
Pagi itu aku agak terlambat pergi ke kantor. Dikarenakan aku terlalu mencemaskan Petter, sampai-sampai aku keteteran menyiapkan berkas yang harus ku bawa. Sesampainya di kantor, aku menunggu antrian orang yang sedang menantikan lift terbuka. Nampak Aunty Ivanna baru saja melesat dari lantai atas, ia memberi kabar jika Petter masih belum kembali. Dan tak biasanya dia menghilang terlalu lama seperti ini. Aku hanya menganggukkan kepala, dan meminta Aunty Ivanna untuk mencari Petter. Karena aku yang akan mengawasi Silvia di kantor. Tak lama setelah itu ia melesat pergi entah kemana, aku pun segera masuk ke dalam lift. Tapi pintu lift justru kembali terbuka karena ada seseorang yang menekan tombol dari luar. Nampak Wening tersenyum datar seraya menganggukkan kepala. Ternyata dia juga terlambat sama seperti ku, padahal dia masih magang disini. Tak ada obrolan di dalam lift, sampai kami sama-sama keluar di lantai lima.
"Lu tumben terlambat Ran?"
"Iya nih agak ribet tadi pagi. Btw lu tau darimana gue tumben terlambat? Emangnya lu sering merhatiin gue ya?" Tanya ku menatap Wening dengan serius.
"Lu kan terkenal di kalangan jurnalis, jadi gue sering lihat lu di omongin para staf. Dan gue tau lu gak pernah terlambat datang ke kantor, kalau gak datang ke kantor malah sering. Ya gak?" Jawabnya dengan menaikan alis mata.
"Hehehe iya juga sih Wen. Lu juga kenapa terlambat? Gak takut kena tegur Pak Arya? Dia itu itu orangnya emosional loh, hati-hati sama dia Wen!"
Wening terkekeh, ia menjelaskan sudah mendapat ijin dari Pak Arya supaya ia tak terkena masalah di kantor.
"Tadi gue harus mampir ke suatu tempat dulu. Ada sesuatu yang harus gue urus sebelum berangkat ke kantor. Mungkin mulai besok gue harus pergi lebih pagi, supaya gue gak terlambat lagi."
"Emang harus tiap hari lu berangkat awal? Gak capek gitu?"
"Gak lah, gue seneng udah mulai bisa dapetin apa yang gue mau dari dulu. Meski prosesnya lambat, seenggaknya gue bisa dapetin semuanya." Imbuhnya seraya berjalan ke meja kerjanya.
Dari belakang punggung ku, terdengar suara Mbak Rika yang berteriak memanggil ku berulang kali. Ia nampak tergesa-gesa berlari ke arah ku.
"Mana berkas yang gue minta kemarin? Gue mau pake presentasi nih!" Seru Mbak Rika dengan nafas tersengal-sengal.
"Eh iya sorry Mbak, gue terlambat datang nih. Lu pasti udah nunggu dari tadi, bentar gue ambil duli berkasnya di dalam ransel."
"Dih emang kampret lu Ran!" Celetuk Mbak Rika seraya mendorong pundak ku.
Segera ku ambil berkas di dalam ransel, lalu memberikannya pada Mbak Rika. Kemudian ia berlari ke ruang meeting dengan cepatnya. Silvia melambaikan tangan padaku, ia menceritakan kejadian semalam sewaktu ia membuatkan susu cokelat untuk Petter.
"Mau lu tungguin sampai kiamat juga gak bakal dihabisin lah Sil! Lha wong dia menikmati susunya dengan cara dihirup doang aromanya. Mana ada makhluk halus makan dan minum sesuatu. Mereka cuma menikmati suguhan itu ya dengan cara di hirup doang. Makanya makanan atau minuman yang disuguhkan untuk orang yang udah gak ada pasti gak akan ada rasanya. Kalau kita makan atau minum pasti rasanya hambar. Coba aja di kampung lu kalau ada syukuran buat orang yang udah meninggal, pasti makanan yang dikasih gak akan bisa buat lu kenyang. Ya karena udah dinikmati sama mereka duluan!" Jelasku seraya mengeluarkan barang-barang dari dalam ransel.
"Oh gitu ya Ran. Pantes aja waktu itu almarhum Kakek gue gak pernah mau makan apapun pemberian dari keluarga orang yang baru aja meninggal. Katanya masih bau mayat gitu, baru paham gue sekarang." Sahutnya dengan manggut-manggut.
