
Wening sudah dilanda kebingungan untuk membantu salah satu nya. Ia melihat Pakde nya sudah terperosok di semak-semak. Sementara si merah sudah terkepung asap tebal yang dibuat Mbok Genuk. Tak berselang lama nampak Mbok Genuk keluar dari kepulan asap dengan merantai tubuh hampa merah dengan lilitan ular berapi yang ia pegang. Wening pun membulatkan kedua mata, menatap neneknya dengan penuh amarah.
"Lepaskan merah! Jika Simbah masih mau ku anggap sebagai nenek ku!" Pekik Wening dengan berkacak pinggang.
"Sadarlah Nduk, Warto hanya mau mempengaruhi mu untuk membalaskan dendam yang tak akan berujung itu. Tak ada gunanya kau melakukan ini semua. Kembalilah ke jalan yang benar, Simbah nanti akan membimbing mu Nduk." Ucap Mbok Genuk dengan mata berkaca-kaca.
"Dari kecil kau tak pernah menjenguk ku sekalipun. Sejak Bening tiada, kau beranggapan aku yang bersalah. Dan kau lebih menginginkan Bening yang hidup kan? Karena itulah kau lebih memilih membantu jiwa Bening kembali ke alamnya. Dan sekarang disaat aku ingin membalas budi pada Mbah Wongso, kau berusaha mempengaruhi ku! Cepat lepaskan merah sebelum aku mencelakai mu Mbah!" Pekik Wening dengan mengepalkan kedua tangan.
Mbok Genuk tak bergeming, ia justru berusaha memasukan si merah ke dalam botol. Begitu merah tersedot ke dalam botol, Wening pun akhirnya menggunakan kekuatan nya untuk menghentikan Mbok Genuk. Ia mengeluarkan energi panas berwarna kebiruan yang kini melesat ke arah neneknya sendiri. Aku sudah tak bisa menahan diri lagi, karena Mbok Genuk tak mungkin membalas serangan Wening. Sementara ia masih fokus memasukan merah ke dalam botol, yang hampir seluruh tubuh hampanya terkurung. Langsung ku tangkis serangannya, dan memantul ke tubuh Wening sendiri. Sepertinya Wening tak sungguh-sungguh ingin mencelakai Mbok Genuk, karena itulah ia tak fokus dengan serangan nya sendiri yang ku tangkis. Wening terkapar setelah terkena ilmunya sendiri, dan aku dengan cepat mengalungkan liontin pemberian Pangeran Jin ke leher Wening.
"Aaarggghh sakiiit! Toloong aku Pakde aarrgghh...." Pekik Wening tergeletak dengan meronta-ronta.
Aku melihat ke arah Pak Warto tadi tergeletak di semak-semak, dan Pak Jarwo melesat kesana. Tapi ia menggelengkan kepala, menurutnya Pak Warto sudah tak ada disana. Sepertinya setelah Pak Jarwo berhasil melukai titik kelemahan nya, Pak Warto melarikan diri tanpa memperdulikan keselamatan keponakannya sendiri.
"Wo simpanlah botol ini, atau kau minta saja Pak Haji untuk memusnahkan kuntilanak merah itu. Biar cucuku aku yang mengurus nya." Pungkas Mbok Genuk dengan suara bergetar.
"Ini semua yang terbaik untuk Wening Mbok. Jika setelah ini ia menjadi seseorang yang berbeda, itu sudah takdir karena jalan yang dipilihnya." Ucap Pak Jarwo seraya menjelaskan, jika setelah ini energi dan kekuatan jahat di dalam tubuh Wening akan menghilang.
Aku langsung menggenggam tangan Mbok Genuk, aku merasa agak bersalah karena membuat Wening jadi tersiksa di hadapannya. Karena sekarang tubuh Wening bergetar hebat, dan ia memuntahkan darah segar dari mulut nya. Sepertinya itu adalah efek dari segala energi jahat yang keluar dari dalam tubuhnya. Cahaya hitam masuk ke dalam liontin yang masih melingkar di lehernya. Dari atas kepala Wening mengeluarkan kepulan asap hitam yang melayang ke atas udara.
"Astaghfirullahalazim."
"Ada apa Pak?" Tanya ku mengaitkan kedua alis mata.
Hening tak ada jawaban dari Pak Jarwo, ia justru menatap Mbok Genuk yang langsung tertunduk dengan berlinang air mata. Pak Jarwo baru menjawab pertanyaan ku, setelah Mbok Genuk menganggukkan kepala.
