
Aku sudah sampai di depan komplek perumahan itu. Terlihat Mbak Ayu melambaikan tangannya.
"Mas udah turun sini aja, udah deket kok!" Kataku seraya menepuk pundak Mas ojol.
"Yakin kak disini aja, gak takut masuk sendiri ke dalam?" Tanya Mas ojol menghentikan laju motornya.
"Gak apa-apa Mas, itu ada teman saya kok. Mas nya baca bismillah dulu sebelum jalan lagi. Ntar takutnya Mas nya lagi yang diboncengin pocong nya!" Gurau ku menggoda Mas ojol.
"Lah kak! Jangan nakutin saya kayak gitu dong! Saya jadi gak berani pulang sendirian nih." Mas ojol kembali mengusap tengkuknya, lalu ia melihat bulu-bulu halus di tangannya yang meremang.
Mbak Ayu berlari mendatangi ku, ia penasaran karena aku masih saja mengobrol dengan Mas ojol ini. Dan ku ceritakan, jika Driver ojol itu takut dan ragu untuk pulang sendirian.
"Kalau Mas nya gak berani pulang, ya disini aja kalau gitu hehehe." Celetuk Mbak Ayu tersenyum melalui sudut bibirnya.
"Lah kak, mau pulang sendirian aja saya takut! Apalagi harus disini terus, gak berani ah kak. Gimana kalau saya nunggu kakak aja sampai pulang. Kan katanya kakak cuma bertamu, gimana kak, serius saya gak berani keluar komplek sendirian. Kakak sih tadi nakutin saya!"
"Ya udah, yuk langsung jalan aja Mas. Saya mau ke rumah yang cat nya warna biru muda itu ya." Jelasku seraya melangkahkan kaki bersama Mbak Ayu.
Kedua orang tua Vita sudah menanti kedatangan kami di teras rumah mereka. Sang ibu menangis pilu menceritakan kondisi anak tunggal nya. Sudah satu pekan lebih Vita kesulitan makan dan minum. Tubuhnya mulai lemah, dan usaha mereka membawanya ke Dokter tak merubah kondisinya.
"Satpam komplek sini pernah cerita ke suami saya, kalau anak saya itu di ganggu makhluk halus. Tapi beberapa orang yang ngakunya dukun udah kami datangkan. Tapi tak ada perubahan yang terjadi. Kami serasa di manfaatkan oleh orang-orang yang mengaku sebagai dukun itu. Nyata nya kondisi anak kami tak berubah, justru kesehatan nya semakin menurun."
"Kalau Bapak dan Ibu percaya jika Vita diganggu makhluk halus, seharusnya yang kalian cari adalah orang yang mengerti agama. Bukannya dukun yang tak mengerti apa-apa, Pak, Bu."
Mbak Ayu meminta ijin pada kedua orang tua Vita. Supaya kami dapat melihat kondisi Vita di kamarnya. Energi di rumah ini masih tak berubah, hawa dingin nya sangat terasa. Belum sampai di kamar Vita, aku dan Mbak Ayu terbelalak kaget ketika melihat segerombolan demit perempuan yang terlihat jahil. Salah satu dari demit itu mengeluarkan suara rintihan kesakitan. Lalu melesat melewati kami begitu saja. Semoga saja para demit itu tak mengganggu Mas ojol tadi, karena ia sedang duduk seorang diri di teras depan.
"Tuh Ran, lihat aja deh. Dia gak mau keluar dari tubuh Vita. Malah enak-enakan mager di ranjang. Mungkin dia sejenis pocong mager kali ya." Pungkas Mbak Ayu berbisik di telinga ku.
Kami sampai di sebuah kamar sederhana dengan cat berwarna merah muda. Nampak seorang gadis muda terbaring di atas ranjang. Sebenarnya secara kasat mata, yang sedang berbaring di ranjang bukanlah Vita. Melainkan sosok pocong dengan kafan bernoda darah. Sebenarnya aku paling tak suka melihat jenis demit satu ini. Dan aku lebih sering mengacuhkan keberadaan mereka. Karena wujud pocong selalu mengingatkan ku dengan kematian. Dan itu akan membuat batinku terluka, karena teringat kepergian orang-orang yang ku sayang.
