Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 244 MENDUGA-DUGA?


"Bisa jadi sih Ran, tapi apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu sih? Kenapa Wening sampai menaruh dendam begitu?"


"Ceritanya panjang Mbak. Dan kayaknya ada beberapa kejadian yang gak gue tau di masa lalu. Karena gue lihat itu dari penglihatan batin yang tiba-tiba muncul. Waktu itu gue belum lama pindah ke desa, jadi gue belum kenal banyak orang termasuk keluarga Mbah Wongso. Jadi Mbah Wongso itu adiknya Mbah Karto, tapi mereka berbeda keyakinan. Yang satu mempraktikkan ilmu putih yang satunya lagi ilmu hitam. Nah awal kedatangan gue ke desa itu lah, gue mau ditumbalin sama Mbah Wongso. Beruntungnya ada Petter yang gerak cepat meminta pertolongan sama Mbah Karto. Jadinya gue selamat dari penumbalan itu, dan akhirnya semua warga desa tau kalau Mbah Wongso itu sebenarnya orang jahat. Saat warga desa mau ngusir Mbah Wongso dari desa, ternyata dia udah terlebih dulu melarikan diri entah kemana. Dan ternyata dari penglihatan batin itu, barulah gue tau kalau Wening bersama keluarga nya masih ada di dalam rumah itu. Semua warga desa datang dan merusak rumah Mbah Wongso. Beruntung nya keluarga nya berhasil kabur dari rumah itu. Dan keluarga itu adalah Wening bersama Paman dan Bibinya bersama satu anak balita. Mereka bersembunyi dibalik semak sampai keadaan aman. Lalu mereka mengasingkan diri keluar desa, sementara Mbah Wongso belum diketahui keberadaan nya pada waktu itu. Tunggu deh Mbak, feeling gue kok jadi gak enak ya." Kataku dengan mengaitkan kedua alis mata.


Aku masih diam dan memejamkan kedua mata. Aku memfokuskan pikiran, lalu memikirkan kembali semua yang terjadi di masa lalu.


Degh degh degh.


Jantungku berdetak tak beraturan, sepertinya aku sudah sangat lambat menyadari semuanya. Dari awal, Wening sudah menceritakan kisah hidupnya. Bahkan ia mengatakan ingin membalaskan dendam pada semua orang yang telah menghancurkan kebahagiaan keluarganya. Jadi itu artinya tak hanya almarhum Mbah Karto saja yang dibencinya. Tapi juga semua warga Desa Rasa Belatung yang telah membuatnya dan keluarganya pergi dari rumah mereka sendiri. Bahkan aku juga salah satu target pembalasan dendam nya.


"Lu kenapa Ran? Kok kayak terkejut gitu sih?" Tanya Mbak Ayu seraya mendekatkan kepalanya.


"Mbak kayaknya kita gak perlu memastikan ke Desa Watu Pocong deh. Gue udah yakin dengan semuanya, kalau si Wening itu emang cucunya almarhum Mbah Wongso. Meski dulu gue gak pernah kenal ataupun ketemu sama dia. Tapi gue yakin, kalau Wening tau betul siapa gue. Pasti dia berniat balas dendam ke gue bahkan mungkin gak hanya gue aja, tapi seluruh warga desa juga terancam keselamatannya. Gue takut Mbak, kalau Wening benar-benar membalaskan dendam ke semua warga desa. Karena disana udah gak ada siapa-siapa lagi yang bisa melindungi. Sementara Pak Jarwo juga sering bepergian, dan jarang ada di desa nya. Lalu siapa yang akan melindungi semua warga Desa Rawa Belatung?" Jawabku dengan deru nafas yang kencang.


"Terus apa yang akan lu lakuin sekarang? Gak mungkin juga lu langsung nuduh Wening, belum tentu dia bakal ngaku Ran. Bisa aja dia berkelit, dan gak mengakui faktanya."


