
Pak Jarwo masuk ke dalam ruangan khusus Mbah Karto. Ia sudah menata sesajen canang dan dupa disana. Aku meminta Wati mengatakan pada Bude Walimah, jika aku dan Mbak Ayu sedang dalam perjalan spiritual untuk menjemput jiwa Mbah Karto.
"Kami akan segera kembali dengan kondisi baik-baik saja. Jaga Mbah Darmi selama kami bertiga di dalam ruangan khusus itu." kataku dengan memeluk Wati.
"Satu lagi pesanku, jangan ada yang masuk ke ruangan khusus itu. Jika Mbah Karto sudah kembali ke dalam raganya, akan ada pertanda pada tubuhnya. Sebisa mungkin buat Mbah Karto membuka kedua matanya, supaya ia benar-benar mendapatkan kesadarannya."
Setelah menjelaskan semuanya Pak Jarwo memintaku dan Mbak Ayu segera masuk ke dalam. Kami duduk tepat di hadapan Pak Jarwo, dan di tengah-tengah kami adalah sesajen dan dupa sebagai perantara perjalanan kami menuju ke alam Mangrahi. Kami duduk dengan menyilangkan kedua kaki lalu menyatukan kedua tangan di depan dada. Terdengar Pak Jarwo membaca mantra-mantra yang tak dapat ku mengerti artinya. Tiba-tiba kepalaku terasa berat, kedua mata ini serasa ingin terpejam dan seluruh tubuh terasa ringan.
Whuus.
Tubuhku mengambang di atas udara, ku lihat aku seorang diri dan Mbak Ayu tak tahu dimana keberadaan nya. Lalu ku lihat sebuah roh keluar dari dalam tubuh Mbak Ayu. Rupanya itu memanglah jiwanya, mungkin karena Mbak Ayu belum pernah melepaskan jiwa dari raganya. Jadi ia kesusahan mendapatkan fokus untuk itu.
"Ran. Rania i itu tubuh kita ya? apa kita udah meninggal dunia? kok gue bisa lihat tubuh gue sendiri sih?" tanya Mbak Ayu panik.
"Tenang aja Mbak, kita cuma melepaa jiwa. Kita masih hidup kok, asal jangan terlalu lama meninggalkan raga kita. Seperti halnya Mbah Karto, karena jiwanya terlalu lama meninggalkan raganya. Semua fungsi organ di dalam tubuhnya jadi tak berfungsi sebagaimana mestinya, makanya setelah tujuan kita selesai, kita harus segera kembali ke dalam raga kita masing-masing. Sementara kita pergi, Pak Jarwo yang akan menjaga portal kedua dimensi agar tetap aman. Tak ada makhluk dari alam lain yang akan masuk ke al kita, apalagi sampai memasuki raga kita. Bisa gawat Mbak kalau itu sampai terjadi." jelasku pada Mbak Ayu yang masih kesulitan mencerna keadaan saat ini.
Kini Pak Jarwo mendongakan kepalanya ke atas, melihat kami dengan menyunggingkan senyumnya.
"Sebentar lagi portal gaib akan terbuka, akan ada tiga jalan di dalamnya. Warna putih untuk menuju ke alam keabadian, warna hitam tempatnya para makhluk gaib yang jahat tinggal disana, dan warna merah adalah alam di antara dua alam. Tempat nya makhluk yang masih memiliki raga, tapi memilih bersekutu dengan para makhluk gaib seperti siluman dan sejenis nya tinggal. Alam Mangrahi tujuan kalian berdua, masuklah ke dalam sana, sampai kalian bertemu dengan perempuan berjubah hitam. Ayu kau harus mengatakan tujuanmu yang sebenarnya datang ke alam itu. Jika mereka memberi penawaran padamu, kau harus pandai-pandai bernegosiasi dengan mereka. Karena mereka pasti akan membujukmu untuk menjadi pemimpin mereka. Mereka akan membujukmu dengan berbagai usaha, jika kau menyetujui kesepakatan itu, pasti kau akan langsung menjadi pemimpin mereka, melakukan berbagai ritual untuk menjadikan mu sang pemangku yang seutuhnya. Dengan itu kau bisa melakukan apa saja, dan apapun yang kau mau bisa kau dapatkan. Tapi apakah kau mampu menanggung semuanya setelah itu? hidupmu tak akan jauh lebih baik dari mendiang ibumu. Aku memang sengaja menjelaskan semuanya dari sekarang sebelum kau sampai di alam itu, jadi kau bisa tentukan sendiri langkah apa yang akan kau ambil nantinya."