Ada file masuk dari staf di bagian promosi, aku harus membantunya menyelesaikan laporan yang harus diberikan pada Pak Arya. Aku mulai fokus dengan layar komputer, dan mengerjakan laporan itu. Tak ku hiraukan orang-orang di sekitar, sampai fokus ku terpecah ketika mendengar suara orang yang sedang bersenandung. Nada lagu itu sering dinyanyikan oleh Petter, meski hanya suara senandung saja aku sangat mengenal nada lagu itu. Aku mendongakkan kepala mencari darimana sumber suara itu berasal. Orang-orang di dekatku sedang fokus di meja kerja nya masing-masing. Tak ada yang bersenandung disini, lantas darimana suara itu berasal. Aku bangkit dari tempat duduk, lalu berjalan ke depan. Dimana beberapa orang sedang mengantri di depan mesin fotocopy. Terlihat Wening sedang berdiri dengan mendekap setumpuk berkas seraya bersenandung kecil. Ku sentuh pundaknya dari belakang, Wening menoleh dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Ada apa Ran?" Tanya nya memiringkan kepala.
Reflek saja aku bertanya darimana ia tau irama lagu yang sedang ia senandungkan dari tadi. Nampak Wening langsung terkekeh mendengar pertanyaan ku. Mungkin baginya itu suatu hal yang lucu, tapi tidak buat ku. Karena selama ini aku hanya pernah mendengar lantunan lagu itu dinyanyikan oleh Petter. Bahkan Aunty Ivanna tak pernah menyanyikan lagu itu di dekat ku.
"Seriusan Wen! Lu tau lagu itu darimana?" Jawabku agak panik.
"Santai aja kali Ran, bentar ya gue fotocopy dulu."
Wening sedang sibuk memasukan beberapa lembar kertas ke dalam mesin fotocopy. Setelah itu ia menjelaskan padaku, jika ia mendengar lagu itu dari youtube. Katanya dia punya cita-cita ingin pergi ke Belanda, makanya dia sering mendengar lagu-lagu berbahasa Belanda, dan mencari tau budaya di Negara tersebut. Mendengar penjelasan nya aku hanya bisa menggaruk kepala yang tak gatal. Entah jawaban darinya masuk akal atau tidak, tapi aku tak bisa mengatakan apa-apa padanya. Sampai akhirnya Aunty Ivanna datang dengan berlinang air mata. Ia kembali dengan kesedihan, karena tak dapat menemukan keberadaan putra semata wayangnya. Wening meninggalkan tempat ini, lalu kembali ke meja kerjanya. Kemudian Aunty Ivanna mengatakan sesuatu yang membuatku hawatir.
"Rania jangan-jangan makhluk jahat yang mengincar temanmu telah berhasil menangkap Petter. Bukankah sebelumnya ia sudah berniat menangkapnya?" Pungkasnya membuat ku tercekat.
Seketika jantung ku berdetak tak karuan, jika itu sampai terjadi. Pasti saat ini Petter sedang sangat ketakutan, karena ia tak menyukai energi jahat dari makhluk itu.
"Bukankah semalam Aunty ada di sekitar Silvia? Apa Aunty gak merasakan kehadiran makhluk jahat itu?"
"Nee. Tak ada tanda-tanda kehadiran makhluk jahat itu. Bahkan hampir tak ada makhluk tak kasat mata yang bersliweran di dekat Silvia. Mungkin saja Petter sendiri yang keluar dari kamar Silvia. Dan Aunty tak menyadari jika Petter meninggalkan tempat itu. Pasti terjadi sesuatu setelahnya, dan Petter tak bisa kembali lagi. Jangan-jangan ada yang menghalangi nya untuk kembali. Aunty yakin pasti karena itu Rania!" Jelasnya berdiri mengambang dengan raut wajah sendu.
Aku mengaitkan kedua alis mata dengan menopang dagu. Aku sedang memikirkan apa yang sebenarnya terjadi malam tadi. Mungkinkah Petter menghilang karena makhluk yang mengincar Silvia, atau karena hal yang lainnya. Rasanya kepala ku mau pecah, kalau memikirkan hal itu lebih dalam lagi. Ku putuskan untuk kembali ke meja kerja, terlihat di ujung ruangan sana. Silvia sedang duduk di meja kerjanya dengan senyum menyeringai. Ia nampak seperti orang lain, jika sedang tersenyum dengan raut wajah seperti itu. Tak ku hiraukan dia lalu kembali ke meja kerja ku dengan perasaan yang campur aduk.