
Terdengar suara Mbak Rika yang bergetar dengan memegang kencang pundak ku. Ia mengaku melihat sosok kuntilanak merah di depan mobil yang kami tumpangi. Dan begitu ia menoleh ke belakang, ia malah melihat sosok Petter yang sedang bersembunyi di balik jok tempat duduknya. Seketika Mbak Rika terkulai lemas, sepertinya ia terlalu shock dan tak sadarkan diri. Tak menunggu lama, aku turun dari mobil dan berhadapan langsung dengan merah. Awan yang semula terang mendadak gelap, gemuruh mulai terdengar menambah suasana mencekam. Merah mengeluarkan kuku panjang dan hitam, ia arahkan tepat ke dada ku. Sontak saja aku menghindar, dan menepis tangannya. Ternyata kali ini merah benar-benar ingin mencelakai ku. Apakah kali ini Bu Kartika memintanya untuk menghadapi ku secara langsung.
"Kalau berani jangan di dimensi lain dong. Apa kau takut menghadapi ku di alam manusia?" Kata ku seraya berkacak pinggang.
Merah hanya menyeringai dengan sorot mata yang tajam. Ia menjulurkan lidah nya menyentuh pergelangan tangan ku. Seketika tangan ku terasa sangat panas dan melepuh mengeluarkan asap. Tak lama setelah itu Petter melesat menghampiri ku, ia mencemaskan keadaan ku sehingga membuatnya berani berhadapan langsung dengan perempuan jelek yang biasanya selalu ia takuti.
"Rania... Apa kau kesakitan? Lihatlah tanganmu terluka. Dia benar-benar jahat, aku tak mau takut lagi padanya. Ayo kita kalahkan dia bersama, supaya kita bisa kembali ke alam manusia!" Seru Petter membulatkan kedua matanya, menatap merah dengan amarah besar.
"Apa kau yakin ingin membantu? Kau tak takut lagi padanya?"
"Nee. Aku adalah anak pemberani, dulu saja waktu Nipon membunuh ku, aku sama sekali tak menangis. Ayolah Rania, gunakan kekuatan mu. Kita buat perempuan jelek itu terluka!" Seru Petter seraya menggenggam tangan ku.
Aku menahan rasa sakit di pergelangan tangan. Kemudian duduk dengan menyilangkan kedua kaki, ku tengadahkan tangan ke atas seraya membaca doa memohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa. Kemudian ku genggam tasbih dengan membacakan ayat-ayat suci, semakin lama tasbih itu mengeluarkan aura hangat. Dan mengeluarkan cahaya putih berpendar, ketika ku buka kedua mata. Nampak sosok merah menghalangi pandangan matanya, karena kesilauan tasbih yang ada di tangan ku. Petter berteriak padaku untuk melemparkan tasbih itu ke arah merah. Karena menurutnya tasbih itu bisa melukai merah.
"Cepat Rania, sebelum dia melarikan diri. Aku yang tak jahat saja tak tahan berada di dekat benda yang kau pegang itu. Panas Rania! Cepatlah lemparkan benda itu padanya!" Jerit Petter yang menutupi kedua matanya dengan tangan.
Sekali lagi ku bacakan ayat kursi sebelum ku lemparkan tasbih itu tepat ke arah merah. Tapi merah terlanjur melesat ke udara, beruntung nya tasbih itu berhasil menyentuh kaki nya. Terdengar merah berteriak memekik kesakitan, karena kaki nya terlilit tasbih yang memancarkan suar keemasan. Dan asap putih keluar dari dalamnya. Nampaknya tasbih itu telah menggerogoti jiwa merah secara perlahan. Telapak kaki nya perlahan hilang menjadi abu, tapi ia masih saja berontak untuk melarikan diri. Tak mau tinggal diam begitu saja, aku melepaskan liontin pemberian pangeran jin muslim dan membacakannya doa-doa. Tapi nampaknya merah melakukan perlawanan, ia membelah dirinya dan membiarkan sebagian kaki nya musnah terlilit tasbih. Ia melarikan diri dari hadapan ku, dan tak tau pergi kemana.
"Alhamdulillah." Ucapku seraya menghembuskan nafas panjang.
"Rania... Ambil kembali benda itu, aku kepanasan juga Rania... Tolong aku tak tahan lagi!" Jerit Petter dengan peluh yang membasahi seluruh tubuh hampa nya.
