Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 238 KECURIGAAN TERBUKTI?


Setelah menyatukan kekuatan dengan energi yang berbeda-beda di antara kami bertiga. Akhirnya kami dapat melepaskan ikatan yang melilit tubuh hampa Petter. Ia masih terpejam, dan Aunty Ivanna langsung mendekapnya.


"Lebih baik kita pergi dari sini secepatnya, gue takut kalau masih ada seseorang yang yang berniat jahat di tempat ini. Kayaknya ada yang sengaja menjebak Petter di gudang bawah tanah ini. Kalau keadaan udah kondusif, kita cari tau lagi." Ucap Mbak Ayu menoleh ke berbagai arah.


"Kayaknya lu bener Mbak, ada yang gak beres di tempat ini. Entah apa tujuan makhluk itu ngurung Petter disini. Gak tau itu kehendaknya sendiri, atau atas perintah orang lain. Tugas gue buat usut semuanya setelah ini." Kataku seraya membantu Aunty Ivanna membawa tubuh hampa Petter meninggalkan gedung tua ini.


Sebelum aku melesat meninggalkan gedung ini, aku merasakan ada aura manusia di sekitar sana. Sepertinya ada seseorang yang mengawasi kami dari tadi. Tapi ia tak menampakkan wujudnya, jangan-jangan dia ada hubungannya dengan menghilangnya Petter. Tak ku hiraukan hal itu lagi, dan aku melesat kembali ke rumah kuno. Begitu sampai di dalam kamar, aku dan Mbak Ayu bergegas melesat masuk ke dalam raga kami masing-masing. Setelah jiwa ku masuk kembali ke dalam raga, seketika cahaya putih yang mengelilingi tubuh kami langsung menghilang. Ku lihat Aunty Ivanna masih mendekap tubuh hampa Petter. Ia berlinang air mata dengan mengusap rambut anaknya.


"Aunty maafkan Rania ya... Karena Rania meminta bantuan kalian untuk menjaga Silvia, Petter malah jadi seperti ini." Kataku tertunduk merasa bersalah.


"Nee Rania. Semua yang terjadi bukan salahmu. Ada makhluk jahat yang ingin menjebak Petter, tapi Aunty belum tau siapa yang mengutus mereka."


"Bener tuh Ran. Semuanya bukan salah lu kok! Kita harus selidiki siapa yang udah berbuat begini ke Petter. Bentar deh, gue transfer sedikit kekuatan ke Petter. Biar dia cepet sadar, dan bisa memulihkan energinya. Setelah itu kita bisa denger langsung dari dia, siapa yang udah jebak dia di gedung itu. Dan kenapa dia bisa sampai kesana." Pungkas Mbak Ayu seraya memberikan sedikit energi yang ada di dalam dirinya ke tubuh hampa Petter.


Akhirnya aku bisa bernafas lega, karena sudah menemukan sahabat kecil ku. Mungkin setelah ini, aku harus membiarkan dia dan Mama nya kembali ke alamnya. Aku tak mau membahayakan nya lagi, hanya untuk kepentingan ku sendiri. Nampak tangan kecil Petter bergerak pelan, setelah Mbak Ayu memberikan sedikit energi ke tubuh hampanya. Lalu ia membuka kedua matanya dengan lemah. Ia menatap ke kami satu persatu. Mungkin Petter ingin memastikan dimana ia saat ini. Dan begitu Mamanya memeluknya, Petter langsung merengek dengan mendekap Mama nya. Ia berbicara dengan bahasa Belanda, jadi aku dan Mbak Ayu tak mengerti apa yang ia bicarakan dengan Mamanya.


"Ran dia ngomong apa an sih, gak paham gue!"


"Mana gue tau Mbak! Mereka lagi ngomong bahasa daerah tuh!"


"Iya daerah bagian Belanda sana maksud lu!"


Hanya terlihat adegan haru yang kami lihat. Sampai akhirnya Aunty Ivanna menceritakan apa yang di alami Petter saat berada di rumah Silvia. Dari cerita Petter, menurutnya malam itu ia mendengar suara ku yang meminta tolong. Dan ada seorang temanku yang sudah menunggu nya, di depan gedung tua tadi.


"Hah! Teman ku? Yang mana Petter?" Tanya ku dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Ik ben bang mam. Rania's vriend is erg slecht!" Jawab Petter seraya mendekap Mamanya.


