
Pagi itu aku dan Mbak Ayu sudah bersiap di depan rumah menunggu jemputan mobil travel. Wati berdiri mematung di depan pintu, ia menundukan pandangan matanya tiap kali Mbak Ayu melihat ke arahnya.
"Wati kenapa gue ngerasa lu ngejauhin gue ya. Lu gak usah takut sama gue, emangnya gue bakal makan lu mentah-mentah apa!" seru Mbak Ayu dengan melambaikan tangannya pada Wati.
"Mbak Ayu beneran gak makan orang kan? yang gue tahu penganut ilmu Leak gitu bisa nelen orang gitu aja."
"Ngarang aja nih si Wati, tahu darimana omongan kaya gitu Wat?"
"Hehehe pernah lihat di film Ran, makanya aku jadi ngeri deket-deket Mbak Ayu."
"Dasar korban film, sini gue gigit sekalian lu." kata Mbak Ayu menggoda Wati.
Setelah candaan itu Wati memberanikan diri berdekatan dengan Mbak Ayu. Lagipula Mbak Ayu tak memiliki masalah dengannya, dan Wati gak perlu takut lagi berada di dekat Mbak Ayu.
"Apa karena lu takut deketan sama gue, jadi lu gak mau balik ke jakarta?"
"Nanti juga balik kok Mbak, kalau kita semua pergi sekarang kan gak enak. Mbah Karto baru aja meninggal, seenggaknya nunggu tujuh harian dulu." jelas Wati.
Bude Walimah keluar rumah dengan membawa dua kardus berisi hasil perkebunan dan juga beras satu karung. Kami tercengang melihat Bude susah payah membawanya.
"Nduk ini nanti semua dibawa ya, lumayan kan buat makan beberapa hari. Jadi kalian gak usah repot belanja keluar, tinggal masak aja."
"Ini dua kardus buah semua ya Bude?"
"Iya Yu, yang satunya lagi ada sayuran yang tahan lama di jalan. Kalian baik-baik ya disana, jangan banyak ngelamun biar gak kosong pikiran nya. Terutama kau Dahayu, kendalikan emosimu, supaya kau tak terhasut bisikan setan."
"Makasih ya Bude, lain kali Dahayu bakal datang ke Desa ini lagi buat ketemu Bude."
Klakson mobil mengagetkan kami, rupanya mobil travel sudah datang. Kami berpamitan pada Bude dan juga Wati. Ku katakan pada Bude jika aku tak sempat mendatangi Pak Jarwo dan juga Mbah Darmi.
"Tolong sampaikan salam kami ya Bude, kami harus pergi buru-buru karena mobil travel ini hanya jalan sekali dalam sehari."
Nampak raut wajah kesedihan Bude Walimah melepaskan kepergian kami. Meski Bude baru mengenal Mbak Ayu, ia sudah menganggap Mbak Ayu seperti anaknya sendiri. Apalagi mengetahui kenyataan jika Mbak Ayu sekarang sudah tak memiliki ibu.
"Bude Walimah baik banget ya Ran, lu beruntung ada pengganti orang tua seperti Bude."
"Iya Mbak, Bude udah ngurusin gue dari SMP."
Belum sampai aku melanjutkan ucapanku, mobil travel tiba-tiba berhenti. Sopir itu berteriak jika ada ular besar yang menghadang jalan. Mbak Ayu langsung memejamkan matanya, dan ia mengepalkan kedua tangannya.
"Ada yang sengaja ngirim ular itu buat nyelakain kita Ran."
"Siapa Mbak? mungkin aja cuma ular biasa, secara kan kita melewati hutan-hutan."
"Itu bukan ular biasa Ran, lu tunggu disini dulu ya. Biar gue yang nyingkirin penghalang itu."
Mbak Ayu turun dari mobil, ia duduk dengan menyilangkan kedua kakinya. Ular itu hanya diam di hadapan Mbak Ayu, sepertinya mereka bertarung di alam lain. Semua penumpang panik melihat Mbak Ayu duduk diam dengan memejamkan matanya.
"Pak itu ditolongin dong, kalau di patuk ular gimana." teriak beberapa ibu-ibu yang ketakutan.