Astaga. Ternyata Petter juga terkena imbasnya, segera ku ambli kembali tasbih yang masih melayang di udara. Nampak sebagian kaki merah sudah hancur menjadi abu. Apakah setelah ini merah masih akan berusaha mencelakai ku lagi. Ah terserah dia saja, toh aku sudah bisa melindungi diriku sendiri. Jadi tak masalah jika ia akan kembali membuat masalah.
"Petter. Apa kau baik-baik saja?" Tanya ku seraya menyimpan kembali tasbih ke dalam saku celana.
Petter menghambur memeluk ku, ia menangis sesegukan melihat luka di pergelangan tangan ku.
"Aku gak apa-apa kok. Ini hanya luka kecil, yuk kita balik lagi ke alam manusia. Setelah kita kembali, aku akan mengobati luka ini. Kau tak usah cemas lagi!"
"Kau tau kan aku hanya hantu kecil yang tak mempunyai banyak kekuatan. Dari dulu aku hanya mencoba melindungi mu, tapi aku tak bisa membantu mu mengalahkannya." Kata Petter tertunduk penuh kesedihan.
"Kau salah Petter, kau hanya belum mampu mengeluarkan kekuatan yang sesungguhnya. Tapi kau sudah sering menyelamatkan ku, bahkan dulu kau mengorbankan diri sampai harus jadi demit peliharaan Mbah Wongso. Untung saja Mbah Karto segera melepaskan mu waktu itu. Makanya jangan berkecil hati, kau itu sahabat terbaik yang pernah ku miliki." Kata ku seraya memeluknya.
Tak lama ia menyunggingkan senyuman kembali. Ku ajak Petter masuk ke dalam mobil dan membangunkan Mbak Rika yang masih tak sadarkan diri. Ku minta ia untuk duduk di belakang, supaya dapat merebahkan tubuhnya. Kali ini ia masih bisa melihat sosok Petter dan ketakutan seraya memelukku. Ku yakinkan Mbak Rika, jika Petter bukanlah hantu jahat. Dan setelah kami meninggalkan dimensi lain ini, ia tak akan bisa melihat Petter lagi. Jadi ku ambil alih kemudi, dan membaca doa sebelum mengemudi. Ku awali perjalanan dengan bacaan basmallah, lalu mengemudi kembali mencari jalan yang benar. Di belakang sana, nampak Mbak Rika meringkuk karena takut melihat sosok Petter berada di samping ku. Aku hanya bisa terkekeh melihat tingkah Mbak Rika. Sampai akhirnya samar-samar aku mendengar suara adzan masjid. Ku ikuti suara itu sampai akhirnya aku berada di tengah-tengah kemacetan setelah menembus asap tebal yang tak ku tahu berasal darimana. Akhirnya aku dapat bernafas lega, karena kami sudah kembali ke alam manusia. Terdengar suara nafas berat Mbak Rika, sepertinya ia sudah tertidur. Sengaja tak ku bangunkan supaya ia bisa menenangkan dirinya setelah melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Triiing triiing triing.
Terdengar suara ponsel yang berbunyi berkali-kali. Karena penasaran aku menepikan mobil di tepi jalan. Terlihat beberapa panggilan tak terjawab dari Pak Bos Besar. Aku mengaitkan kedua alis mata, penasaran kenapa ia menghubungi ku berkali-kali. Aku baru sadar ternyata sekarang sudah hampir magrib, padahal kami hanya tersesat selama beberapa jam saja. Ku putuskan untuk menghubungi Pak Bos kembali, tapi panggilan ku masih belum dijawab olehnya. Tak lama setelah itu Mbak Rika terbangun, ia melihat ke segala arah dengan nafas yang berderu kencang.
"Ki kita dimana Ran? Dimana para hantu itu?" Tanya nya ketakutan.
"Gak ada kok Mbak, lu hanya mimpi aja kali." Jawabku tak mengatakan sebenarnya.
Mbak Rika hanya diam dan melihat kembali ponselnya. Kemudian ia menghembuskan nafas panjang, dan mengatakan jika lokasi kami sudah terdeteksi di Google Maps. Tapi tiba-tiba raut wajahnya berubah kebingungan, ia menggaruk kepala nya dan memijat pangkal hidungnya.
"Loh Ran, ini hari apa sih?"
"Hari rabu kan Mbak. Emangnya kenapa sih?"
"Kok di hape gue sekarang udah hari kamis sih? Apa hape gue rusak ya?" Nampak raut wajah Mbak Rika kebingungan.
Karena merasa ada yang aneh, aku pun melihat ponsel ku. Dan benar saja, sekarang sudah hari kamis. Padahal sebelumnya memang masih hari rabu. Apakah kami tersesat di dimensi lain selama satu hari penuh ya, batin ku penuh tanya.