Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 264 FIRASAT BURUK PAK JARWO.


Malam ini suasana di Desa agak mencekam tak seperti biasanya. Bahkan suara binatang malam pun tak terdengar. Beruntungnya setiap malam warga selalu bergantian menjaga di pos hansip, karena memang sudah sejak lama kegiatan macam itu rutin diadakan. Pak Jarwo meminta ku untuk tak tidur sebelum jam tiga pagi. Karena ia memiliki firasat buruk, dan karena kondisinya yang masih lemah, ia tak bisa terjaga sepanjang malam. Jadi ia menyerahkan tanggung jawab itu padaku.


"Karena sekarang masih jam delapan, kau bisa tidur lebih dulu Nduk. Nanti jika sudah waktunya orang-orang tidur, kau harus bangun dan berjaga. Aku memiliki firasat buruk yang tak ku tau itu apa." Jelas Pak Jarwo melalui panggilan telepon.


"Sebenarnya ada apa lagi sih Pak? Bukannya sudah ada penangkal yang memagari sekeliling Desa?"


"Itu hanya berguna untuk menangkal sihir dan santet Nduk. Semoga saja tak ada hal buruk yang benar-benar akan terjadi. Semoga ini hanya firasat ku saja yang salah."


Aku mengikuti titah Pak Jarwo dan merebahkan tubuh sebelum semua orang memejamkan mata. Aku berpesan pada Wati untuk membangunkan ku jika ia sudah bersiap untuk tidur. Disaat aku tidur, aku melihat sosok Bening sedang menangis meminta tolong pada seorang perempuan paruh baya. Ia menangis mengiba dan perempuan yang mengenakan kebaya cokelat itu meratapi nasib Bening. Dan ia berjanji akan melakukan segalanya, untuk mengirimkan jiwanya kembali ke alamnya. Aku hanya dapat melihat punggung perempuan paruh baya berkebaya cokelat itu. Aku melangkahkan kaki berusaha menyentuh pundaknya, tapi tiba-tiba aku tersandung lalu terjatuh.


Bruuugh.


Kepala ku membentur lantai, dan membuatku kembali ke alam nyata. Ternyata tadi aku hanya bermimpi, dan melihat sesuatu yang janggal saja.


Kreaat.


Wati membuka pintu kamar, ia terbelalak melihat ku sedang tengkurap di lantai kamar. Ia membantu ku bangkit, dan duduk di pinggir ranjang.


"Kau jatuh ya Ran? Ini keningmu memar loh!"


"Duh jadi pusing nih kepala ku! Tadi tuh aku mimpi lihat jiwa si Bening, dia minta tolong ke seorang perempuan yang nampaknya gak asing di mata ku."


"Bening? Maksudnya si kembar cucunya almarhum Mbah Wongso?"


"Iya Wat, tapi anehnya kan aku kayak gak asing sama perempuan tua yang dimintai tolong Bening."


"Kayaknya bukan deh Wat, tapi gak tau juga sih. Soalnya kan aku belum pernah ketemu sama istrinya Mbah Wongso, tapi yang ku lihat tadi, aku merasa familiar dengan perempuan paruh baya itu. Meski aku hanya melihat dari belakang saja."


Aku dan Wati sama-sama diam mencari jawaban dari pertanyaan ku. Sampai akhirnya kami mendengar suara ramai-ramai dari luar rumah. Aku bersama Wati keluar dan melihat beberapa Bapak-bapak sedang berkeliling seraya menyebut nama seseorang.


"Ada apa Pak?" Tanya Wati berteriak dari teras.


"Ini istrinya Pak Wandi tiba-tiba menghilang dari rumah. Padahal dia sedang hamil besar, dan gak mungkin bepergian sendiri malam-malam begini. Tapi udah dicari kemana-mana gak ada, makanya Pak Wandi panik dan kami membantu mencarinya." Jawab salah satu warga yang terlihat sangat cemas.


"Jam segini keluar kemana Pak? Mungkin di sekitaran rumah aja kali." Sahut Wati mengaitkan kedua alis mata.


Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan firasat buruk Pak Jarwo tadi. Aku langsung mengambil jaket dan bergabung bersama Bapak-bapak. Ku minta Wati untuk istirahat saja di rumah, karena besok pagi semua warga pasti akan repot setelah menguburkan jasad Bening.


"Tapi kau gimana Ran? Kau pulang kan malam ini?"


"Kunci aja pintunya, aku tak bisa tidur sebelum jam tiga pagi. Nanti aku langsung shalat subuh di mushola aja, baru setelah itu aku pulang dan tidur bentar. Aku pergi dulu ya Wat." Jelasku sebelum melangkah pergi.


Aku menyarankan agar warga dibagi menjadi dua kelompok, supaya memudahkan proses pencarian. Mereka berpencar ke seluruh wilayah Desa, dan hanya satu kelompok saja yang bersamaku melakukan pencarian sampai batas Desa. Sebenarnya firasat ku jadi tak tenang setelah teringat pesan Pak Jarwo untuk terjaga sampai jam tiga pagi. Jangan-jangan memang ada sesuatu yang akan terjadi, tapi Pak Jarwo enggan mengatakan yang sebenarnya. Nampak Pak Wandi sangat sedih, ia berteriak histeris memanggil nama istrinya berulang kali. Mungkin lebih baik aku memberi kabar ini pada Pak Jarwo, supaya ia bisa melakukan pencarian melalui batinnya. Tapi belum sempat aku menghubungi nya, Pak Jarwo sudah lebih dulu menelepon ku.


"Nduk waspadalah, sepertinya Warto sudah turun tangan sendiri!" Ucap Pak Jarwo diseberang telepon sana.


Degh.


Jantung ku langsung berdetak tak beraturan, peluh membasahi seluruh tubuh ku. Apa semua ini ada hubungannya dengan Pakde nya Wening. Tapi bagaimana caranya ia melakukan nya, bukan sihir ataupun santet tak bisa menembus pagar gaib buatan Pak Jarwo. Atau mungkin kata turun tangan langsung itu, dia sendiri yang mendatangi Desa ini. Batin ku di dalam hati resah.