"Tapi siapa yang berniat menjahati Mbak Ayu?"
"Orang itu sangat licik Rania, dia bersembunyi di antara orang lainnya. Seakan dia tak memiliki motif kejahatan, tapi orang itu ada disekitar kalian. Aku tak dapat mengatakan siapa, karena itu diluar batas kemampuan ku."
"Apa kau tak bisa melihat siapa orang itu? apa dia juga memiliki kesaktian sampai kau tak bisa melihat lebih dalam lagi?"
"Ada tabir hitam dan merah yang menutupi pandangan ku. Sepertinya orang itu bersekongkol dengan manusia berilmu tinggi, ataupun dia mempraktikkan ilmu hitam semacamnya."
Plaak.
"Ngapain lu merem Ran? ngantuk ya? gue udah selesaiin masalah nya, untung Malik datang bantu gue. Kalau enggak gue bisa lama duduk di tengah jalan."
"Mbak lu tadi ngapain duduk di tengah jalan?"
"Emang lu pikir gue lagi nunggu sedekah dari orang. Jelas-jelas gue lagi ngelawan tu ular raksasa, seperti dugaan gue, ular itu sengaja dikirim buat nyelakain gue. Tapi orang yang ngirim ular itu gak tahu, kalau sekarang gue punya kelebihan gak kayak dulu. Lihat aja cepat atau lambat gue bakal nemuin orang itu."
Perjalanan terasa sangat lama, karena ada banyak gangguan terjadi. Mobil travel itu sering mogok di sepanjang perjalanan.
"Kayak ada yang ngerecokin perjalanan kita ya Mbak. Apa orang itu udah tahu ya kalau lu bakal balik. Jangan-jangan..."
"Jangan-jangan apa Ran?"
"Mbak Ayu tahu gak, Om Dewa atau Tante Ajeng pernah mraktekin ilmu hitam atau semacamnya?"
"Lu pasti lagi mikir kalau di antara mereka berdua pelakunya kan?"
"Semenjak gue kuliah, gue gak pernah tinggal serumah sama mereka. Jadi gue gak tahu apa-apa Ran. Tapi kalau sampai salah satu dari mereka yang udah ngehasut ibu buat ngeakhirin hidupnya, gue gak akan pernah memaafkannya." ucap Mbak Ayu dengan membulatkan kedua matanya.
Terdengar deru mesin mobil, kebisingan dimana-mana mengganggu tidurku. Nampak gedung-gedung tinggi menjulang, kemacetan di berbagai sisi jalan terlihat jelas. Akhirnya kami sampai juga di Jakarta, yang dipenuhi dengan polusi udara. Dari kejauhan bayangan rumah kuno mulai terlihat. Kami turun dari mobil travel, dan melihat ke berbagai arah. Nampak sunyi tak seperti keadaan di luar komplek perumahan itu. Pintu pagar tergembok, sepertinya tak ada orang di dalam. Mobil Om Dewa juga tak terlihat, mungkinkah mereka sudah meninggalkan rumah ini.
Cekleek.
"Dahayu kau kemana saja tanpa berpamitan? kami semua cemas mencarimu, dan apa yang kau lakukan di alam itu? kau tak seharusnya pergi kesana Yu." ucap Tante Ajeng dengan wajah cemas.
"Darimana Tante tahu kalau Dahayu pergi ke alam itu?" tanya Mbak Ayu mengaitkan kedua alis matanya.
"Om Dewa dan beberapa tamu kita yang kemarin itu nyari tahu dimana kamu. Kami gak nyangka kamu pergi ke alam itu, apa kamu juga bertemu mendiang ibumu? apa yang kau lakukan disana Yu?"
Mbak Ayu tak langsung menjawab pertanyaan Tante Ajeng. Ia diam dengan membulatkan kedua matanya. Aku takut Mbak Ayu terbawa emosi karena mengira Tante Ajeng adalah orang yang ia cari. Meskipun aku sendiri tak tahu siapa orangnya.
"Dahayu, Tante tahu kau sudah mengetahui segalanya. Maafkan Tante tak bisa berbuat apa-apa."
"Apa maksud Tante Ajeng ngomong gitu ya?" batinku dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
...Bersambung. ...