Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 91 TERUNGKAP?


Arwah Bulan menatapku dengan sendu, ia meminta ijin untuk merasuki tubuhku. Karena ia ingin berpamitan pada saudara kembarnya. Aku menganggukan kelala dengan menyunggingkan senyum, memberikan ijin pada Bulan untuk memasuki tubuhku. Tak lama jiwa tanpa raganya melesat masuk ke dalam tubuhku. Aku dapat merasakan kesedihan dan kerinduan yang begitu besar. Bulan berjalan tertatih menghampiri Purnama yang masih memeluk sang Suster. Terlihat begitu jelas jika mereka sangat ingin berkumpul kembali. Tapi sayangnya, alam mereka sudah berbeda.


"Adikku... Maafkan Kakak tak bisa menemani dan menjagamu lagi. Alam kita sudah berbeda, dan setelah ini, aku akan kembali ke alamku. Aku memasuki tubuh gadis ini untuk mengucapkan perpisahan padamu. Dan aku juga harus membawa jiwa anakmu bersamaku. Kami harus kembali ke alam kami yang sesungguhnya. Jagalah dirimu baik-baik, jangan terlalu menyesali semua yang telah terjadi. Takdir Tuhan memang menyakitkan, tapi itulah yang harus kau terima. Karena kau sudah memaafkan lelaki itu, dan bertemu dengan darah dagingmu. Saat inilah waktu yang tepat untukmu memulai hidupmu yang baru, aku sangat menyayangimu adikmu. Aku dan ibu sudah lama tiada setelah kau kembali ke rumah tanpa anakmu, jangan cemaskan ibu, beliau sudah tenang di alam keabadian." Ucap Bulan seraya memeluk adiknya.


"Kak Bulan, kenapa takdir begitu kejam padaku huhuhu. Aku sudah kehilangan segalanya, dan kini sebatang kara di dunia ini. Aku tak akan sanggup menjalani hidup ini tanpa kalian." kata Purnama menangis sesegukan merangkul Aurora dan Kakaknya Bulan.


Hanya terdengar rengekan dari bibir Aurora, gadis kecil itu tak bisa menahan kesedihan nya. Ia belum siap berpisah dengan Mamanya, apalagi mereka baru saja bertemu untuk pertama kalinya.


Bulan memberikan pengertian pada Ibu dan anaknya. Bahwa mereka harus ikhlas menerima takdirnya, dan saat ini adalah waktu terakhir mereka berkomunikasi. Aku dapat merasakan dengan jelas, jika kesedihan teramat besar bergelayut didalam hati Bulan. Tapi ia berusaha berbesar hati, supaya Purnama dan Aurora lebih ikhlas menerima takdir yang tertulis untuk mereka.


Tak lama setelah itu jiwa Bulan dan Aurora keluar dari tubuh yang mereka rasuki. Aku langsung tersungkur di lantai dengan kepala yang sedikit berat. Sementara sang Suster langsung tak sadarkan diri. Aku berusaha mengumpulkan kesadaran, dan mengatur nafas ku yang agak berat.


Terdengar suara tangisan Purnama menjerit-jerit memanggil Kakak dan anaknya. Ku lihat arwah Bulan dan Aurora berdiri mengambang tak jauh dari Purnama duduk bersimpuh. Aku tak dapat menahan kesedihan melihat detik-detik terakhir perpisahan mereka. Aku bangkit berdiri lalu menghampiri Purnama, dan membantunya bangkit. Ku jelaskan padanya, jika saat ini Bulan dan Aurora anaknya akan kembali ke alam keabadian, dan ku minta Purnama untuk mengucapkan kata-kata terakhirnya. Nampak semua orang yang ada disana hanya terdiam menyaksikan kejadian diluar nalar itu. Meski mereka tak dapat melihat apa yang ku lihat, aku yakin mereka merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Tiba-tiba Tian Besar itu berjalan tertatih memanggil Aurora, dan mengatakan ucapan sayangnya. Ia membuat janji untuk menjaga dan melindungi Purnama, untuk menebus kesalahannya.


"Anakku. Pergilah ke alam keabadian, beristirahat lah dengan tenang. Papa yang akan menjaga dan melindungi Mamamu. Papa akan menebus semua kesalahan yang terjadi di masa lalu. Tak perlu cemaskan Mamamu lagi, Papa yang akan mengurusnya mulai sekarang. Dan kau Bulan, aku juga meminta maaf padamu. Karena dulu pernah bersikap tak baik padamu. Pergilah bersama anakku ke alam kalian." Kata Tuan Besar dengan mata berkaca-kaca.


"Terimalah permintaan Papa, jangan buat jiwanya yang tua lebih merasa berdosa lagi. Papa sudah mengatakan ini sebelumnya padaku, dan aku setuju dengan rencananya untuk menikahimu."


Penjelasan Pak Bos besar membuat arwah Bulan dan Aurora tersenyum lega. Tak lama setelah itu keluar cahaya putih berpendar dari atas. Cahaya yang menyilaukan mata itu membuat arwah Bulan dan Aurora berubah menjadi sosok yang lebih cantik, dengan wajah berseri dan gaun putih bersih yang panjang. Keduanya menyunggingkan senyum seraya melambaikan tangan perpisahan. Aku memberitahu semua orang, jika saat ini arwah Bulan dan Aurora akan melanjutkan perjalanan nya ke alam keabadian. Tangisan kesedihan memecahkan kesunyian, mengiringi kepergian Bulan dan Aurora ke alam selanjutnya. Aku panjatkan doa untuk keduanya, supaya mereka mendapatkan segala ampunan atas dosa yang pernah mereka lakukan.


Whuuuuss.


Jiwa tanpa raga mereka melesat ke atas dan tak nampak lagi wujudnya. Akhirnya aku dapat bernafas lega, karena kedua arwah itu telah pergi ke tempat mereka yang seharusnya.


Purnama masih menundukan kepalanya dengan berlinang air mata. Aku menghampiri dan memeluknya, supaya ia sedikit tenang. Aku memberikan motivasi pada Purnama, supaya ia tak mengecewakan jiwa Kakak dan Anaknya. Aku memintanya untuk melanjutkan kehidupannya, apalagi Tuan Besar bersedia menikahinya. Meski agak bimbang, tapi Purnama berusaha mempercayai ucapanku. Dan ia memandang wajah lelaki yang telah meminta maaf padanya. Ada sedikit ketakutan di kedua matanya, tapi Tuan Besar itu tak memaksakan keinginan nya. Dan akan memberikan waktu supaya Purnama dapat memikirkan kembali ucapannya.


Braaak.


Terdengar suara gebrakan pintu yang membuat kami terperanjat. Seorang perempuan paruh baya mengenakan baju merah dengan celana panjang senada, berdiri dengan berkacak pinggang. Kedua matanya membulat menatap Purnama dengan penuh kebencian. Ia berjalan mendekati Purnama dan mengangkat tangannya di hadapan Purnama. Tapi dengan cepat Pak Bos besar menghentikan perempuan itu. Nampaknya ia ingin menampar wajah Purnama, beruntungnya Pak Bos menghentikan perbuatan perempuan itu. Entah siapa dan darimana perempuan itu datang, karena aku belum pernah melihatnya sebelum nya. Melihat kejadian itu, trauma masa lalu Purnama kembali. Ia berteriak histeris seraya menutupi wajahnya, lalu bersembunyi di bawah meja dengan wajah ketakutan.