Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 44 ANCAMAN CALON ARANG


Setelah mengambil kotak wasiat peninggalan Bu Wayan, aku bergegas pergi ke tempat ritual terakhir itu. Tapi Mbak Ayu memberitahu, jika ritual sudah selesai. Dan saat ini ia sedang dalam perjalanan pulang.


"Rania. Ada kabar buruk untukmu, kondisi Mbah Karto memburuk. Segala kemungkinan bisa saja terjadi, lebih baik kau kembali ke DesaDesa secepatnya." ucap Malik yang baru saja melesat di dekatku.


"Kenapa kau datang tiba-tiba dengan membawa kabar buruk sih? bukankah Pak Jarwo sudah datang untuk mengobati Mbah Karto? seharusnya semua akan baik-baik saja, kenapa kondisinya malah memburuk?"


"Kau tak mengerti bagaimana situasi di alam itu. Mbah Karto seorang diri melawan semua pengikut Leak, bisa jadi ia juga sudah bertemu dengan Calon Arang itu. Tak banyak yang bisa dilakukan Pak Jarwo, karena itulah aku datang memberitahu mu kabar ini. Bagaimanapun Mbah Karto memiliki jasa besar dalam hidupmu."


Penjelasan Malik membuat hatiku pilu, aku seakan kehilangan pijakan dalam hidupku. Memang benar kata Malik, Mbah Karto memiliki jasa besar dalam hidupku. Selama ini beliaulah yang menuntunku menghadapi berbagai masalah yang berhubungan dengan dunia gaib.


Aku segera kembali ke rumah kuno itu, disana sudah ramai orang yang datang untuk berkabung. Tamu-tamu beserta tetangga sekitar datang untuk menyampaikan duka cita atas berpulangnya Ibunda Mbak Ayu.


"Mbak Ayu, ada yang ingin gue sampaiin ke lu. Bisa ke kamar gue sebentar gak?" tanganku bergetar memegang koper.


"Lu kenapa Ran? apa lu masih belum sehat bener? yuk kita ke kamat lu, tapi gue pamit dulu ke Tante Ajeng."


Entah apa yang Mbak Ayu bicarakan dengan Tante Ajeng, karena mereka terlihat sangat serius. Banyak tamu yang memberika ucapan duka pada Mbak Ayu, sehingga aku harus menunggu disana.


"Sorry ya Ran kalau lama. Mereka adalah orang-orang yang mengenal Ibu gue, sengaja datang dari Bali untuk ketemu gue. Ternyata Ibu datang ke Jakarta memang untuk nyari kita, tapi beliau kehilangan komunikasi dengan Om Dewa. Karena beliau mencari kami ke alamat kontrakan yang lama."


"Ja jadi mereka jauh-jauh datang kesini untuk ketemu lu Mbak? terus apalagi yang mereka katakan?"


"Mereka mau ngadain ritual khusus supaya arwah Ibu dapat pergi dengan tenang. Menurut mereka semua ritual itu sangat penting, karena Ibu menganut keyakinan tersendiri. Dan hanya mereka saja salah satu dari kelompok itu yang datang kesini."


Penjelasan Mbak Ayu membuatku berkeringat dingin, aku merasakan sesuatu yang tak beres dengan kedatangan orang-orang itu.


"Jangan-jangan mereka datang sengaja untuk menjadikan Mbak Ayu sebagai penerus Ibunya. Bagaimana ini, apa yang harus ku lakukan sekarang? aku gak mungkin meninggalkan tempat ini, sementara Mbak Ayu dalam bahaya. Perempuan berjubah hitam itu benar, mereka sudah menemukan keberadaan Mbak Ayu." batinku di dalam hati sangat gelisah.


"Eh ngapain bengong Ran? katanya lu mau ngobrol sama gue di kamar? yuk buruan, gue gak bisa lama-lama nih masih ada yang harus gue kerjain." kata Mbak Ayu seraya menarikku pergi dari keramaian itu.


"Rania lu kenapa?" Mbak Ayu menaikan daguku ke atas melihatku berlinang air mata.


Aku tak dapat berkata-kata, hanya bulir-bulir ar mata yang membasahi wajahku. Bude mendatangi ku lalu memelukku, seakan ia tahu kegundahan hatiku saat ini.


"Jadi kau sudah tahu sekarang, tentu saja penjagamu pasti sudah memberitahu semuanya kan? padahal Ibu sudah melarang ku memberitahu mu. Makanya Ibu beralasan akan pulang karena ingin membayar upah para pekerja. Tapi kebohongan kami sia-sia saja." kata Wati menundukan kepalanya.


