
Malam berlalu dengan cepat. Pagi itu, aku harus langsung pergi ke gedung tua bersama Beny dan Silvia. Aku menemui Bapak penjaga gedung untuk menyapa nya. Pekerjaan hari ini tak terlalu banyak, aku hanya diminta mengawasi Beny dan Silvia. Jadi aku menghabiskan waktu mengobrol dengan Pak Gun. Panggilannya Gundul, dan lebih sering dipanggil Pak Gun. Ia menjaga gedung itu sudah cukup lama, dan memang sudah terbiasa melihat sosok Endang. Sebelumnya ia selalu dipenuhi dendam, tapi baru kali ini Pak Gun melihat Endang dengan energi lain. Energi kasih sayang yang ditujukan pada Pak Darman.
"Sil! Jangan lewati garis kuning itu ya!" Aku berteriak mengingatkan nya.
"Perasaan kemarin gak ada garis kuning ini deh Ran."
"Pakai ruangan yang lain dulu aja Dek. Sementara ruangan itu jangan dipakai dulu, masih dalam penyidikan Polisi soalnya." Jelas Pak Gun, di tanggapi dengan anggukan Beny dan Silvia.
Dreet dreet dreet.
Ponsel di ransel bergetar, membuatku menghentikan obrolan ku dengan Pak Gun.
"Ran. Ada kabar buruk. Korban tak bisa terselamatkan, saat ini jenazah akan dibawa ke rumah duka." Jelas Mas Adit di seberang telepon sana.
Aku sangat terkejut mendengar kabar dari Mas Adit. Tak ku sangka, Pak Darman benar-benar tak bisa diselamatkan. Aku menoleh ke berbagai arah, mencari keberadaan sosok Endang. Ia tak nampak dimanapun, apa saat ini ia sedang mencari Pak Darman.
"Inalillahi wainnailaihi raji'un." Ucapku dengan menghembuskan nafas panjang.
Ku akhiri panggilan telepon itu, dan bertanya pada Pak Gun dimana keberadaan Endang saat ini. Karena ada kabar yang harus ia tahu mengenai Mas Darman tercintanya itu.
"Biasanya dia suka nangkring di pohon mangga belakang gedung ini. Apa lelaki yang dibawanya kemarin tak tertolong Dek?"
"Iya Pak. Jenazahnya saat ini akan dibawa ke rumah duka." Pungkas ku seraya menundukkan kepala.
Ternyata sosok Endang tak berada jauh dariku. Ia mendengar semua percakapan kami, dan kini ia menangis pilu. Meratapi kematian lelaki yang pernah dicintainya. Suara tangisan yang terdengar menyeramkan itu membuat Silvia ketakutan. Ia langsung menghentikan liputannya, begitu mendengar suara rintihan sendu Endang.
"Raniaaaa. Gu gue takuut!" Seru Silvia berlari ke arahku.
"Udah kok Ran. Ini juga lagi gue beresin semuanya. Eh Silvia malah ninggalin gue gitu aja!"
Ternyata suara rintihan sendu Endang masih terdengar. Bahkan Beny yang awalnya cuek, ikut larut dalam ketakutan. Akhirnya, kami memutuskan meninggalkan gedung itu. Aku berpamitan pada Pak Gun, dan mengatakan akan mengunjunginya kembali. Silvia dan Beny harus kembali ke kantor untuk melakukan editing. Dan aku langsung pergi ke rumah adik perempuan Pak Darman. Karena jenazahnya akan dibawa kesana. Ekor mata ku menangkap sekelebatan bayangan, ternyata itu adalah sosok Endang. Kenapa ia terus menunjukkan wajah sedihnya, padahal tujuannya membalas dendam sudah tercapai dengan begitu mudahnya. Ku acuhkan sosok itu, dan fokus pada layar ponselku.
"Rania. Gue gak bisa datang ngelayat. Tolong sampaikan ucapan duka cita dari gue ya, buat adiknya Pak Darman." Kata Mbak Ayu melalui pesan wassap.
Baiklah, aku hanya akan mengantarkan jiwa Pak Darman ke tempat peristirahatan terakhirnya. Kali ini, sosok Endang nampak kehilangan arah. Selama ini ia gentayangan membawa dendam yang membuat jiwa nya tak tenang. Tapi setelah kepergian Bu Narti dan Pal Darman, tak ada lagi dendam yang harus is bawa. Selamanya sosok Endang akan terus berada di dua dunia, karena ia meninggal dengan cara tak wajar. Semoga, ini terakhir kalinya aku bertemu dengannya. Karena sebenarnya aku tak suka berdekatan dengannya, karena energinya terlalu buruk dan akan membuatku tak berenergi.
