Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 53 ANCAMAN CALON ARANG


Semua warga berbondong-bondong mengantarkan jenazah Mbah Karto ke tempat peristirahatan terakhirnya. Semua orang larut dalam kesedihan, taka ada satupun dari warga yang terlihat baik-baik saja. Karena selama hidupnya Mbah Karto selalu mengabdikan dirinya untuk kemakmuran Desa itu. Tak ada satupun masalah yang tak diselesaikan Mbah Karto, karena itulah semua warga sangat kehilangan sosok panutan mereka. Terutama aku, yang memiliki begitu banyak hutang budi pada almarhum Mbah Karto.


"Rania kau jangan bersedih lagi, perjalanan Mbah Karto akan terhambat dengan tangisan orang sebanyak ini." ucap Malik yang baru saja melesat di sampingku.


"Apakah kau selalu mengikuti Rania kemana-mana?" tanya Mbak Ayu mendatangi kami.


Rupanya Mbak Ayu benar-benar berubah, ia menjadi pribadi yang lebih pemberani. Sekarang ia mulai terang-terangan menyapa Malik. Sengaja ku biarkan mereka berkomunikasi, supaya Mbak Ayu lebih terbiasa lagi dengan bakatnya itu.


Acara pemakaman sudah selesai, beberapa warga sudah kembali. Dan beberapa masih ada yang bertahan untuk mendoakan Mbah Karto. Nampak Pak Jarwo sedang berdiri menatap langit yang agak mendung.


"Lihatlah Nduk, semesta seakan ikut berduka atas kepergian Mbah Karto. Mulai sekarang tanggung jawabku akan lebih besar. Kau pun juga harus belajar mengasah bakatmu, ingatlah pesan terakhir Mbah Karto, ia tahu sebenarnya kaupun memiliki bakat yang terpendam. Karena sebenarnya ada kekuatan yang tersimpan di dalam dirimu. Perbanyak lah beribadah supaya Allah memberikan petunjuk, bagaimana caranya kau dapat menggunakan kekuatan tersembunyi itu. Selain itu aku akan membimbingmu, tapi tugasmu kali ini lebih berat dari sebelumnya. Sebisa mungkin aku akan terus memantaumu dari jauh, besok temanilah Ayu kembali ke Jakarta. Aku hawatir dia akan segera menuntut balas pada orang-orang yang telah membuat ibunya mengakhiri hidup."


Penjelasan Pak Jarwo membuatku bingung, kekuatan macam apa yang ia maksud. Mbah Karto juga mengatakan hal yang sama, lantas kapan aku akan mengetahui kekuatan tersembunyi itu. Dan siapa orang-orang yang dimaksud itu, orang yang telah menghasut Bu Wayan mengakhiri hidupnya.


"Kapan Rania bisa menggunakan kekuatan tersembunyi itu Pak? dan siapa orang-orang yang dicari Mbak Ayu?"


"Kekuatan itu akan muncul dengan sendirinya disaat yang tepat, aku hanya perlu membimbing mu melakukan amalan-amalan tertentu. Dan mengenai orang-orang yang dicari Dahayu, kau akan segera mengetahuinya. Kalau kau mampu hentikan Dahayu membalaskan dendam. Karena itu hanya akan semakin membuatnya terikat dengan ilmu sesat yang sudah menurun padanya. Dahayu yang bersama kita sekarang bukan orang biasa lagi, ia bisa mencelakai siapapun yang tidak ia sukai. Tapi ia juga menolong siapapun yang ia mau, itulah perbedaan nya. Semua tergantung dari niat orang itu sendiri, bagaimana ia akan menggunakan ilmu nya."


Setelah berbicara dengan Pak Jarwo, kami semua kembali ke rumah. Mbak Ayu sudah mulai mengemasi pakaiannya, aku mengatakan ingin pulang bersamanya.


"Loh kalian kenapa buru-buru sekali pulangnya? gak mau nunggu beberapa hari dulu?"


"Gak bisa Bude, Dahayu ada rapat penting dengan para guru."


"Ehm... Rania sudah terlalu lama libur Bude, gak enak sama Mbak Rika. Apalagi Agus pasti kerepotan menggantikan semua pekerjaan ku."


Tanpa ku sadari Mbak Ayu membulatkan kedua matanya dengan tangan mengepal, ia terlihat menahan amarah. Ku genggam tangan Mbak Ayu, dan menyunggingkan senyum paday.


