
Karena tak ingin melihat Purnama mengalami shock lagi, Pak Bos besar mengantarkan Purnama ke rumah Pak Markum. Karena sementara waktu ini, ia akan tinggal disana. Sementara aku memutuskan untuk kembali ke kostan. Setidaknya satu persatu masalah telah selesai, dan aku dapat bernafas lega. Aku meregangkan otot-otot ditubuh, seraya melihat sebuah mobil sedan keluar dari dalam Mansion Emerald Garden. Dan di belakangnya ada sekelebatan bayangan yang melesat terbang.
"Itu kan Kuntilanak merah, siapa yang ia ikuti ya? Bukannya Purnama masih ada di dalam rumah itu?" batinku bertanya-tanya.
Karena rasa penasaran menggelayut di kepalaku, aku memutuskan bertanya pada Satpam yang berjaga di post.
"Loh, Mbaknya masih diluar toh? Emang ojol nya belum datang? Itu tadi mobilnya istri Tuan besar, Nyonya Kartika yang tadi sempat marah-marah di dalam itu loh Mbak."
"Lalu dimana perempuan yang datang bersama Pak Bos?"
"Nah itu Mbak, mereka baru masuk ke dalam mobil. Memangnya ada apa lagi Mbak?"
"Ehm gak apa-apa kok Pak, ya sudah saya ke depan lagi. Sebentar lagi ojol nya datang."
Mobil Pak Bos berhenti tepat di depanku, ia menawarkan tumpangan untukku. Tapi aku sudah terlanjur memesan ojol, dan mempersilahkan mereka untuk melanjutkan perjalanan nya. Beberapa menit kemudian Driver ojol itu tiba, aku segera mengenakan helm lalu melanjutkan perjalanan. Jalanan di Ibukota cenderung padat di sore hari. Terlihat kemacetan diberbagai sudut, bangunan yang menjulang tinggi mulai terlihat terang cahayanya. Sebentar lagi sudah magrib, aku meminta Mas ojok untuk berhenti di Masjid terdekat. Karena aku ingin shalat Maghrib terlebih dulu.
Setelah shalat Maghrib selesai, aku duduk di teras Masjid menunggu Mas ojol menghabiskan satu batang rokoknya. Tiba-tiba ada seorang Bapak-bapak bersorban putih mengenakan gamis berwarna senada menghampiri ku, ia duduk di sebelahku dengan senyum teduhnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawabku dengan menyunggingkan senyum.
"Sepertinya adek baru saja mendapatkan ancaman dari sosok gaib ya?"
Deegh.
Jantungku berdetak tak beraturan, darimana Bapak ini tahu ya. Padahal kami baru saja bertemu di tempat ini.
"Tak usah bingung, darimana aku bisa tahu. Kau adalah anak yang baik, karena itulah aku mendatangi mu. Simpanlah tasbih ini, bawa kemanapun kau pergi. Itu akan berguna untukmu kelak, dan pergunakan dengan sebaik-baiknya. Ketika kau shalat dan berdoa, gunakanlah tasbih itu. Semakin sering kau menggunakan nya untuk ibadah, maka semakin besar pula manfaatnya untukmu kelak. Berhati-hatilah dengan orang-orang terdekatmu, bisa jadi mereka adalah orang yang mempunyai niat buruk. Berpasrah diri pada Yang Maha Kuasa, selain banyak ibadah perbanyak pula bersedekah pada orang yang kurang mampu. Manfaat nya sangat luar biasa bagi orang yang melakukannya." Ucapnya dengan wajah teduh dan senyum ramahnya.
Aku serasa mendapatkan pelajaran yang berharga dari beliau. Memang terkadang aku lupa untuk berbagi pada sesama, dan terlalu sibuk mengejar dunia.
"Maaf Mas, saya sedang berbicara dengan Bapak ini." Kataku dengan membalikkan tubuh.
"Bapak yang mana Kak? Dari tadi Kakak sendirian dan ngomong sendiri juga, saya kira Kakak lagi teleponan."
Sontak saja aku memalingkan wajah ke arah Bapak bersorban putih tadi duduk. Dan benar saja, tak ada siapapun di sebelahku. Entah kemana Bapak itu pergi, yang jelas aku tak dapat menemukan keberadaan nya dimanapun.
"Beneran kok Mas, tadi saya ngobrol sama Bapak-bapak bersorban putih disini. Ini saya malah dikasih tasbih juga." Jelasku seraya menunjukkan tasbih di genggaman tanganku.
Nampak raut wajah kebingungan Mas ojol, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya sudahlah Mas, gak usah dibahas lagi. Ngerokok nya udah kan? Yuk kita jalan lagi."
Akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menitan, dan aku sudah sampai di rumah kuno itu lagi. Terlihat Mbak Ayu baru saja menyalakan lampu di rumah utama, nampaknya ia baru saja pulang ke rumah. Karena ia masih mengenakan baju kerjanya.
"Gimana hari ini, lancar penelusuran nya?" tanya Mbak Ayu seraya berjalan menghampiriku.
"Alhamdulillah Mbak, satu kasus selesai gue pecahkan. Mudah-mudahan masalah lu juga cepat selesai ya Mbak. Dan Om Dewa segera ditemukan, untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya."
"Semoga aja deh Ran. Kalaupun gak ketemu juga, gue harap Om Dewa gak akan tenang selama hidupnya. Gue hanya mau berdamai dengan diri gue aja, menerima dengan ikhlas semua yang telah terjadi. Supaya Calon Arang gak bisa mempengaruhi gue untuk berbuat jahat lagi. Gue gak mau jadi sesat Ran, gue pengen hidup tenang kayak dulu lagi."
Penjelasan Mbak Ayu membuatku lega, karena hanya dengan begitu, Mbak Ayu dapat melupakan dendamnya. Dan tak akan bersekutu dengan Calon Arang lagi. Meskipun ia tetap harus mempraktikan ilmu Leak, setidaknya ia tak akan menumbalkan nyawa seseorang lagi.
"Besok lu libur gak Ran? Kita nonton yuk, udah lama gue gak ke bioskop nih. Bosen juga kerja terus, butuh hiburan gue!" Seru Mbak Ayu dengan semangat nya.
"Lihat besok deh Mbak, kalau gak ada liputan mendadak gue bisa off. Emangnya mau nonton film apa sih?"
"Itu loh film horor yang lagi viral di Toktak judulnya Pengabdi Mertua, gue penasaran banget dari kemarin lihat trailernya."
Entah darimana horornya, judulnya aja udah nyeleneh gitu. Masa film horor judulnya Pengabdi Mertua sih, aku terkekeh mendengar nama kata mertua. Teringat dengan berita viral yang lagi heboh belakangan ini.