Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 195 KEMBALI KE ALAM KEABADIAN.


Aku bersama Beny bersiap pergi ke kantor polisi dengan peralatan tempur kami. Tapi Denis menyusul, dan meminta ijin untuk ikut bersama kami. Ia mengatakan ingin memastikan Sinto Gendeng mengakui yang sebenarnya. Karena dia sebagai saksi mata di lokasi bisa memberikan keterangan pada polisi juga. Dan jika itu semakin melebar, akan berdampak juga dengan karirnya sebagai sutradara.


"Tapi kau juga akan terkena dampaknya Den, apa sudah kau pertimbangkan?" Tanya ku dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Iya, gak masalah. Masih banyak pekerjaan di dunia ini, tak hanya di dunia perfilman aja kan." Jawabnya menyunggingkan senyum.


"Eh ya udah buruan pada masuk mobil. Kenapa pada ngelamun coba!" Seru Beny yang sudah siap di depan kemudi.


Akhirnya kami semua meninggalkan kantor, jalanan yang cenderung ramai dan macet ketika sore hari sangat membuat jenuh. Nampak sosok Dila tiba-tiba datang, ia duduk di samping Denis dengan mata berkaca-kaca. Dila mengucapkan salam perpisahan pada Denis dengan berlinang air mata. Karena sebentar lagi keadilan untuknya akan didapatkan. Sehingga jiwa nya harus kembali ke alam keabadian, karena segala urusan nya di alam manusia sudah selesai. Aku melihatnya melalui kaca, dan membuat ku hanyut dalam kesedihan.


"Denis, ada yang ingin Dila ucapkan padamu sebelum ia benar-benar pergi ke alamnya. Dia sangat berterima kasih, karena kau mau menguak kebenaran dan mengorbankan masa depanmu sendiri. Dila minta maaf kalau terkadang membuat mu takut, karena kehadiran nya. Tapi dia gak ada maksud buat nakutin sama sekali." Itulah pesan Dila yang harus ku sampaikan pada Denis.


Tak ada jawaban dari Denis, ia hanya menundukkan kepala dengan bulir-bulir bening yang membasahi pipi nya. Sementara Beny yang nyali nya setipis tisu mulai ketakutan, ia bergumam jika kali ini ia membawa penumpang tak kasat mata juga. Aku terkekeh melihat raut wajah Beny yang berpeluh menahan takut. Sampai akhirnya kami tiba di kantor polisi, dan Beny dapat menghembuskan nafas lega.


"Akhirnya sampai juga, gak lagi-lagi deh gue bawa penumpang gelap!" Celetuknya seraya mengusap peluh di keningnya.


"Eh hati-hati kalau ngomong Ben, kalau ada yang tersinggung gue gak jamin keselamatan lu ya!" Gurau ku menakuti nya.


Beny langsung menggenggam tangan ku dengan erat. Ia menoleh ke berbagai arah seraya komat kamit entah membaca apa.


"Ampun Mbah, jangan ganggu saya. Gak apa-apa kok numpang, asal jangan menampakkan wujud aja ya Mbak!"


"Hahaha gila lu Ben. Udah ah yuk turun, bawa semua peralatan lu!" Kata ku seraya menarik tangan dari genggamannya.


Denis sudah turun dan membantu Beny membawa berbagai peralatan yang akan kami gunakan untuk liputan. Sementara sosok Dila melesat masuk ke dalam kantor polisi, sepertinya ia tak sabar menunggu pengakuan dari Sinto Gendeng.


"Langsung masuk ke ruangan belakang aja. Karena sepertinya informasi mengenai pemanggilan sutradara itu bocor ke publik. Sudah ada beberapa jurnalis yang datang, biar ga terjadi keributan. Makanya aku kasih kalian ruangan buat ngeliput sutradara itu."


"Wah Rania dapat hak istimewa dari Bapak Polisi nih. Cuma redaksi kita doang nih yang ngeliput wawancara nya." Pungkas Beny seraya menyikut lengan ku.


Aku mencubit lengan Beny karena merasa canggung di depan Mas Adit. Setelah itu kami semua mengikuti Mas Adit pergi ke ruangan yang sudah disiapkan. Nampak sutradara itu belum datang, tapi Mas Adit sudah mengkonfirmasi jika Sinto Gendeng akan datang memenuhi panggilan polisi. Aku bersama Beny sudah meletakan kamera di beberapa sudut ruangan. Tak lama setelah itu, sang sutradara datang bersama kuasa hukumnya. Dari semua pertanyaan yang petugas tanyakan, hanya pengacara nya saja yang menjawab pertanyaan. Sepertinya Sinto Gendeng sengaja bungkam, karena tak mau salah dalam berucap. Nampak sosok Dila mulai kesal, karena sutradara itu tak kunjung membuat pengakuan kalau dia merasa bersalah telah menyebarkan berita hoax. Sosok Dila melesat mendekat ke arah sutradara itu duduk, Dila berusaha menyentuh tubuh Sinto Gendeng, meski selalu menembus tubuhnya. Tapi pergerakan Dila membuat Sinto Gendeng merinding, ia mengusap belakang tengkuknya beberapa kali. Dan Mas Adit mengatakan sesuatu yang memancing sutradara itu untuk mengakui kesalahannya.


