
Sesampainya di perkampungan yang dimaksud Pak Sapri. Aku dan Silvia berbagi tugas untuk mencari informasi. Sementara Petter dan Beny juga bertanya-tanya pada beberapa makhluk gaib yang menempati daerah sekitar sana. Dan aku mendengar desas-desus dari beberapa ibu-ibu yang berbelanja di sebuah warung kelontong, jika mereka sedang membicarakan seorang lelaki yang ditemukan tak sadarkan diri dan tanpa identitas. Mungkinkah mereka sedang membicarakan Beny ya. Aku menghubungi Silvia dan memintanya menemui ku di warung kelontong itu. Kami sama-sama bertanya apakah lelaki yang mereka bicarakan tadi adalah Beny. Aku menunjukan foto Beny yang ada di layar ponsel, tapi mereka hanya menggelengkan kepala. Karena mereka hanya mendengar kabar tanpa melihat wajah lelaki itu.
"Lalu siapa yang membawanya ke Rumah Sakit Bu?" Tanya Silvia dengan wajah cemas.
"Yang bawa tadi Pak RT Mbak, kayaknya sih dibawa ke Rumah Sakit Citramedika. Coba kalian pergi kesana saja, siapa tau lelaki itu adalah teman kalian." Jawab salah satu Ibu itu.
Silvia mengajakku pergi untuk memastikan sendiri ke rumah sakit. Karena kami tak mau menunggu tanpa kepastian. Tak berselang lama Petter dan Beny datang, mereka memberitahu hal yang sama. Jika beberapa makhluk tak kasat mata yang tinggal di daerah itu mengatakan melihat seseorang yang mirip dengan Beny dibawa menggunakan mobil ambulance.
"Kita gak punya waktu lama Sil, kita harus menemukan tubuh Beny sekarang juga. Karena sepertinya Beny gak punya waktu lebih lama lagi."
"Maksud lu apa sih Ran? Emangnya Beny kenapa?"
Aku hanya diam dan melirik ke arah Beny sedang duduk di samping Petter. Nampaknya jiwanya semakin lemah, karena ia terlalu lama meninggalkan raganya. Dan sebaliknya raga yang terlalu lama ditinggalkan jiwanya akan semakin melemah, apalagi organ-organ di dalam tubuhnya akan mengalami berbagai masalah. Aku harap kecemasan ku tak akan terjadi, karena aku tak mau melihat Beny sampai celaka untuk kedua kalinya.
"Ran! Gue tanya kenapa lu gak jawab?" Teriak Silvia menatapku tajam.
Aku menghembuskan nafas panjang, entah bagaimana aku menjelaskan nya padanya. Hal rumit yang tak pernah ia tau sebelumnya. Dan aku hanya bisa menjelaskan inti permasalahannya saja.
"Lu tau gak istilahnya rumah yang udah lama gak di tempati manusia lama-lama bakal rusak? Sama seperti tubuh Beny, yang akan semakin lemah dan rusak organ vitalnya jika jiwanya terlalu lama meninggalkan raganya. Dan gue lihat jiwa Beny udah merasakan dampaknya." Jawabku seraya melihat Beny dari kaca.
"Kau benar Rania... Dari tadi dia mengeluh jika ia merasa lemah. Padahal aku yang sudah lama gentayangan saja tak bisa merasakan lemah sedikitpun. Tapi kenala dia bisa Rania?" Ucap Petter keheranan.
Aku menjawab pertanyaan Petter melalui batin, dan mengatakan jika ia dan beny itu berbeda. Karena Beny masih memiliki raga yang masih utuh dan berfungsi, sedangkan ia hanya jiwa tanpa raga. Tentu saja keadaan mereka berbeda, dan Petter tak akan bisa merasakan yang Beny alami saat ini. Terdengar suara Silvia yang berkata, jika ia meminta Beny untuk kuat dan bertahan apapun yang terjadi. Ia merasa bersalah karena membuatnya dalam keadaan seperti sekarang.