Mbak Ayu menatap kami satu persatu, ia tak tahu apa-apa dengan pembicaraan ini. Segera ku buka koper, dan memberikan kotak tua wasiat Ibunya.


"Di dalamnya ada liontin yang harus selalu kau pakai Mbak, jangan pernah sekalipun kau melepaskannya. Itu saja pesan dari mendiang Ibumu. Dan ada surat untuk Om Dewa, tolong berikan padanya."


Mbak Ayu membuka kotak tua itu dan mengambil liontin jingga yang berkilauan ketika ia memegangnya. Ternyata benar hanya di dekatnya saja liontin itu akan mengeluarkan sinar cahaya. Aku menghembuskan nafas lega, lalu ku peluk Mbak Ayu dan memintanya untuk tak melakukan ritual bersama orang-orang yang baru ditemuinya tadi.


"Memangnya kenapa Ran? tadi Tante Ajeng juga sempat melarang gue mengikuti ritual itu. Menurutnya gue gak harus berada di sekitar mereka ketika ritual itu dimulai. Tapi Om Dewa justru mengatakan hal yang sebaliknya, dia minta gue menghadiri ritual khusus itu. Katanya gue harus menghormati keyakinan mendiang Ibu, jadi untuk terakhir kalinya gue harus melakukan ritual bersama anggota kelompoknya."


"Apa! Om Dewa minta lu melakukan ritual bersama orang-orang itu?"


Mbak Ayu menganggukan kepala seraya memakai liontin di lehernya. Tapi aku teringat ucapan Bu Wayan, menurutnya Mbak Ayu tak akan celaka jika ia mengenakan liontin itu. Tapi apakah tidak apa-apa jika ia melakukan ritual bersama kelompok pemuja Leak itu? dan mengenai Om Dewa yang meminta Mbak Ayu melakukan ritual khusus bersama orang-orang yang ku yakini sebagai anggota pemuja Leak. Apakah ia ingin menumbalkan Mbak Ayu sebagai pemangku ritual. Karena ia ingin lepas tangan seperti sebelumnya. Berbanding terbalik dengan Tante Ajeng yang melarang Mbak Ayu, tapi yang selama ini ku tahu, Tante Ajeng lah yang memiliki dendam. Ia tak terima keturunannya ditumbalkan. Bagaimana ini apa yang harus ku katakan pada Mbak Ayu, di tengah-tengah kebingungan ku, Malik melesat mendekati ku. Ia memintaku mengatakan segalanya pada Mbak Ayu, entah ia akan mendengar perkataan ku atau tidak. Yang terpenting aku sudah memperingatkan nya, dan aku harus kembali ke Desa bersama Bude dan juga Wati.


"Mbak sebenarnya orang-orang itu adalah anggota kelompok ilmu sesat. Mereka menganut ajaran ilmu hitam, berbagai pemujaan mereka lakukan untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Salah satunya adalah mendiang Ibumu, beliau adalah ketuanya. Dan gak sembarangan orang yang bisa menggantikan nya ketika ia tiada, karena gak mau lu terjerumus dalam ajaran sesat. Beliau sengaja menjauhkan lu darinya, dan Om Dewa lah yang ditunjuk buat jaga lu. Satu lagi yang harus lu tahu Mbak, Bu Wayan memang sengaja mengakhiri hidupnya dengan ilmu yang ia punya. Beliau melakukan itu karena desakan seseorang yang mengancamnya, kepala yang terpenggal dari kepalanya dibawa jauh pergi dari jazadnya. Supaya tubuhnya gak dapat menyatu lagi, dan salah satu orang itu udah terkena dampaknya. Hanya sisa satu orang lagi yang masih tersisa, tugas lu adalah menemukan orang itu untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Bagaimanapun orang itu mempunyai andil dalam meninggal nya Bu Wayan. Orang itu harus diseret ke kantor polisi secepatnya."


Meski aku mencurigai Tante Ajeng, tak dapat ku katakan jika ia lah salah satu orang itu. Karena penelusuran ku belum pasti, dan aku tak dapat asal menyebutkan nama seseorang.


...Apa yang harus Rania lakukan? meninggalkan Mbak Ayu untuk menjenguk Mbah Karto? atau tetap berada di dekat Mbak Ayu, membiarkan sesepuh desanya dalam keadaan sekarat? sampai jumpa besok ya, bye 👋...


...Bersambung....