Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 52 ANCAMAN CALON ARANG


Pak haji Faruk datang bersama beberapa warga lainnya untuk mendoakan Mbah Karto. Kami semua sudah pasrah pada Yang Maha Kuasa, entah bagaimana nanti keadaan Mbah Karto. Terlihat anak cucu Mbah Karto berdatangan dari Kota, mereka semua hanyut dalam kesedihan.


Tiba-tiba Pak haji Faruk memanggilku, wajahnya nampak sendu dengan mata berkaca-kaca.


"Rania Mbah Karto sudah sadar ketika kami sudah mendoakan nya. Beliau ingin bicara denganmu, masuklah sudah ada Mbah Darmi di dalam."


"Tapi Pak haji, Mbah Karto akan baik-baik saja kan? beliau akan sembuh seperti sedia kala?"


"Tak ada seorang pun dari kita yang tahu bagaimana kondisi Mbah Karto kedepannya. Kita hanya bisa berharap dan berdoa saja, lekaslah masuk ke dalam."


Aku berjalan tertatih masuk ke kamar Mbah Karto. Nampak beliau terbaring lemah di atas ranjang, tangan nya bergetar ingin melambaikan tangannya padaku. Segera aku berlari mendekatinya, ia membelai rambutku dengan senyum simpul nya.


"Nduk, tubuh tua ku sudah sangat lelah. Sudah terlalu lama perjalanan hidupku di dunia ini. Jika sewaktu-waktu jiwa ini meninggalkan raga, tolong jaga dan lindungi Mbah Darmi sebisamu. Lanjutkan perjuangan ku di jalan kebaikan, gunakan bakatmu sebaik mungkin. Kelak kau akan banyak membantu orang-orang sama seperti ku dan juga Jarwo. Belajarlah dari Jarwo bagaimana caranya mengasah bakatmu, supaya kau dapat melindungi dirimu sendiri dan orang-orang di sekitarmu." ucap Mbah Karto lirih dengan nafas tersengal-sengal.


Aku hanya terisak dengan menggenggam tangan Mbah Karto. Mbah Darmi pun hanya bisa menangis lalu memeluk suaminya itu. Kedua anak Mbah Karto ikut hanyut dalam duka. Ku yakinkan pada Mbah Karto, jika ia harus kuat dan pulih kembali karena masih banyak orang yang membutuhkannya.


"Mbah Karto harus sehat kembali ya, Rania mohon huhuhu. Kami semua sangat membutuhkan bimbingan dari Mbah Karto. Kalau bukan Mbah Karto yang melindungi kami semua, bagaimana kami dapat menyelesaikan berbagai masalah nantinya."


"Nduk." Mbah Karto terbatuk sebelum menyelesaikan ucapannya.


"Raga ini sudah tak mampu bertahan lebih lama lagi. Meskipun nanti aku tiada, jiwa ku akan selalu menjaga kalian semua. Kau masih bisa bertemu dan melihatku ketika kau ataupun semuanya dalam bahaya besar. Ingatlah Rania, tak ada manusia yang abadi di dunia ini. Meski jasadku akan tiada, jiwa ini akan selalu bersama kalian sampai waktunya tiba, kau akan mandiri dan mampu mengendalikan kekuatan mu. Saat itulah jiwaku baru benar-benar pergi ke alam keabadian."


Mbah Karto berkata padaku, jika sebentar lagi Mbak Ayu akan kembali. Beliau memintaku untuk selalu berada di dekatnya, supaya ia tak terpengaruh bisikan jahat dari Calon Arang.


"Kau membawa aura cerah dalam kehidupan ini, sementara Dahayu terpengaruh aura gelap. Kau harus selalu menyadarkan nya akan kebaikan, supaya ia tak terhasut bisikan jahat dan terpengaruh untuk membalaskan dendam. Saat ini ja sudah mengetahui segalanya tentang keluarga nya. Dia benar-benar marah, dan bisa saja mencelakai keluarganya sendiri. Hanya itu yang bisa ku katakan padamu Nduk, aku sudah lelah saat ini. Biarkan aku beristirahat dengan tenang, rasa sakit yang menggerogoti tubuhku tak bisa lagi ku tahan."


Kami semua tertunduk dengan berderai air mata, tak dapat lagi ku tahan keinginan Mbah Karto. Sepertinya beliau benar-benar tersiksa menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Terdengar Mbah Darmi berbisik di telinga Mbah Karto, jika ia sudah ikhlas kalau suaminya itu ingin berpulang.