Aku melihat kesedihan Silvia lebih besar dari sebelumnya. Aku tau dia tak menginginkan semua ini terjadi, tapi takdir yang membuat segalanya menjadi seperti ini. Nampak Beny menyunggingkan senyumnya, ia berusaha mengusap rambut Silvia, tapi ia tak bisa melakukan nya. Entah kenapa adegan ini membuatku terharu, seperti drama korea saja.
"Udah Sil, tenang dulu ya. Beny bisa denger semua ucapan lu kok, dia gak marah sama lu. Bentar lagi juga kita sampai ke rumah sakit, dan semua akan baik-baik aja."
Silvia menganggukkan kepala seraya menyeka air matanya. Karena kami sudah sampai di rumah sakit, kami bergegas pergi ke customer service dan menanyakan pasien yang tanpa identitas. Dengan menunjukkan foto Beny, kami lebih mudah mendapatkan informasi. Dan pihak rumah sakit mengatakan jika saat ini pasien sedang dalam perawatan intensif di ruang icu. Sontak saja aku dan Silvia sangat terkejut, bukankah seharusnya ia tak dirawat disana. Karena hanya pasien dengan keadaan kritis saja yang sampai dirawat di icu.
"Maaf saya tak bisa menjelaskan kondisi medis pasien. Karena hanya Dokter yang mengetahuinya, silahkan konfirmasi ke bagian rekam medis untuk memastikan informasi lebih lanjut." Jelas perempuan paruh baya yang berjaga di ruang customer service.
Aku dan Silvia bergegas pergi ke ruang rekam medis, nampak Petter masih mengikuti ku dari belakang. Tapi kemana perginya Beny, kenapa jiwanya tak terlihat dimanapun. Apakah mungkin jiwa nya sudah memasuki raga nya kembali. Ah entahlah, aku hanya bisa menduga-duga saja. Dari penjelasan petugas rumah sakit mengatakan, jika tiba-tiba kondisi pasien lemah dan mengalami gagal jantung. Karena itulah mereka memindahkan pasien ke ruang icu.
"Untuk lebih lanjutnya Dokter yang akan menjelaskan kondisi pasien. Apakah saya bisa meminta kartu identitas pasien tersebut untuk data lebih lanjut."
Silvia sengaja membawa tas ransel Beny yang tertinggal di dalam mobil. Dan ia memberikan data diri Beny pada petugas, sementara aku pergi mencari informasi dari Dokter yang merawatnya. Tiba-tiba aku melihat sekelebatan bayangan putih dengan energi positif yang masuk ke sebuah ruang perawatan. Tak lama setelah itu nampak jiwa Beny yang berjalan mengambang mengikuti bayangan putih itu. Karena penasaran, aku ingin mengikuti nya. Tapi panggilan seseorang menghentikan langkahku. Seorang perawat meminta ku masuk ke dalam sebuah ruangan. Dan disana ada seorang Dokter muda yang sedang duduk di depan meja dengan membawa berkas di tangannya. Dokter itu menjelaskan hal yang tak wajar menurutnya, karena pasien sebelumnya hanya tak sadarkan diri karena kekurangan cairan. Tapi tanpa diduga pasien mengalami gagal jantung, dan itu yang membuatnya dipindahkan ke ruang icu. Padahal setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, sebelumnya pasien tak memiliki riwayat penyakit kronis. Dan Dokter mengatakan jika mereka akan melakukan operasi pemasangan kateter untuk jantung nya. Mereka meminta persetujuan dari pihak keluarga. Tentu saja aku harus memberikan kabar itu ke keluarga nya terlebih dulu. Tapi apakah Beny akan baik-baik saja ya.
"Dok... Dok... Pasien lelaki yang baru saja masuk ke ruangan icu mendadak kejang-kejang." Jerit seorang perawat yang berlari panik ke dalam ruangan.
Seketika Dokter itu bangkit dari duduknya, dan berlari menuju ke ruang icu. Sebenarnya apa yang terjadi pada Beny. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan bayangan putih yang ku lihat tadi ya, batin ku di dalam hati resah.