
Pagi ini kami bersama pergi ke alamat yang diberikan Tante Ajeng. Aku sengaja meminjam motor milik salah satu rekan kerjaku, supaya aku dan Mbak Ayu lebih leluasa mencari alamat orang pintar itu. Berbekal alamat yang kami cocokan di Google Maps, kami akhirnya sampai di sekitar lokasi.
"Permisi bu, saya mau tanya dimana alamat rumah Bapak Tubagus?"
"Oh adek-adek ini mau berobat atau ada perlu yang lainnya? mari saya antarkan, kebetulan saya baru dari sana minta petunjuk sama beliau. Karena motor anak saya habis dicuri orang, jadi saya ingin tahu siapa dan dimana malingnya sekarang." kata perempuan paruh baya itu.
Aku dan Mbak Ayu hanya saling pandang, tak tahu harus menjawab apa. Aku pun berusaha mengalihkan pembicaraan, dan menanyakan apa orang yang kami cari sudah lama mendalami praktek nya. Ibu itu menjelaskan jika lelaki yang bernama Tubagus itu sudah terkenal, dan memiliki banyak pelanggan.
"Beliau dapat membantu menyelesaikan berbagai masalah, pokoknya banyak yang sudah mendatangi nya. Adek gak salah tempat kalau ingin meminta pertolongan."
Kami sampai di sebuah rumah tradisional dengan halaman luas yang terparkir mobil-mobil mewah. Di sisi kiri ada sebuah pendopo yang ramai orang sedang duduk sesuai barisan. Aku bertanya pada ibu itu, kenapa banyak orang yang duduk di pendopo itu. Menurut si ibu, yang sedang duduk disana adalah orang-orang yang sedang antri untuk bertemu dengan Pak Tubagus.
"Loh terus kenapa ibu ajak kami langsung masuk ke dalam rumah ini?"
"Kalian beruntung karena bertemu denganku, aku ini kan kerabat jauhnya Pak Tubagus, jadi aku akan membawa kalian bertemu dengannya tanpa perlu melewati antrian panjang itu." jelasnya seraya menunjuk ke arah pendopo yang dipenuhi orang-orang.
Aku mengaitkan kedua alis mata merasa familiar dengan seseorang yang duduk di salah satu kursi pendopo.
"Ayo dek silahkan masuk ke dalam." ucap Ibu itu seraya membukakan pintu.
Aku masih memikirkan orang yang duduk di pendopo tadi, entah kenapa aku merasa tak asing dengan wajahnya. Tiba-tiba Mbak Ayu menyikut lenganku, ia menaikan dagunya memberi kode padaku. Rupanya Mbak Ayu tahu kalau aku sedang memikirkan sesuatu. Aku hanya menggelengkan kepala, membuatnya penasaran dengan apa yang sedang aku pikirkan.
"Selamat datang sang penerus, apa yang membuatmu jauh-jauh datang menemuiku Dahayu?" ucap seorang lelaki yang memakai udeng bali dan sarung yang berwarna senada.
Mbak Ayu membulatkan kedua matanya, ia terkejut mengetahui jika lelaki yang kini duduk di hadapannya mengetahui siapa dirinya.
"Tak perlu bertanya-tanya, aku yang akan menjelaskan padamu."
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu menghentikan lelaki itu melanjutkan ucapannya. Seorang perempuan mengenakan kerudung masuk ke dalam di antar ibu yang membawa kami tadi. Lelaki itu meminta orang itu untuk menunggu di ruang samping. Dan ketika ia menaikan kepalanya untuk memberi salam pada Pak Tubagus, barulah aku tahu jika perempuan itu adalah istri dari Pak Markum. Kami sama-sama terkejut ketika saling memandang, ia berjalan tergesa-gesa mengikuti langkah perempuan di depan nya.
"Kenapa istri Pak Markum datang kesini ya?" batinku di dalam hati penuh tanya.
"Jadi begini Dahayu." katanya menghembuskan nafas panjang.
Mbak Ayu menghembuskan nafas panjang, ia mengatakan ingin melakukan penukaran persembahan. Tapi Pak Tubagus malah terkekeh mendengar perkataan Mbak Ayu. Ia merasa seharusnya Mbak Ayu bisa melakukannya sendiri.
"Aku belum memiliki kemampuan untuk itu Pak, hanya melindungi diriku sendiri saja yang aku bisa. Karena aku belum pernah melakukan apapun untuk Calon Arang, jadi ia tak membiarkan mu memiliki kekuatan semacam itu."
"Baiklah kita lakukan sekarang juga sebelum tengah malam, tapi pertukaran itu akan berhasil jika Calon Arang sendiri yang memilih persembahan nya. Dengan kata lain seseorang yang secara tak sadar sedang kau pikirkan, dialah yang akan menggantikannya. Jagalah pikiranmu dan jangan salah memikirkan sesuatu yang akan membuatmu menyesal."
Mereka bersiap untuk melakukan ritual di dalam sebuah ruangan tertutup. Karena aku tak memiliki kepentingan apapun disana, aku harus menunggu diluar. Ku lihat istri Pak Markum masih ada di ruang samping bersama tiga orang lainnya.
"Loh ibu masih ada disini ya, saya kira sudah pulang." kataku menyapa perempuan yang mengantarku ke tempat ini.
"Eh iya nih dek, saya diminta ngebantu nerima tamu. Kebetulan hari ini Bapak kan ada tamu spesial, jadi yang lain diminta menunggu."
"Kalau saya boleh tahu perempuan yang pakai kerudung itu mau apa ya bu kesini?"
"Emangnya adek kenal?"
"Gak kenal sih bu, hanya penasaran aja karena perempuan itu yang pertama saya lihat di dalam rumah tadi."
"Saya juga gak kenal sih dek, tapi ibu itu sering datang kesini minta perlindungan dari Bapak. Katanya ada hantu gentayangan yang suka ganggu keluarganya. Yang saya denger dari Bapak, ibu itu di gentayangin sama arwah orang yang dulu pernah dia celakai. Ya namanya juga manusia dek, ada yang baik pasti juga ada yang jahat. Dia sendiri udah nyelakain orang tapi takut dihantui. Sebenarnya Pak Tubagus gak mau bantu ibu itu dek, tapi dia terus memohon setiap kali datang kesini. Karena tidak tega akhirnya ya dibantu juga, tapi hantu itu tetap aja masih gentayangan disekitarnya. Mungkin karena masih dendam jadinya arwahnya gentayangan."
Aku tercengang mendengar perkataan ibu itu, tak ku sangka ia akan menceritakan sedetail ini. Padahal aku hanya sedikit memancingnya, rupanya ibu ini jenis ibu-ibu yang suka bergosip dengan orang lain. Tapi setidaknya aku beruntung mendapatkan informasi ini darinya.
"Dek Rania kan?" kata seseorang menyapaku.
Dan ketika ku balikan badan, ternyata istri Pak Markum yang datang menyapaku.
"Loh ibu ini kenal sama adek toh?" tanya si ibu itu terkejut.
"Hmm tidak kok bu, kebetulan saya ini jurnalis yang pernah meliput di sekitar tempat tinggal ibu ini. Makanya saya merasa kenal dengan ibu ini." jelasku membuat si ibu agak canggung, karena ia merasa tak enak hati sudah bergosip mengenai istri Pak Markum.
...Bersambung. ...