Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 210 PENCARIAN?


Pak Imron meminta ku untuk istirahat dulu di Lobby Stasiun. Karena aku sudah berada di dimensi gaib selama 2 hari, itu artinya Silvia sudah menghilang selama 4 hari.


"Bukankah kau tau perbedaan waktu antara alam gaib dan juga alam manusia? Karena itulah ku minta kalian istirahat disini dulu. Minta saja bantuan sahabat kecilmu itu untuk kembali ke kereta hantu tadi. Hanya dia satu-satunya yang bisa kembali ke tempat kalian sebelumnya. Pastikan saja jika Beny tak ada di semua gerbong kereta hantu itu. Karena itu lebih baik untuknya, daripada ia harus berada disana sepanjang waktu." Jelas Pak Imron menatap Petter yang sedang berdiri mengambang di samping ku.


"Baiklah aku mengerti, aku akan menemukan dan membawanya kembali kesini. Tapi kalau dia tak ada disana, aku harus mencari kemana?" Tanya Petter nampak berpikir.


"Kau kembali saja dulu menemui kami, mungkin Beny sudah keluar dari kereta hantu itu. Dan sekarang dia berada di suatu tempat, hanya itu kemungkinan yang terjadi." Jawab Pak Imron dengan menghembuskan nafas panjang.


Petter hanya menganggukkan kepalanya, lalu ia berpamitan padaku dan melesat pergi. Sedangkan Silvia masih duduk termenung di bangku, ia duduk dengan melipat kedua kaki nya. Tatapan matanya kosong, ia kebingungan dan sedih tak tau apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku memeluknya supaya ia sedikit tenang, dan membujuknya untuk menceritakan apa yang telah terjadi sebelum ia menumpang kereta hantu. Akhirnya Silvia menceritakan, apa yang sebenarnya terjadi padanya.


"Malam itu gue selesai wawancara dan pesen tiket KRL online. Tapi ojol yang gue order datang telat, karena tiba-tiba motornya mogok di jalan. Dan ternyata begitu ojol itu sampai, lalu anter gue ke Stasiun, gue gak lihat ada KRL. Entah kereta udah datang atau belum, sampai akhirnya jam hampir setengah dua belas malam. Gue lihat ada kereta yang datang, meski gue yakin kalau gue udah ketinggalan kereta. Gue positif thinking, dan ngira KRL itu mengalami keterlambatan. Naiklah gue ke dalam kereta, entah kenapa hawanya beda aja di dalam kereta itu. Semua penumpang diam membisu tak mengatakan apa-apa. Bahkan lampu penerangan kereta itu agak redup setelah berjalan meninggalkan Stasiun. Makin lama gue ngerasa janggal, makanya gue telepon nomor hape Beny. Tapi dia gak jawab telepon gue, dan setelah itu gue gak inget apa-apa lagi sampai ketemu kalian tadi di dalam gerbong kereta. Eh gue malah lihat hal-hal mengerikan yang seumur-umur gak pernah gue lihat. Sebenarnya gue masih bingung kenapa gue bisa berada di dalam kereta hantu itu, apalagi setelah gue lihat banyak makhluk menyeramkan yang berusaha nangkap gue." Jelas Silvia terisak.


"Yang lu lihat belum seberapa Sil, mereka hanya memanifestasikan wujudnya yang biasa aja. Kalau lu lihat wujud mereka pas udah kecelakaan itu, iih lu bakal lebih ketakutan lagi tau gak! Mending sekarang kita berdoa aja, supaya Beny baik-baik aja. Dan satu yang harus lu tau soal hantu anak kecil tadi, dia itu sahabat hantu gue. Dia sama sekali gak jahat kok, tapi lu salah paham sama dia."


Silvia menundukkan kepala dengan menghembuskan nafas panjang. Ia mengatakan jika yang ada di pikirannya adalah jika semua makhluk gaib itu jahat, karena itulah ia beranggapan jika Petter berniat buruk pada kami. Meski kenyataannya Silvia sudah salah sangka.


"Sorry ya Ran, karena gue semuanya jadi berantakan. Apalagi sekarang kita gak tau gimana keadaan Beny, padahal dia berniat baik buat jemput gue dari kereta hantu itu."


"Udah Sil gak apa-apa semua udah terjadi, dan lu tau gak udah berapa lama lu ngilang tanpa kabar?"


Ponsel ku menunjukkan pukul 04.40 WIB. Aku memutuskan untuk shalat subuh di mushola yang ada di dalam Stasiun. Selesai shalat subuh, aku kembali menunggu di luar dengan harapan Petter datang bersama Beny. Tapi setelah menunggu sampai cahaya terang, Petter tak kunjung datang. Dan Pak Imron meminta kami untuk kembali saja ke Jakarta, nanti dia yang akan memberi kabar pada kami jika ia menemukan Beny.


"Entah kenapa sahabat kecilmu itu lama sekali datangnya. Mungkin dia mengalami kendala, karena sampai sekarang ia belum kembali juga. Bukankah kalian harus memberi kabar ke keluarga yang ada di rumah?"


Aku dan Silvia hanya menganggukkan kepala, dan terpaksa menuruti perkataan Pak Imron untuk kembali ke Jakarta. Dan tiba-tiba ponselku berbunyi, nampak panggilan telepon dari Mbak Rika. Ia terdengar sangat panik, karena berhari-hari aku dan Beny ikut menghilang tanpa kabar. Begitu aku menjelaskan permasalahan yang kami alami disini, Mbak Rika pun sangat terkejut sampai ia tak berkata-kata.


"Ran kalau lu pulang sekarang terus Beny gak ketemu gimana? Gue juga yang bakal disalahin karena udah ngasih tugas buat lu berdua nyariin Silvia. Terus gimana kondisi Silvia sekarang Ran?"


"Alhamdulillah Mbak, Silvia udah lebih baik dari sebelumnya. Tapi emang kita dilema, mau tetap disini atau gak."


"Udah lu stau disana aja dulu, cari hotel terdekat dari Stasiun dan beli beberapa pakaian buat ganti kalian. Ntar gue yang ijinin ke Pak Bos, terus kabarin gue ya. Oke?"


"Ya udah Mbak kalau gitu, gue tutup dulu ya telepon nya."


Aku mengikuti saran Mbak Rika untuk mencari hotel terdekat di Stasiun. Supaya aku lebih mudah memantau perkembangan Beny. Apalagi sampai saat ini Petter belum menemui ku kembali. Semoga setelah ini Petter akan membawa kabar baik mengenai Beny, dan tak terjadi apa-apa padanya. Hanya itu harapan ku, supaya aku tak terlalu merasa bersalah karena membiarkan Beny mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Silvia.