Kini Wening sudah tak sadarkan diri, lalu Pak Jarwo melepaskan liontin dari lehernya, dan memberikan padaku. Mbok Genuk berjongkok dengan berlinang air mata, ia membelai lembuh wajah Wening yang sudah tak sadarkan diri.
"Kita harus membawa Wening ke rumah sakit secepatnya Mbok. Tapi sekarang warga pasti sudah menuju ke pemakaman untuk mengebumikan tulang-tulang Bening. Jika Mbok Genuk ingin mengantarkan Bening ke tempat peristirahatan terakhirnya, biar aku saja yang membawa Wening ke rumah sakit. Rania kau antarkan Mbok Genuk ke pemakaman, dan berikan botol ini pada Pak Haji." Titah Pak Jarwo seraya menyerahkan botol kayu yang di dalamnya ada si merah.
Kami bersama-sama keluar dari Hutan batas Desa. Diluar sana sudah ada beberapa warga yang menunggu di dalam mobil. Nampak wajah mereka sangat kesal ketika melihat Pak Jarwo membantu menolong Wening. Menurut mereka cucu Mbah Wongso tak seharusnya ditolong oleh mereka. Cukup satu cucunya saja yang mereka bantu, tapi mereka juga tak tau fakta jika Wening juga cucu Mbok Genuk. Orang yang telah membantu mereka hari ini. Aku menggenggam tangan Mbok Genuk untuk memberinya suport.
"Jangan di ambil hati ya Mbok. Semua warga bukannya membenci Wening, mereka hanya ketakutan. Nanti biar Rania yang jelaskan ke mereka semua."
Tak ada jawaban dari Mbok Genuk, ia hanya diam memperhatikan cucunya yang masih tak sadarkan diri. Sampai akhirnya mobil yang mereka tumpangi melaju pergi.
"Aku tak apa-apa kok Nduk. Aku hanya tak menyangka jika Warto tega meninggalkan Wening disaat ia berteriak meminta pertolongan. Wening jadi sesat karena ajaran Warto yang salah, tapi ia tak memperdulikan keadaan keponakannya sama sekali. Kenapa ia tega meninggalkan Wening begitu saja, padahal Wening lebih memilih percaya pada Warto timbang padaku, neneknya sendiri." Ucap Mbok Genuk dengan berlinang air mata.
"Yang sabar ya Mbok. Rania paham dengan perasaan Mbok Genuk saat ini. Tapi semua sudah terjadi, pikiran Wening sudah diracuni kebencian oleh Pak Warto. Semoga saja setelah semua energi jahat dan ilmu hitam yang ada di dalam dirinya menghilang, Wening bisa sadar dan tak mengulangi kesalahan yang sama."
Kami bersama menuju ke pemakaman Desa, disana sudah banyak warga yang membantu Pak Haji menyiapkan liang lahat. Semua orang menatap kami dengan penuh tanya. Tapi kami lebih memilih fokus untuk membacakan doa, supaya jiwa Bening dapat kembali ke alam keabadian dengan tenang. Disaat beberapa warga membantu menutup liang lahat dengan tanah. Ada sekelebat bayangan putih yang melesat di bawah pohon beringin. Ku lihat jiwa Bening ada disana dengan menyunggingkan senyumnya.
"Mbok sepertinya Bening ingin berpamitan pada kita." Kataku seraya menunjuk ke pohon beringin, dimana jiwa Bening berdiri mengambang.
Mbok Genuk langsung menitikan air mata, ia berjalan tertatih menghampiri Bening. Aku mengikuti langkahnya dari belakang, dan Bening langsung mengucapkan terima kasih dan berpamitan.
"Maaf sudah menimbulkan masalah sebelum kepergian ku. Jika bukan karena kalian semua, mungkin jiwa ku akan selamanya terlunta-lunta di alam fana ini. Simbah maafkan Bening telah membuat Simbah melawan Wening. Sampaikan permintaan maaf ku padanya, katakan pada Wening jika Bening sangat menyayangi nya." Kata Bening sebelum akhirnya ia terbang ke atas udara.
Akhirnya Bening akan kembali ke tempat yang semestinya. Ada cahaya menyilaukan mata di atas udara, cahaya yang di dalamnya terdapat dua pintu gerbang tinggi berwarna putih menjulang. Bening terbang ke atas sana sampai akhirnya wujudnya tak terlihat lagi. Ku panjatkan doa-doa terbaik untuknya, semoga ia bisa tenang di alam keabadian.