"Mbak. Gue mau komunikasi dulu sama tuh pocong, tolong minta orang tua Vita tunggu diluar aja. Takutnya mereka shock lihat Vita bangkit dari ranjang ini." Bisik ku pada Mbak Ayu.
Setelah Mbak Ayu mengajak kedua orang tua Vita keluar dari kamar ini. Aku segera berkomunikasi dengan sosok yang paling tak ingin ku lihat.
"Keluarlah dari raga gadis ini, katakan padaku, apa yang membuatmu bersemayam dalam tubuhnya?"
Tak ada jawaban dari sosok itu. Sepertinya ia masih tetap bertahan di dalam tubuh Vita. Aku memejamkan kedua mata seraya memanjatkan doa pada yang maha kuasa. Ku bacakan ayat kursi di telinga Vita, dan membuatnya menjerit histeris.
"Kau mau keluar atau ku bacakan ayat-ayat suci Allah sampai kau hancur menjadi debu hah!"
"Ampun! Baiklah aku akan keluar dari tubuh gadis ini. Asal kau mau membantu ku, supaya jiwa ku tenang."
Whuuus.
Pocong itu melesat keluar dari tubuh Vita. Terasa tubuhnya sangat dingin dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku kembali berbicara melalui batin dengan sosok pocong itu. Ia masih berdiri mengambang di pojok kamar. Entah kenapa aku sangat tak suka melihat wujudnya, jadi aku lebih memilih berkomunikasi lewat batin saja. Aku sangat penasaran kenapa kain kafan yang ia gunakan banyak noda darahnya. Dan ku putuskan untuk bertanya padanya.
"Kenapa kafan mu ada noda darahnya? Apa ketika dipocong kau masih dalam keadaan berdarah?"
Belum sempat ia menjawab pertanyaan ku, sosok pocong itu melesat tepat di hadapan ku. Ia merasuki ragaku, dan membuatku berdiri dengan melipat tangan di dada. Aku merasakan seperti orang yang sedang dikafani, karena aku benar-benar tak bisa menggerakkan tubuhku dengan bebas. Dan saat itu juga, aku dapat melihat masa lalu nya sewaktu ia masih hidup.
Gadis berambut panjang dengan kulit kuning langsat itu bernama Dinar. Ia bekerja di sebuah pabrik di kota Bekasi. Dia merantau dari desa bersama teman-teman nya dari desa. Malam itu ia berniat pergi ke sebuah Mall bersama teman-teman nya. Pandangan matanya teralihkan pada seorang lelaki manis berkumis tipis. Ia sedang berbincang dengan teman nya. Dinar terus memperhatikan lelaki itu dan tak fokus berbicara dengan teman-teman nya. Dinar hampir kecewa, karena lelaki tak menyadari kehadiran nya. Tapi pada akhirnya keduanya pasang mata nya saling memandang. Lalu lelaki itu melemparkan senyum pada Dinar. Seketika pipi Dinar memerah karena malu. Dan ia pun refleks mengalihkan pandangan nya ke tempat lain. Tanpa diduga, lelaki itu datang menghampiri Dinar dan mengajaknya berkenalan. Awal pertemuan yang sangat membuat Dinar bahagia, adalah awal dari malapetaka yang akan merenggut nyawa nya.
Ari Wibowo namanya, sekilas namanya mirip dengan artis senior yang terkenal pada masa nya. Lelaki yang berhasil merebut hati Dinar pada pandangan pertama itu, membuat janji temu dengannya. Tepat malam minggu di bulan berikutnya. Sikap sopan dan ramah yang ditunjukkan Ari semakin membuat Dinar menyukai lelaki yang baru saja ia temui. Beberapa teman-teman nya sempat mengingatkan Dinar. Supaya ia tak terlalu mudah akrab dengan lelaki yang baru saja ia kenal. Tapi Dinar mengacuhkan peringatan teman-teman nya. Bahkan keduanya memutuskan untuk berbicara berdua sambil nonton bioskop. Tapi seorang perempuan tiba-tiba mendatangi keduanya, dan menarik rambut Dinar lalu mendorong nya hingga terjungkal ke lantai.