Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 247 SIAPA YANG BENAR?


Aku sudah sampai di kantor lebih cepat dari semua orang. Tapi ternyata Wening juga datang lebih cepat dari biasanya. Ia sudah duduk di meja kerjanya, dan aku memilih tak menghiraukan nya. Aku duduk dan menghidupkan komputer, lalu membaca jurnal yang baru saja ku keluarkan dari dalam ransel. Sepertinya hari ini aku harus menggantikan tugas lapangan salah satu rekan yang cuti. Aku menghembuskan nafas panjang, berharap aku tak dipasangkan dengan Wening. Karena saat ini aku masih sedikit shock, dan tak tau bagaimana caranya berhadapan langsung dengan Wening. Dari kejauhan nampak sosok Bening berdiri mengambang melihat kembaran nya dari jauh. Nampak sorot mata kesedihan yang dipancarkan, sepertinya ia sangat sedih melihat kehidupan kembaran nya yang dipenuhi dendam.


"Hai anak indihome, tumben pagi sekali datangnya?" Sapa salah satu rekan kerja ku.


"Kampret lu! Ngagetin gue aja sih! Lu hari ini ada tugas lapangan sama siapa?" Tanya ku seraya membalikkan tubuh.


"Belum tau Ran, sesuai perintah aja sih gue. Emangnya lu di lapangan juga?"


"Iya nih, paling males gue." Kataku menghembuskan nafas panjang.


Setelah rekan ku itu pergi, aku menyimpan beberapa berkas penting ke dalam flashdisk. Satu persatu pegawai mulai berdatangan, termasuk Silvia yang membawakan nasi uduk untukku.


"Nih makan dulu sebelum jam kerja dimulai!" Seru Silvia seraya meletakkan bungkusan di atas meja ku.


"Lu tau darimana gue belum sarapan Sil?"


"Itu tadi Wening nitip sarapan ke gue, katanya sekalian beliin buat lu juga. Kalian kompakan ya datang lebih pagi, sampai gak sempat sarapan?"


Aku mendongakkan kepala melihat ke meja kerja Wening. Ia sedang melambaikan tangannya dengan menyunggingkan senyumnya. Ia meminta ku untuk sarapan sebelum bekerja, setelah itu ia melahap nasi uduk yang ada di atas mejanya. Ternyata ia masih bersikap seakan tak ada apa-apa, mungkinkah sosok Bening benar-benar tak mengatakan apapun pada kembaran nya. Ya sudahlah, aku juga akan bersikap normal seperti biasanya. Waktu masih menunjukkan pukul 07.30 Wib. Masih ada setengah jam lagi, jadi aku menyantap nasi uduk yang dibawakan Silvia tadi. Dan tinggal satu sendok makan saja, Mbak Rika malah datang memberiku tugas meliput bersama Wening. Seketika aku terkejut sampai terbatuk, lalu Silvia memberikan segelas air minum.


"Kenapa sih sampai batuk-batuk? Gue belum ngomong loh tugasnya apa an. Kok udah kayak yang terkejut duluan, kenapa?" Tanya Mbak Rika menatap ku serius.


"Gak apa-apa kok Mbak, emang mau ngeliput apa an?" Jawabku tak mengatakan yang sebenarnya.


"Nah pertanyaan bagus buat lu! Lu harus ngeliput di persidangan Bu Kartika, bagaimanapun kita gak boleh tertinggal dari media lain. Meski dia adalah istri CEO perusahaan ini. Karena ini perintah langsung dari Pak Bos."


Aku hanya menundukkan kepala tak tau harus bereaksi bagaimana. Semoga saja Bu Kartika tak membuat ulah selama persidangan, karena aku tau dia sangat temperamen. Bisa-bisa dia mengamuk jika melihatku ada disana.


"Hmm sama Rania aja deh. Soalnya ini permintaan langsung dari Pak Bos, karena kan kalian berdua yang berjasa ngusut kasus ini. Kalau udah kelar langsung kirim ke email aja, dan kalian bisa langsung hunting foto buat artikel rekomendasi kuliner minggu depan. Bisa kan kalian berdua pergi?"


Aku hanya menganggukkan kepala seraya mengangkat ibu jari. Terpaksa aku mengikuti perintah Mbak Rika, karena itu adalah tugas langsung yang diberikan Pak Bos. Kami bersiap membawa semua peralatan ke dalam mobil. Mbak Rika membantu membawakan beberapa barang sampai ke Lobby.


"Kalau lu hawatir Bu Kartika bakal marah pas lihat lu. Biar si Wening aja yang wawancara, jadinya lu yang pegang kamera. Toh mereka belum pernah bertatap muka, pasti Bu Kartika gak akan marah deh."


"Ya udah gitu aja deh Mbak. Gue jalan duluan ya." Kataku seraya masuk ke dalam mobil.


Wening mengemudikan mobil dan bercerita jika sosok Bening sekarang sering murung, sejak ia tak bisa bertemu dengan Petter lagi.


"Emangnya Petter udah balik ke alamnya ya Ran? Gue jadi kasihan sama si Bening, dia udah gak punya harapan buat berteman lagi sama Petter."


"Iya Wen. Petter udah balik ke alamnya. Kalau emang lu kasihan sama si Bening, minta aja dia buat kembali ke alam keabadian. Justru itu akan buat dia semakin tenang dan damai, karena tempatnya emang bukan di alam kita lagi."


Chiiiit.


Wening menginjak rem mendadak. Ia membulatkan kedua matanya dengan mengepalkan tangannya. Tanpa ku duga, Wening mengatakan jika ia juga ingin mengirimkan Bening kembali ke alamnya. Tapi jiwa kembaran nya itu tak bisa tenang, sebelum mereka membalaskan dendam kematian Kakek mereka.


"Mungkin lu gak tau, kalau jiwa Bening udah lama gentayangan sebelum semua petaka itu terjadi. Almarhum Mbah gue sendiri yang bangkitin dia dari kubur. Mbah gue terlalu sayang sama Bening, tapi ternyata takdir berkata lain karena Mbah gue tewas di tangan saudaranya sendiri. Dan sekarang jiwa Bening jadi gentayangan gak karuan, karena dia pengen menuntut balas sebelum dia kembali ke alamnya." Pungkas Wening mengaitkan kedua alis mata.


"Jadi maksdunya Bening juga pengen membalas dendam atas kematian Kakek lu? Tapi apa lu gak salah, karena gue pernah pas-pasan sama dia sewaktu barengan sama lu kemarin. Dan gue gak ngerasa ada aura dendam atau marah dari jiwa nya."


"Lu gak tau apa-apa tentang saudara kembar gue Rania. Bagaimanapun dia itu demit, dia bisa memutar balikkan fakta yang ada. Dan hanya gue yang tau watak aslinya, karena si Bening udah setuju buat bantu gue balas dendam ke semua orang yang nyakitin hidup keluarga kita. Baru setelah itu, Bening bisa istirahat dengan tenang di alamnya." Jelas Wening tersenyum melalui sudut bibirnya.


Aku semakin bingung dengan ucapan kedua saudara kembar ini. Entah mana yang bisa ku percaya, karena keduanya seakan membuat alibi masing-masing. Aku menghembuskan nafas panjang seraya memijat pangkal hidung. Semoga aku tak tertipu dengan kedua saudara kembar ini, batinku di dalam hati.