"Itulah yang bikin gue bingung Mbak. Mungkin kalau gue diem dan pura-pura gak tau siapa dia. Gue bakal lebih mudah mantau dia. Karena dia itu suka banget ngomong blak-blakan, kalau dia gak suka atau mau ngelakuin apa."


"Tapi dia bisa nusuk lu dari belakang loh Ran! Nyatanya di kantor dia mau bersaing sama lu. Dia pengen kelihatan lebih unggul dari lu. Hmm bisa jadi dia sekongkol sama arwah kembarannya, dan ngambil Petter dari lu. Mungkin gak hanya Petter, tapi semua yang lu milikin. Baik itu karir, hubungan pertemanan ataupun masalah hati. Dan dia juga tetap mau membalas semua warga desa yang udah buat dia terusir dari rumahnya sendiri. Mending lu konsultasi aja sama Pak Jarwo, siapa tau beliau bisa kasih saran. Sebelum hal-hal yang buruk terjadi di desa lu!" Pungkas Mbak Ayu menyadarkan ku. Jika Beberapa hari yang lalu, Wati menghubungi ku dan menceritakan kejadian janggal yang terjadi disana.


Beberapa warga mendadak sakit, dan tiba-tiba saja meninggal dunia. Padahal mereka hanya demam biasa saja, jangan-jangan itu semua ada hubungannya dengan pembalasan dendam Wening. Apalagi dia pernah bilang, kalau Pakde nya juga memiliki kesaktian seperti Pak Jarwo. Jadi akan lebih memudahkannya untuk melakukan balas dendam. Astaga, apa yang harus aku lakukan jika semua dugaanku itu benar. Aku mengacak rambut kasar, karena frustasi memikirkan semuanya.


"Jadi Wening merasa di dzolimi sama warga desa, dan berniat membalas mereka semua? Kalau masalah mengenai Kakeknya gimana dong? Mbah Karto kan juga udah meninggal, masak dia mau membalas dendam juga?"


"Gak tau juga gue Mbak. Entah bagaimana cara gue berhadapan langsung dengan Wening setiap harinya. Gue curiga dia sengaja kerja di satu kantor yang sama kayak gue. Dia udah berniat jahat dari awal buat masuk ke circle gue."


"Ya udah Ran, lu coba hubungi Wati dulu. Tanya gimana keadaan di desa, takutnya kecurigaan kita emang bener. Dan semua warga desa terancam keselamatannya."


Aku menghubungi Wati berkali-kali tapi panggilan ku tak berdering sama sekali. Sepertinya tak ada sinyal di desa, atau ponsel Wati sedang tidak aktif. Ku tinggalkan pesan singkat, dan memintanya untuk segera menghubungi ku.


"Sabar Ran. Gue akan selalu ada di samping lu kok, apapun yang akan terjadi ke depannya."


"Thanks ya Mbak, kalau gak ada lu entah gimana gue ngadepin semua ini."


"Santai aja Ran. Jadi besok udah fiks ya, kita gak jadi ke desa si Wening kan?"


"Gak usahlah Mbak, gue masih bisa pantau dia langsung. Biar aja gue pura-pura begok gak tau apa-apa. Biar si Wening gak ngerasa terancam, dan dia bisa aja ceroboh ngelakuin sesuatu dan ninggalin jejak perbuatannya. Tapi gue bakal tetep konsultasi ke Pak Jarwo. Sekarang gue paham dengan pesan almarhum Mbah Karto, supaya gue gak cari tau apa yang ada di masa lalu. Mungkin beliau gak mau gue celaka, kalau sampai nekat datang ke desa Wening. Karena setiap perbuatan jahat, pasti akan terkuak dengan sendirinya. Semoga aja, semua warga desa baik-baik aja. Dan yang terjadi disana gak ada hubungannya dengan pembalasan dendam Wening."


Aku duduk dengan menyandarkan kepala ke dinding. Lagi-lagi di atas atap rumah ini ada beberapa demit yang beterbangan. Jangan-jangan demit itu suruhan Wening, yang diperintahkan untuk memantau semua kegiatan ku.