengalihkan pembicaraan, jika setelah penggrebekan ini, aku akan pulang ke Desa bersama Papa.


"Loh kok mendadak sih Ran? Ntar gue sama siapa dong?"


"Bentar aja kok Mbak, ini emang mendesak banget. Gue harus dampingi Wati di acara pernikahan nya."


"What! Wati beneran jadi nikah sama keturunan orang yang melakukan pesugihan itu?" Mbak Ayu membulatkan kedua matanya dengan menggelengkan kepala.


"Iya Mbak. Mama udah berusaha semaksimal mungkin buat gagalin pernikahan itu. Tapi gak ada yang bisa dilakukan lagi. Sepertinya keluarga dari pihak lelaki sengaja menjebak keluarga ku. Wati harus mengorbankan masa depannya, karena itulah gue mau dampingi dia melewati masa sulitnya."


"Yang sabar ya Ran, gue paham perasaan lu. Tolong sampaikan salam gue ke Wati, dan maaf gue gak bisa datang ke acaranya."


"Santai aja Mbak. Gue rasa juga Wati gak mengharapkan kehadiran banyak orang. Dia akan semakin sedih melihat kedatangan banyak orang yang mengenalnya."


Setelah obrolan panjang lebar, kami bergantian mandi lalu bersiap pergi ke kedai kopi Starbeck. Heni sudah menunggu di depan kamarnya, dia membawa tas laptop dan mengatakan akan melakukan webinar di kedai kopi saja.


"Gue pikir-pikir enak juga Mbak nongkrong sambil webinar. Pasti wifi nya kenceng dan lancar. Jadi kita bisa pulang agak malaman." Celetuk Heni bersemangat.


Aku dan Mbak Ayu hanya tersenyum menanggapi ucapan Heni. Lalu pergi bersama setelah taksi online datang.


"Eh iya Mbak, tadi siang Leni sempat mampir ke kost loh. Dia juga yang ngasih tahu gue, kalau ada suara benda yang jatuh dari dapur rumah utama. Dia datang cuma buat minjam buku catatan sih, katanya dia mau buat materi tugas dari dosen. Padahal setahu gue, dia udah nulis materi itu. Tapi kenapa dia pinjam catatan gue ya. Mana datangnya di antar saudara nya lagi. Emang kalian gak ketemu Leni di depan?" Tanya Heni seraya menyenderkan kepala di jok.


"Kapan dia datang? Kok tadi lu gak cerita Hen?" Sahut ku dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Tadi itu loh Mbak, sebelum lu piting tangan gue. Si Leni baru aja pamit, dan ngasih tahu gue kalau ada suara berisik di belakang. Dia minta gue periksa, takutnya ada maling."


Mbak Ayu makin penasaran, apakah Heni berkata yang sebenarnya. Karena aku dan Mbak Ayu sama-sama tak melihat kedatangan Leni. Lalu Heni menjelaskan, jika Leni datang di antar saudaranya naik mobil warna putih. Dan mobil itu pergi sebelum Leni pulang.


"Gue ngobrol sama Leni di dalam kamar, dan gue denger suara mesin mobil. Pas gue intip dari jendela, ada mobil putih di depan pagar. Gue tanya tuh sama Leni, katanya dia di antar saudaranya. Tapi gak lama Leni pamit pergi, karena gue udah kasih buku catatan. Pas gue masih dengerin lagu sambil bersenandung, tiba-tiba Leni gedor-gedor pintu. Minta gue periksa ke dapur rumah utama, katanya ada suara benda yang jatuh. Pas gue periksa, gak tahu nya Mbak Rania tiba-tiba piting tangan gue dari belakang. Duh kirain yang miting tangan gue beneran maling tahu Mbak!" Pungkas Heni menghembuskan nafas panjang.


Aku terdiam sesaat setelah mendengar penjelasan Heni. Apakah aku dan Mbak Ayu sudah salah menilainya. Atau jangan-jangan memang Leni dalang dibalik hilangnya Om Dewa. Atau ini hanya pengalihan yang dilakukan Heni, supaya kami tak mencurigainya. Isi kepala ku penuh dengan tanda tanya besar. Entah siapa yang harus ku percaya, aku hanya menundukan kepala berusaha mencari jawaban atas berbagai pertanyaan yang ada di kepala ku.