"Maaf Rania... Petter sepertinya masih shock. Dia teringat kejadian dulu, sewaktu Nipon menangkapnya. Biarkan dia tenang dulu, setelah itu dia pasti bisa menceritakan segalanya." Pungkas Aunty Ivanna.


Aku menghembuskan nafas panjang, ku anggukan kepala lalu berjalan ke teras depan. Aku duduk bersama Mbak Ayu untuk menghirup udara segar malam hari.


"Gue gak ngerti kenapa tiba-tiba jadi begini Mbak. Tadi di kantor, Wening ngomong kalau dia udah nego dengan makhluk yang suka sama Silvia. Supaya tuh makhluk gak ganggu Silvia lagi, tapi kenapa yang kita lawan tadi kayak makhluk yang suka sama Silvia ya. Kenapa mereka malah ngincar Petter sih!" Kata ku dengan mengacak rambut kasar.


"Lu yakin kalau makhluk itu udah gak ganggu Silvia juga?"


"Gak tau juga sih Mbak. Karena seharian kan gue gak sama Silvia terus. Tadi dia keluar liputan sama Wening. Dan sebelum mereka pergi, emang gak ada makhluk yang ngikutin Silvia. Makanya Aunty Ivanna gue minta cari Petter aja."


"Jangan-jangan si Wening nego buat nuker Petter dengan keselamatan Silvia?" Celetuk Mbak Ayu dengan membulatkan kedua matanya.


"Kalau itu gue gak yakin sih Mbak. Emang apa istimewanya Petter sampai tuh makhluk mau nuker Silvia hanya untuk dituker sama Petter. Secara kan dia punya hati sama Silvia, kayaknya nego nya bukan buat nuker Petter deh. Tapi bukan berarti gue gak curiga sama Wening ya. Karena dia itu misterius banget orangnya, apalagi dia itu erat banget dengan dunia mistis. Bahkan Pakde nya punya kekuatan yang bisa dibilang hampir mirip kayak Pak Jarwo gitu. Dan ada satu hal lagi yang bikin gue semakin gak nyaman di deket dia Mbak. Wening itu orangnya ambisius banget, dia bahkan terang-terangan ngomong bisa lakuin apa aja buat dapetin apa yang dia mau." Jelas ku seraya mendongakan kepala ke atas, karena ada beberapa demit yang bersliweran di atas rumah ini. Seakan mereka sedang mendengarkan percakapan kami.


"Emangnya apa yang dia mau Ran?" Tanya Mbak Ayu mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi.


"Oh iya lu belum gue ceritain ya. Itu loh Mbak dia bantu Pak Bos buat menjarain Bu Kartika. Sekarang kan Bu Kartika udah masuk penjara, berkat Wening yang ngebuat perempuan licik itu mengakui semua kejahatannya. Dia kerja sama sama makhluk gaib Mbak, dengan memberikan apa yang makhluk itu minta." Jawabku setengah berbisik.


"Dih ngapain lu bisik-bisik sih Ran. Kayak ada yang nguping aja. Emangnya Heni masih melek ya?"


Aku hanya menjelaskan kecurigaan ku, jika beberapa makhluk yang ada di atas sana sedang menguping pembicaraan kami. Karena dari tadi mereka hanya bersliweran di sekitar tempat ini saja.


"Jangan-jangan itu demit yang diperintah..." Ucap Mbak Ayu tak sempat melanjutkan kata-katanya.


Nampak Petter dan Aunty Ivanna baru saja menembus tembok kamar ku. Mereka datang menghampiri kami untuk memberikan penjelasan. Petter menatapku dengan wajah sendu, kedua matanya berkaca-kaca menahan air mata. Ku buka tangan lebar-lebar supaya ia bisa menghambur ke pelukan ku. Begitu tubuh hampa nya ada di dekapan ku, aku hanya bisa merasakan energi hangat darinya. Ku dongakan kepala Petter, dan memintanya untuk tersenyum. Aku tak mau memaksanya untuk bercerita, jika ia memang belum siap menjelaskan yang sebenarnya. Tapi Petter malah menggelengkan kepala seraya membisikkan sesuatu di telinga ku. Satu nama yang memang sudah ku curigai sebelumnya. Aku langsung mengepalkan kedua tangan, begitu Petter menyebutkan nama Wening. Jadi dia yang telah sengaja menyembunyikan sahabat kecil ku ini. Aku benar-benar tak akan memaafkannya.