"Apakah anda tau, jika seseorang yang meninggal secara tak wajar seperti itu biasanya gentayangan untuk menuntut keadilan. Anda hanya perlu mengakui kebenaran, karena banyak bukti video yang tersebar di publik. Jika anda terus mengelak, saya rasa tak akan baik untuk karir anda ke depannya!"


Nampaknya ucapan Mas Adit berhasil mempengaruhi nya, Sinto Gendeng menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya buka mulut. Ia mengaku salah, karena bertindak gegabah dengan meminta Dila melakukan adegannya.


Kami semua langsung bernafas lega, akhirnya sutradara itu mengakui perbuatannya. Nampak sosok Dila akhirnya dapat tersenyum, dengan mata berkaca-kaca. Karena Sinto Gendeng akhirnya mengucapkan permintaan maaf kepada keluarga Dila. Tak lama setelah itu sosok Dila melayang ke udara, nampak cahaya putih yang menyoroti tubuh hampa nya. Inilah saat nya Dila kembali ke alam keabadian, setelah ia mendapatkan keadilan. Hanya pengakuan dan ucapan maaf saja yang Dila butuhkan. Sosoknya yang sebelumnya menyeramkan berubah menjadi cantik, dengan gaun putih bersih panjang yang menjuntai ke lantai. Dila menyunggingkan senyumnya seraya mengucapkan terima kasih padaku. Sampai akhirnya ia benar-benar menghilang ditelan asap berwarna putih. Tanpa sadar aku meneteskan air mata seraya melambaikan tangan. Dan teriakan Beny di depan telinga menyadarkan ku.


"Lu ngapain dada-dada sih? Gak usah bikin takut deh Ran!" Pungkas Beny bergidik.


"Sepertinya Rania baru saja mengucapkan perpisahan pada Dila. Akhirnya semua masalah sudah selesai, dan aku pun dapat bernafas lega." Sahut Denis seraya menganggukkan kepala.


Nampak Mas Adit sedang melakukan mediasi dengan Sinto Gendeng. Ia mengatakan, jika pihak keluarga Dila tak terima ada kemungkinan mereka menuntut nya. Dan sutradara itu hanya pasrah mendengar penjelasan itu. Aku dan Beny sudah merekam semua percakapan mereka. Dan kini kami harus kembali ke kantor sebelum Mbak Rika pulang. Aku dan Beny berpamitan pada Denis, karena ia masih ada urusan di kantor polisi.


"Mas terima kasih ya, udah kasih ruang eksklusif buat redaksi kami." Ucap ku pada Mas Adit.


"Sama-sama Rania, setelah ini langsung pulang aja. Kasihan Ce Edoh pasti nungguin kau pulang." Pungkas Mas Adit seraya mengusap rambut ku.


Setelah itu aku bersama Beny bergegas kembali ke kantor. Dan sesampainya di kantor, Mbak Rika sudah menantikan kedatangan kami.


"Pekerjaan kalian hari ini sempurna, gak ada jurnalis lain yang meliput berita ini. Besok redaksi kita akan berada di urutan nomor 1 berkat kalian."


Nampak Pak Arya baru saja keluar dari ruangan nya, ia menghampiri kami dan mengucapkan selamat.


"Maaf tadi siang saya sudah bersikap kasarkasar pada team kalian."


"Gak apa-apa kok Pak, kami paham dengan kecemasan Pak Arya." Jawab Mbak Rika menyunggingkan senyumnya.


Tiba-tiba ponselku berdering, nampak panggilan telepon dari Mbak Ayu. Ia sedang mengadakan ritual tertentu, karena saat ini jenazah Om Dewa masih ada di rumah adat. Mbak Ayu menjelaskan mengenai Upacara ngaben yang akan dilakukan adalah Ngaben Sawa Wedana yaitu merupakan upacara ngaben yang jenazah nya masih utuh tanpa dikubur terlebih dahulu.


"Upacara kaya gini biasanya dilakukan dalam kurun waktu 3-7 hari terhitung dari hari meninggalnya orang itu Ran. Jadi setelah prosesi kremasi dan melarung abu nya, Mama dan Papa lu akan balik ke Kalimantan. Gue juga bakal balik lusa nya, apa ada masalah lagi disana?"


"Gak ada kok Mbak, ini juga gue masih di Kantor. Bentar lagi mau balik, kasihan Ce Edoh sendirian sama keponakannya."


"Ya udah gue cuma mau ngasih tahu itu aja. Jaga diri lu disana, kalau Tante Ajeng datang lagi kabarin gue ya. Kayaknya gue bakal bikin perhitungan sama dia. Bahkan tadi gue ngabarin anaknya kan, kalau Papa nya udah meninggal. Jawaban anaknya malah ngeselin tau gak. Kayaknya Tante Ajeng ngehasut anaknya supaya tuh anak benci sama Papa nya."


Wah benar-benar parah sih kalau Tante Ajeng sampai melakukan itu. Padahal dia tahu, kalau anaknya gak akan pernah bisa ketemu Papa nya lagi. Tapi Tante Ajeng malah buat sandiwara yang membuat anaknya gak mau tau kalau orang tua nya udah meninggal. Semoga saja kelak anak itu tak menyesali keputusan nya. Karena ia akan menjadi anak durhaka dengan mengacuhkan orang tuanya yang telah tiada.