Tak ada jawaban dari Mbak Ayu, entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Aku menggenggam tangan Mbak Ayu untuk meyakinkan nya, supaya ia tak terjebak dengan rayuan para pengikut Leak itu nantinya. Mbak Ayu hanya menyunggingkan senyumnya, lalu menganggukan kepalanya. Tak lama lubang menyilaukan mata terbuka lebar di atas kami, setelah berpamitan pada Pak Jarwo kami bergegas masuk ke dalam lubang itu, dan melihat ada tiga jalan di dalamnya. Aku dan Mbak Ayu melayang kesana, tubuh kami serasa sangat ringan meliuk-liuk di atas mengambang.
Whuus whuuus.
Cahaya menyilaukan mata membuat kami memejamkan mata sesaat. Kini kami berdiri mengambang di depan altar pemujaan. Perempuan berjubah hitam tertawa bahagia menyambut kedatangan kami. Ia mengatakan jika sudah lama ia menantikan kehadiran Mbak Ayu disana.
"Selamat datang ke rumah barumu Dahayu. Aku yakin kau datang kesini tak hanya untuk menyelamatkan lelaki tua itu bukan? aku tahu apa yang ada di dalam isi hatimu. Lihatlah jiwa ibumu masih terbelenggu di pilar besar itu. Ia menantikanmu datang untuk membebaskan jiwanya kembali ke alam keabadian." ucap perempuan berjubah hitam itu seraya melesat ke arah Bu Wayan.
Terlihat kedua mata Mbak Ayu berkaca-kaca, wajahnya sangat sendu menatap perempuan yang terikat di pilar itu dalam keadaan terluka parah. Tangannya bergetar menahan amarah yang luar biasa, ia bertanya padaku apakah benar sosok yang terikat di pilar itu adalah ibunya. Aku hanya bisa menganggukan kepala dengan menghembuskan nafas panjang.
Ternyata mental Mbak Ayu benar-benar di uji ketika kami baru saja tiba, ia disuguhkan dengan pemandangan yang menyayat hati. Sekujur tubuh Bu Wayan terluka dengan aroma busuk yang memuakkan.
"Lepaskan Mbah Karto dan juga Ibuku. Kalian tidak bisa melakukan semua ini pada mereka. Jazad ibuku sudah menjadi abu, biarlah ia pergi ke alam keabadian dengan tenang."
Seakan baru mendapatkan kesadarannya kembali, Bu Wayan terkejut melihat kedatangan Mbak Ayu di alam itu.
"Kenapa kau datang ke tempat ini anakku? biarlah ibu menanggung semua dosa di tempat ini. Ibu layak menerima sekuao hukuman, karena itu sudah menjadi perjanjian ibu dengan Calon Arang." kata Bu Wayan terbatuk-batuk mengeluarkan darah hitam.
Di dalam tembok batu bercorak gambar naga, terlihat Mbah Karto sedang dililit oleh ular berkepala naga yang sangat besar. Beliau tak sadarkan diri dengan kondisi yang tak kalah mengenaskan dari Bu Wayan. Aku berteriak memanggil Mbah Karto dan ingin mendatangi nya. Tapi Mbak Ayu menahanku, ia memegang erat tanganku.
"Jangan Rania, apa lu lupa pesan Pak Jarwo untuk selalu berada di dekat gue? gue pasti akan melepaskan keduanya dari sini. Percayalah Ran." Mbak Ayu meyakinkan ku dengan memegang erat tanganku.
"Waktumu untuk mengambil keputusan tak akan lama Dahayu, jika tidak lelaki tua itu akan tiada di al ini. Dan selamanya ia akan terjebak bersama kami, menjadi abdi selamanya Calon Arang. Dan jika kau setuju menjadi sang penerus, maka jiwa ibumu juga akan kami bebaskan. Ibumu bisa pergi ke alam keabadian itu, dan tak tersiksa di alam ini."
Berbagai bujuk rayu di ucapkan oleh perempuan berjubah hitam itu, nampak Mbak Ayu mulai goyah. Ia tak ingin melihat ibunya tersiksa disana, apalagi jika Mbah Karto juga harus menjadi korban di alam itu.
"Apa kau juga tak ingin mengetahui siapa yang telah menghasut ibumu untuk mengakhiri hidupnya sendiri Dahayu? ayolah Dahayu bergabung bersama kami, maka hidupmu akan jauh lebih baik. Selain kau bisa mengetahui segalanya mulai sekarang, kau juga bisa mendapatkan apapun yang kau mau. Pikirkan baik-baik ucapanku ini Dahayu hihihihi."
...Apakah Mbak Ayu akan menerima tawaran itu? Mbak Ayu sedang dalam pilihan yang sangat sulit. Menyelamatkan dua jiwa dari alam Mangrahi hanya akan membuatnya terjebak di dunia gelap itu. ...
...Bersambung. ...
Hai othor punya rekomendasi novel yang bagus buat kalian loh.