Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 172 MENGULIK KISAH MASA LAMPAU.


Tak terasa pernikahan Wati dan Pramono sudah hampir satu minggu lamanya. Mereka harus segera kembali ke rumah besar keluarga Sumitro. Siang itu Bu Kartika mewakili Romo nya untuk menjemput Pramono dan Wati. Bu Kartika juga berpamitan pada Bude Walimah karena setelah ini ia akan kembali ke Jakarta. Bahkan Bu Kartika menawarkan tumpangan untukku. Dasar perempuan licik, aku tahu kau hanya basa-basi supaya terlihat baik di hadapan banyak orang.


"Bu Kartika bisa kembali lebih dulu, saya bisa kembali sendiri tanpa merepotkan orang lain."


"Kita kan sudah menjadi kerabat Rania. Bagaiamana mungkin kau menyebutku orang lain?"


"Iya maaf Bu, silahkan kembali duluan. Saya akan segera kembali kok!"


"Apakah anak tersayang ku memberimu tugas berat lagi?" Tanya nya dengan tersenyum melalui sudut bibirnya.


"Saya bekerja di perusahaan itu sebagai jurnalis, jika mendapat tugas yang berat sudah wajar menurut saya. Karena jurnalis bekerja dengan penuh tantangan." Jawabku dengan mengaitkan kedua alis mata.


Karena suasana agak canggung antara aku dan Bu Kartika. Bude Walimah mencairkan suasana, ia mengatakan jika akan sering mengunjungi Wati di rumah baru nya. Dan Bu Kartika menanggapi nya dengan santai. Ia mempersilahkan Bude Walimah datang kapanpun ia mau. Setelah itu mereka berpamitan dan meninggalkan rumah ini. Mendadak suasana rumah jadi semakin sepi dan sunyi. Aku melihat Bude Walimah yang sedang tertunduk dengan wajah sendu.


"Bude jangan sedih ya. Nanti Lala tinggal disini saja nemenin Bude, biar Bude ada temennya kalau Rania baliknke Jakarta." Pungkas Lala seraya menggenggam tangan Bude Walimah.


"Rania setuju! Daripada di rumah ini sepi, cuma ada Bude doang. Tapi apa gak semakin jauh dari tempat kerjamu La?"


"Sudah sudah. Bude gak apa-apa sendirian. Kalian tenang saja Nduk!"


"Lala serius Bude! Gak kejauhan kok kalau mau ke pabrik, kan ada jalan pintas yang baru dibangun beberapa minggu yang lalu."


Aku dan Lala membujuk Bude Walimah, supaya ia mengijinkan Lala tinggal disana bersamanya. Setelah berbagai rayuan, akhirnya Bude setuju dan memberikan ijin pada Lala untuk tinggal bersamanya.


"Oh ya Bude, sejak Rania datang ke Desa. Rania belum pernah melihat Mbah Darmi, bagaimana kabar beliau?"


"Sebelumnya Mbah Darmi sudah datang kesini, tapi beliau tidak bisa menghadiri acara pernikahan Wati. Karena sekarang Mbah Darmi tidak tinggal disini lagi. Beliau ikut anaknya tinggal di Kota. Semenjak Mbah Karto meninggal, Mbah Darmi sering sedih dan kesepian. Makanya anaknya membawa beliau tinggal di Kota." Jelas Bude dengan menghembuskan nafas panjang.


Aku memahami kesedihan Mbah Darmi, pasti tak hanya beliau saja yang sedih. Tapi seluruh warga Desa juga pasti sedih. Karena mereka kehilangan sosok panutan yang sangat penting bagi semuanya.


"Loh kok malah pada diem-diem to? Ayo kita masak bersama di dapur!" Seru Bude Walimah seraya melangkahkan kakinya.


Kami semua memasak di dapur, nampak sosok-sosok demit dari kebun belakang bersliweran. Aku dan Lala saling melirik, risih melihat penampakan mereka. Aku pun bangkit berdiri dan melemparkan garam yang sudah ku bacakan doa ke atas langit-langit rumah.


"Kamu ini kok kayak mendiang Simbahmu saja to Nduk. Biarkan saja, mereka sudah sering singgah disini, dan gak ganggu kok!" Celetuk Bude mengejutkan ku.


Padahal Bude tak pernah bisa melihat makhluk tak kasat mata, tapi kepekaan nya pada mereka semakin kuat.


"Bude besok pagi Rania balik ke Jakarta ya. Kalau ada apa-apa kabarin Rania loh, oke?"


"Gak apa-apa Bude, Rania udah sedikit lega karena masalah Wati bisa ditangani, meski belum selesai keseluruhan. Nanti kan ada Mbak Rika juga disana!"


Setelah obrolan itu, kami makan malam bersama untuk yang terakhir kalinya. Lala menceritakan sesuatu padaku, mengenai penjelasan Elang tentang Malik.


"Tapi kau jangan terkejut ya, soalnya ini berhubungan dengan kisah masa lalu mu!" Ucap Lala dengan wajah serius.


"Memangnya ada apa La? Masa lalu ku kenapa?"


