Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 161 PERJALANAN KERAMAT?


Mbok Genuk sedang duduk dengan menyuapi makan Pramono. Nampak kasih sayang nya begitu tulus pada cucunya itu. Ia bahkan meminta Wati untuk duduk di samping nya, hanya untuk memperhatikan nya, supaya Wati dapat mengurus suaminya seperti yang Mbok Genuk lakukan. Terdengar Wati bertanya, kapan Pramono bisa pulih menjadi orang yang normal. Mbok Genuk mengatakan pada Wati, jika Pramono pasti akan segera sembuh. Dan saat itu semua penderitanya akan sirna.


"Sabar ya Wat, kami ada disini untuk membantu mu. Kau lihat sendiri kan, suamimu yang tampan ini masih sangat sehat meski ia agak lain. Kami akan melakukan yang terbaik, supaya kehidupan pernikahan kalian berjalan sebagaimana mestinya." Ucap ku seraya berjalan ke arahnya.


"Kau beruntung Nduk, mempunyai saudara dan para kerabat yang sangat baik seperti mereka semua. Besok Rania dan Lala akan pergi ke suatu tempat keramat. Semoga tak ada rintangan dalam perjalanan nya. Dan gadis yang bernama Dahayu itu, ia memiliki perewangan yang sangat sakti. Meski berbeda keyakinan, tapi bantuan darinya bisa sangat berguna untuk mu kelak." Pungkas Mbok Genuk.


"Tapi untuk apa Mbok? Aku rela menerima takdir ku untuk bersama Mas Pram. Memang awalnya aku sangat sedih harus menjadi pendamping nya. Tapi setelah mendengar kisah hidupnya, aku merasa tak tega jika mempunyai perasaan menyesal. Aku ikhlas menjaga dan merawat Mas Pramono Mbok." Wati tertunduk dengan berlinang air mata.


Tiba-tiba Pramono menatap wajah Wati, ia mendongakan kepala istrinya ke atas, lalu menyeka air mata yang membasahi pipi. Pramono meminta Wati untuk tak menangis, karena ia tak suka melihatnya bersedih.


"Ke kenapa kau bisa begini?" Kata Wati tercengang dengan menggelengkan kepala nya.


Tak ada jawaban dari Pramono, ia malah berlarian dengan berjingkrak memutari kursi yang kami duduki.


"Itulah yang aku maksud Nduk. Terkadang Pramono bersikap normal, bahkan bertingkah layaknya orang dewasa. Tapi itu tak berselang lama, ia akan kembali lagi ke dunia asalnya. Semoga Lala bisa menemukan jalan untuk memecahkan masalah ini. Dan Rania bisa mendapatkan sesuatu yang telah hilang darinya." Ucap Mbok Genuk dengan menyunggingkan senyumnya.


Karena besok aku harus pergi ke tempat keramat. Aku memutuskan untuk meminta ijin dari Mama dan Papa. Keduanya sedang mengobrol bersama Bude Walimah dan Suaminya. Awalnya Mama melarang ku pergi ke Curug itu, bahkan Papa sempat ingin mengawalku sampai kesana. Tapi aku memberi pengertian pada keduanya, jika tujuanku kesana juga demi kebaikan ku. Bude dan Pakde ku hanya bisa diam tak berkata apa-apa. Mereka tak bisa membantu membujuk kedua orang tua ku. Kemudian aku mengingatkan wasiat terakhir mendiang Simbah Parti. Jika aku harus menggunakan bakat ku untuk membantu orang lain.


"Rania ingin pergi kesana bukan hanya untuk menolong Pramono supaya dapat hidup bahagia bersama Wati. Tapi ada orang lain yang harus Rania tolong dari kekejaman Bu Kartika."


Seketika mereka semua tercengang, mereka terkejut mendengar nama Bu Kartika ku sebut. Bahkan Bude Walimah langsung bertanya, apa hubungannya Bu Kartika dengan perempuan yang ku ceritakan tadi.


"Dia adalah madu nya. Suaminya adalah pemilik Perusahaan besar, anak tirinya yang menjalankan bisnis papa nya. Dan anak tirinya itu adalah Bos Rania di Kantor. Ia curiga jika kematian Mama nya dulu karena perbuatan Bu Kartika. Sebenarnya Rania juga ingin menyelidiki itu. Bu Kartika adalah istri kedua yang serakah, sepertinya ia melenyapkan istri pertama suaminya. Dan sekarang ia berniat untuk menghabisi madu nya juga. Sangat sulit untuk menghentikan nya, tanpa kekuatan apapun yang ada di dalam diri Rania."


Mama dan Papa terlihat sangat cemas dengan keselamatan ku. Ia takut terjadi hal-hal yang tak di inginkan.


"InsyaAllah Rania gak akan kenapa-napa Ma Pa. Dulu aja Rania bisa selamat dari cengkeraman makhluk gaib, bahkan ketika Rania koma, Rania bisa kembali ke kalian semua. Doakan saja, semoga perjalanan kali ini baik-baik saja. Lala akan menemani Rania kok besok, jadi kalian tak usah hawatir."