Sesampainya di rumah duka, banyak orang yang memenuhi rumah itu. Rekan sesama ojol pun datang untuk melihat dan mengantarkan Pak Darman ke tempat peristirahatan terakhirnya. Sosok Endang melesat ke dalam rumah itu, ia melihat jiwa Pak Darman yang masih ada di sekitar raganya yang tak bernyawa. Aku mendengar obrolan kedua jiwa tanpa raga itu. Jika Pak Darman meminta maaf atas semua kesalahannya semasa hidup. Dan meminta keikhlasan hati Endang supaya membebaskan jiwanya dari rasa bersalah.
"Seharusnya. Aku tak mencampakkan mi begitu saja. Tapi semua sudah terjadi, biarkanlah jiwaku tenang di alam selanjutnya. Lupakan semua dendam yang tersimpan di hatimu Endang. Kau harus menebus dosa karena telah menggugurkan janin mu. Tapi aku akan berdoa, supaya kelak kau mendapatkan ampunan dari Tuhan. Setelah ragaku dikebumikan, jiwaku akan kembali ke alam keabadian. Aku beruntung sempat bertaubat sebelum ajal menjemput. Ingatlah kebaikan yang pernah kau miliki semasa hidup. Jangan ganggu manusia yang tak berdosa, itu hanya akan semakin menambah dosa mu." Ucap Pak Darman dengan mata berkaca-kaca.
"Aku menyesal melihatmu berakhir seperti ini Mas. Kau tak seharusnya tiada di tangan manusia-manusia berhati setan itu. Aku telah melupakan segalanya, dan berdamai dengan diriku sendiri. Aku akan menanggung semua dosa yang telah ku lakukan. Pergilah ke tempat yang seharusnya." Kata Endang menangis dengan suara rintihan yang menyeramkan.
Hampir semua orang ketakutan mendengar suara tangisan Endang. Tapi aku berhasil meyakinkan mereka, jika itu hanya perasaan mereka saja. Aku berbicara pada jiwa Pak Darman melalui batin, supaya ia memenangkan Endang, dan tak membuat semua orang ketakutan karena mendengar suara tangisan nya.
Semua orang mengiringi jenazah Pak Darman ke pemakaman. Nampak istri dan anak tunggal nya menangis tersedu-sedu. Aku dapat memahami duka keduanya. Setelah berpisah karena harus mencari nafkah di kota. Mereka dipertemukan hanya untuk berpisah selamanya. Dari kejauhan sosok Endang masih terus mengawasi prosesi pemakaman. Sampai akhirnya jiwa Pak Darman benar-benar mengilang bagaikan debu. Begitu raga nya di masukan ke dalam tanah, dan ditutup kembali. Sosok Pak Darman juga menghilang begitu saja. Semua sanak keluarga dan rekan dekat nya larut dalam duka. Tapi semua sudah terjadi. Belajar dari kisah Pak Darman dan juga Endang. Jika mencintai tak perlu berlebihan, dan menjaga batasan-batasan sesuai norma agama itu penting. Setelah berdoa di depan nisan Pak Darman, aku berpamitan pada semua orang. Ku langkahkan kaki meninggalkan pemakaman itu. Tiba-tiba seseorang menepuk pundak ku dari belakang. Ternyata istri Pak Darman yang mendatangi ku, ia mengejarku dan menyerahkan sesuatu padaku.
"Ini adalah surat yang di tulis almarhum suami saya. Ia pernah bercerita, jika dulu sempat memiliki hubungan dengan seseorang di masa lalu. Ia merasa bersalah karena telah mencampakkan nya. Tolong berikan surat ini padanya, meski saya tahu oa telah tiada. Bukankah kau bisa melihatnya? Minta jiwa perempuan itu untuk mengampuni suami saya. Biarlah ia beristirahat dengan tenang." Ucapnya dengan meneteskan air mata.
Entah aku harus berkata apa, karena sejujurnya jiwa Pak Darman sudah mengatakan segalanya pada Endang. Dan aku tak bisa berurusan lagi dengannya, jadi ku minta istri mendiang Pak Darman untuk meletakan surat-surat itu di dekat makam suaminya. Karena sosok perempuan yang ia maksud masih berada di sekitar sana.
Akhirnya aku dapat bernafas lega, karena menyelesaikan masalah Endang. Ia tak bisa mewujudkan impiannya untuk membalaskan dendam. Tapi semua kisah pahitnya sudah berlalu. Baik Bu Narti dan Pak Darman telah kembali ke rahmatullah, dan mengakhiri dendam berlarut itu.