"Pulanglah ke pencipta mu Pak, kalau kau sudah lelah dan tak kuat menahan rasa sakit di tubuhmu. InsyaAllah aku sudah ikhlas, semua anak cucu kita juga sudah ikhlas melepaskan Bapak huhuhu." ucap Mbah Darmi berlinang air mata.


Nampak Mbah Karto hanya menyunggingkan senyumnya, ia kembali berkata jika Calon Arang akan datang membawa angkara murka.


"Ber bersiiiaaplaaah Nduuk malapetaka akaan se segeeraa dimulaaii."


"Mbah Karto huhuhu, kenapa Mbah pergi dan membiarkan ku menghadapi masalah ini sendiri." aku terus menangis dengan berlutut di tanah.


Perlahan Mbah Karto melesat ke arahku, beliau berdiri mengambang dan menyunggingkan senyumnya.


"Apa bedanya untukmu Nduk? kau masih tetap bisa melihat dan berbicara denganku kan. Hanya ada sedikit perbedaan saja, untuk sekarang aku harus pergi menemui Sang Pencipta. Kelak ketika kau benar-benar membutuhkan bantuanku, aku akan datang untuk menolongmu." ucap Mbah Karto seraya melesat pergi entah kemana.


Aku menangis sesegukan, lalu Wati datang memelukku. Rupanya ia tahu jika tadi aku berkomunikasi dengan roh Mbah Karto. Nampak Mbak Ayu bersama Pak Jarwo keluar dari ruangan khusus, keduanya terkejut melihat tubuh Mbah Karto sudah dikerumuni banyak orang.


"Inalillahi wainnailaihi roji'un." ucap Pak haji Faruk dengan menundukan kepalanya.


Mbak Ayu terlihat sangat terkejut, ia berdiri sempoyongan lalu jatuh ke lantai. Pak Jarwo berusaha menenangkan Mbak Ayu, dan mengatakan padanya untuk berlapang dada, karena semua ini sudah takdir Maha Kuasa.


"Semua ini terjadi karena keluargaku Pak huhuhu. Seandainya mereka tak membuat ibu mengakhiri hidupnya, maka kalian semua tak perlu terlibat dengan masalah ini." kata Mbak Ayu tertunduk dengan perasaan bersalah.


Aku menghampiri mereka dan ikut memberi penjelasan pada Mbak Ayu. Jika semua ini bukan salahnya, melainkan sudah kehendak Yang Maha Kuasa.


"Jika bukan karena masalah ini, pada akhirnya Mbah Karto juga pasti akan berpulang ke Pencipta nya Mbak. Jangan terbawa perasaan bersalah, karena lu gak bersalah dalam hal ini. Kita hanya perlu ikhlas, supaya perjalanan Mbah Karto ke alam keabadian dapat berjalan lancar."


"Gue gak bisa tinggal diam Ran, karena ulah orang-orang itu semua orang yang gak bersalah menjadi korban!" seru Mbak Ayu dengan mengepalkan kedua tangannya.


Terasa aura Mbak Ayu berbeda, ia terlihat sangat marah. Teringat pesan terakhir Mbah Karto, jika Mbak Ayu akan berubah setelah kedatangannya nanti. Rupanya ini yang dibicarakan beliau, ku genggam tangan Mbak Ayu untuk menenangkan nya.


"Mbak jangan marah lagi ya, sekarang waktunya kita memberikan penghormatan terakhir untuk almarhum Mbah Karto. Yang terjadi sudah terjadi, kita tak perlu terbawa dendam. Karena dendam gak akan menyelesaikan masalah, lu akan terus terjerumus ke masalah yang sama berulang kali."


Tak ada jawaban dari Mbak Ayu, entah apa yang ia pikirkan saat ini. Mbak Ayu hanya diam lalu duduk di samping jenazah Mbah Karto, ia menengadahkan tangannya memanjatkan doa. Aku ingin sekali bertanya pada Pak Jarwo, mengenai apa yang telah terjadi pada Mbak Ayu setelah kepergian ku dari alam Mangrahi. Namun saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahasnya, kami semua sedang berduka. Dan sama-sama terguncangnya karena kepergian Mbah Karto untuk selamanya.


...Bersambung. ...


Yang suka bacaan ringan, gak muluk-muluk dengan tema CEO bisa baca novel othor yang ini ya 😄