Setelah berbagai rayuan dan bujukan, akhirnya mereka semua memberikan ijin padaku. Tentunya dengan syarat yang harus ku tepati. Jika setelah rencana ku berhasil, aku harus fokus untuk mencari pendamping hidup. Karena menurut mereka usia ku sudah tepat untuk memiliki pendamping hidup. Meski aku tak bisa berjanji, setidaknya aku mengusahakan syarat mereka. Dan aku meninggalkan mereka di ruang keluarga dengan perasaan yang campur aduk.


"Gue galau Mbak. Padahal belum lama Wati menikah, tapi semua orang tua di rumah ini udah kasih kode keras ke gue buat cari pendamping hidup. Seakan gue udah tua banget tau gak!"


"Ya wajarlah Ran, kalau orang tua kayak gitu. Mungkin kalau kedua orang tua gue masih ada, mereka juga bakal seperti itu." Ucap Mbak Ayu dengan suara sendu.


Aku mengerti kesedihan yang saat ini Mbak Ayu rasakan. Ia sudah tak memiliki siapapun lagi selain Om Dewa. Tapi saat ini, nyawa Om Dewa juga sedang terancam. Aku merangkul Mbak Ayu untuk memberikan semangat padanya.


"Kan masih ada keluarga gue Mbak, mereka semua juga bagian dari keluarga lu. Jadi jangan pernah merasa gak punya orang tua lagi, oke?"


"Makasih ya Ran, lu selalu ada buat gue. Kalau gak ada lu, gak tahu apa yang akan terjadi dengan gue ke depannya."


"Tentu aja ke depannya kita semua akan melanjutkan hidup masing-masing Mbak. Tentunya dengan pasangan masing-masing, ya gak?" Celetuk Lala seraya berjalan menghampiri kami.


Kami semua saling merangkul dan menguatkan diri. Kemudian aku kembali bertanya mengenai kabar Om Dewa. Tapi menurut Mbak Ayu, ia belum bisa menghubungi Om Dewa karena ponselnya tak bisa dihubungi.


"Sebenarnya gue jadi mencemaskan Om Dewa. Ia satu-satunya keluarga terdekat gue yang masih ada, jika sampai terjadi sesuatu padanya. Entah apa yang akan gue lakukan!"


"Berdoa Mbak, InsyaAllah semua akan baik-baik aja. Daripada gelisah kayak gini, mendingan ikut aku yuk ketemu Senopati anakku. Aku ingin memintanya memanggil romo nya supaya bertemu denganku. Aku harus mengajukan permintaan tolong secara langsung. Aku ingin menghentikan Pak Mitro, supaya ia sendiri yang akan dimangsa Buto ireng yang disembah nya. Tanpa bantuan dari Kangmas Elang, aku tak bisa menghentikan perbuatan Pak Mitro."


Mbak Ayu mengaitkan kedua alis mata, ia sangat penasaran mendengar Lala menyebut nama Elang.


"Memang nya Elang itu siapa La? Kenapa lu manggil dia Kangmas? Emangnya dia Abang lu?" Tanya Mbak Ayu dengan menggaruk kepala yang tak gatal.


Lala tak langsung menjawab pertanyaan Mbak Ayu. Ia menghembuskan nafas panjang sebelum menceritakan siapa Elang sebenarnya.


"Kangmas Elang adalah mantan suami gaib ku Mbak. Dia adalah Romo nya Senopati, Raja Buto di alam nya sana. Dengan bantuan darinya, kita bisa membuat Pak Mitro dimangsa oleh Buto yang disembah nya sendiri. Supaya Pramono dapat sembuh dari cacat mentalnya, dan Wati dapat memiliki suami yang normal supaya kehidupan pernikahannya berjalan dengan semestinya." Jelas Lala seraya mengajak kami ke kebun belakang rumah.


Kami semua mengikuti langkah Lala, sampai akhirnya ia berhenti tepat di bawah pohon besar. Lalu ia memejamkan kedua matanya seraya membaca rapalan mantra. Tiba-tiba ia mengeluarkan sebilah pisau, lalu menyayat jarinya hingga darah segar mengucur keluar. Tak lama sesosok bayangan hitam membentuk tubuh seorang lelaki nampak muncul tepat di hadapan Lala. Aku dan Mbak Ayu tercekat dengan membulatkan kedua mata. Sosok tinggi besar, dengan wajah rupawan menyatukan kedua tangannya di hadapan Lala. Nampak Lala menyunggingkan senyumnya seraya memeluk sosok itu. Senopati sudah tumbuh lebih cepat daripada yang ku kira, mungkin di alamnya sana ia sudah memiliki pendamping. Kini Mbak Ayu mulai menggoncang-goncangkan lengan ku. Menurutnya anak gaib Lala sangat tampan, hingga membuatnya terpana pada pandangan pertama.