"Jadi gini Ran, katanya di masa lampau itu, kai dan Malik ada sepasang kekasih. Kalian berasal dari dua kerajaan yang berbeda, karena itulah hubungan kalian tak mendapatkan restu dari orang tua masing-masing."


Sontak saja aku terkejut mendengar cerita Lala. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, lantas kenapa Malik masih bisa mengingat masa lalu nya sementara aku tidak.


"Jangan becanda deh La, besok tuh aku udah mau pulang. Kau malah cerita kayak gini, bikin penasaran aja!"


"Tadinya aku gak pengen cerita Ran, tapi karena besok kau udah harus pulang, mungkin lebih baik aku ceritakan saja. Kau ingat sewaktu Senopati menceritakan tentang Malik dan ia tiba-tiba bungkam. Itu adalah keinginan Malik, supaya menyembunyikan kisah masa lalu kalian. Karena itulah Malik rela menjadi penjaga mu, dan menanggung hukuman dari Raja nya. Jadi lebih baik mulai sekarang, kau bisa menjaga diri sendiri. Supaya Malik tenang di alamnya. Kisah masa lalu kalian sangat tragis, sebelas dua belas lah dengan kisah ku dan Kangmas Elang!"


"Memangnya apa yang terjadi di masa lalu ku La?"


Lala tak langsung menjawab pertanyaan ku, ia diam dengan menutup kedua matanya. Nampak bibirnya komat kamit membaca doa-doa, tak lama setelah itu liontin yang ia kenakan menyala terang. Lala menyentuh liontin itu seraya menggenggam tangan ku. Setelah itu, aku dapat melihat semua gambaran masa lalu. Sosok putri dan pangeran yang dulu pernah ku lihat, mereka nampak berjanji untuk selalu bersama. Sampai akhirnya sang putri mengakhiri hidupnya dengan melompat ke dalam kobaran api. Ia membawa mati cintanya pada sang kekasih, dan oa terlahir kembali dari rahim seorang perempuan muda. Aku melihat wajah Mama, jadi bayi yang terlahir kembali itu adalah aku. Aku adalah sosok putri prameswari. Dan Malik adalah reinkarnasi dari pangeran itu. Pantas saja aku selalu merasa ada yang aneh ketika Malik bersamaku. Tatapan matanya selalu nampak sendu, dan ia selalu siaga untuk menjaga ku. Tak terasa bulir-bulir bening membasahi pipi. Aku menangis sesegukan tanpa sadar. Lala pun mengakhiri penglihatan nya, dan menyeka air mata ku.


"Maaf ya Ran udah buat kau sedih!"


Aku tak mengatakan apapun, karena jujur saja aku sangat shock mengetahui yang sebenarnya. Bagaimana mungkin aku terlahir kembali menjadi manusia, sementara Malik masih menjadi makhluk gaib. Apakah cinta yang dulu masih tetap ada? Aku bertanya-tanya di dalam hati. Karena tak bisa menyangkal, jika terkadang aku hanyut dalam tatapan mata Malik. Setiap kali ia menatapku dengan wajah sendu nya, seakan hatiku merasa pilu. Tapi aku tak dapat menjelaskan nya, karena aku tak tahu apa-apa.


"Lalu aku harus apa La? Jika memang sekali lagi takdir memisahkan kami, tak seharusnya Malik mendatangi ku lagi. Aku tak ingin ia tersiksa menahan semua perasaan nya. Apalagi sekarang kami tak bisa bertemu lagi huhuhu!"


"Sabar ya Ran, kisah masa lalu kalian memang sudah seharusnya berakhir. Karena itu aku memintamu untuk menguatkan diri. Aku menceritakan semua ini, supaya kau tak mengharapkan Malik untuk menjadi penjaga mu lagi. Bagaimanapun itu hanya akan semakin menyiksa nya. Kau tetaplah berpura-pura tak tahu, biar saja kalian saling menyimpan kenangan masa lalu. Aku sengaja memberikan penglihatan ini, supaya kau dapat menguatkan diri dan tak mengingat sosok Malik sebagai penjaga mu. Kasihan dia, sudah banyak memendam perasaan."


Aku menganggukkan kepala, mungkin memang lebih baik aku mengetahui nya, supaya aku tak menyalahkan Malik, jika suatu saat nanti ia tak datang untuk menjadi penjaga ku lagi.


"Makasih ya La, aku bisa bernafas lega setelah mendapat penglihatan darimu. Ternyata aku pernah terlahir sebagai anak raja, untung aja sekarang aku hanya anak manusia biasa. Aku tak dapat membayangkan bagaimana rumitnya hidup di masa itu."


"Pasti sangat rumit Ran, makanya waktu itu kau memilih mengorbankan diri."


Malam itu aku dan Lala menghabiskan waktu dengan pembahasan tentang masa lalu ku. Dan aku meminta Lala untuk memberikan penglihatan, ketika ia masih tinggal di alam gaib. Tapi Lala menolak, dan pura-pura memejamkan matanya. Ah Lala curang, ia hanya membuatku menangis, tanpa mau membagi kisah hidupnya sewaktu tinggal di alam gaib bersama Elang dan para Buto lainnya.