"Mbak Ayu kenapa? jangan dengerin bisikan jahat itu lagi ya Mbak."


"Gue gak apa-apa kok. Dahayu permisi keluar sebentar ya Bude."


Ku lihat Mbak Ayu berjalan ke kebun belakang rumah. Ia berteriak kencang memaki seseorang yang tak ku tahu siapa.


"Aaakh... Lihat saja akan ku buat hidup kalian menderita!"


Tangan Mbak Ayu bergerak seperti orang yang sedang menari, disetiap hempasan tangannya keluar suar cahaya hitam, dan ketika ia menyentuh batang pohon yang ada disana seketika pohon itu langsung layu dan mengering dengan cepat. Seakan sumber kehidupan nya terserap habis di tangan Mbak Ayu. Aku menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang ku lihat. Mbak Ayu memantulkan kekuati ke berbagai arah, sampai ia berbalik ke arahku dan mengarahkan suar cahaya hitam itu ke arahku. Seakan kakiku terpaku di tempat, aku tak dapat mengelak.


Whuuus.


Bruugh.


"RANIAA." pekik Mbak Ayu terkejut.


Aku terbatuk karena asap putih yang keluar dari kekuatan Mbak Ayu. Malik melesat ke arah Mbak Ayu dan memarahinya.


"Jika kau ingin mencelakai Rania, kau akan berurusan denganku. Jangan pernah gunakan kekuatan mu untuk menyakitinya, camkan ucapanku baik-baik!" seru Malik dengan membulatkan kedua matanya.


Nampak Mbak Ayu hanya diam dengan menundukkan kepala nya. Ia menghampiri ku lalu meminta maaf.


"Sorry Ran, gue gak ada maksud nyakitin lu. Gue gak bisa nahan amarah saat lu nyebut nama orang itu. Gak tahu kenapa gue jadi gak bisa ngendaliin emosi huhuhu." ucap Mbak Ayu menangis seraya memeluk ku.


Aku memeluk Mbak Ayu dan berusaha membuatnya tenang. Entah kenapa Mbak Ayu yang sekarang jadi mudah tersulut emosi, mungkin karena ia sudah menerima kekuatan sebagai sang penerus ilmu Leak itu.


"Siapa yang lu maksud Mbak? siapa yang gue sebut dan bikin lu marah?"


"Agus." kata Mbak Ayu dengan menghembuskan nafas panjang.


Aku tercengang begitu mendengar nama Agus disebut. Mungkinkah orang yang satunya lagi adalah Tante Ajeng. Karena Mbak Ayu selalu menyebutkan orang-orang, bukankah itu berarti lebih dari satu orang.


"Lantas siapa orang lainya yang lu tahu Mbak?"


"Itulah yang bikin gue marah, karena gue belum tahu satu orang lagi itu siapa."


"Mungkin gak sih Mbak perempuan yang ditemukan mati di gorong-gorong itu orang yang lu cari? secara dia kan yang bawa pergi potongan kepala Bu Wayan."


"Gak Ran. Bukan perempuan itu pelakunya. Ia hanya diperintah untuk membawa pergi kepala itu, dengan iming-iming dijadikan pemangku ritual. Ada pelaku lain yang bersembunyi di balik perempuan itu dan juga Agus. Dia makai penutup kepala, jadi gue gak bisa dengan jelas ngelihatnya. Makanya gue harus kasih Agus pelajaran, biar dia ngaku siapa orang yang bersama dia saat itu."


"Tapi darimana lu tahu itu Mbak?"


"Gue bertemu Calon Arang, dia ngasih penglihatan itu ke gue. Tapi sayangnya Calon Arang itu gak mau ngasih tahu gue siapa orang yang bersembunyi dibalik penutup kepala itu. Dia hanya mau ngasih tahu gue, kalau gue bisa ngasih persembahan jiwa manusia untuk santapan nya. Dan gue gak sejahat itu buat ngasih nyawa orang begitu aja Ran. Makanya gue mau cari tahu sendiri melalui Agus. Bagaimanapun dia juga terlibat, dia ngelihat semua kejadiannya. Tapi Agus pura-pura gak tahu apa-apa, itu yang bikin gue makin kesel Ran. Gue akan bikin perhitungan dengan Agus!" seru Mbak Ayu dengan deru nafas yang tak beraturan.


...Kira-kira siapa orang yang bersama Agus waktu itu ya. Hanya ada satu orang yang belum diketahui identitas nya oleh Mbak Ayu. ...


...Bersambung. ...