
Petugas polisi sedang mengumpulkan semua orang berjubah hitam itu dalam dua barisan. Seseorang yang paling kami cari ternyata ada di barisan pertama. Beberapa dari mereka masih mengenakan penutup kepala termasuk si pemimpin.
"Buka penutup kepalamu!" Teriak Mbak Ayu dengan membulatkan kedua matanya.
Ia tak bergeming, dan masih menundukkan kepalanya. Nampak kedua tangan Mbak Ayu sudah bergetar hebat, sepertinya ia menahan amarah yang sangat besar. Ia meraih penutup kepala orang itu, dan begitu terbuka kami semua dibuat kaget. Karena seseorang yang dibalik penutup kepala itu bukanlah Tante Ajeng. Padahal aku yakin betul, jika hanya pemimpin merekalah yang mengenakan kalung perak.
"Semuanya tolong kerja sama nya. Silahkan buka penutup kepala kalian, jika kalian tidak bisa di ajak bekerja sama. Kami akan mempersulit kalian di dalam tahanan!" Ancam Mas Adit dengan berkacak pinggang.
Mbak Ayu masih tercengang dan kebingungan mencari dimana keberadaan Tante Ajeng. Sementara aku berjalan menghampiri seseorang yang mengenakan kalung perak itu.
"Nek Dijah?" Aku terkejut melihat wajah seseorang yang pernah ada di penglihatan ku sebelumnya.
Nek Dijah hanya menyeringai di hadapan ku. Ia terlihat begitu menang dengan sorot mata mengejek.
"Bukankah Nenek harusnya sudah berhenti menjadi pemimpin? Dimana Tante Ajeng Nek?" Tanyaku dengan mengaitkan kedua alis mata.
"Kalian tak akan semudah itu menghentikan kami Nak. Bahkan sekalipun kau mengurungku di dalam penjara, kelak jiwa ku akan kekal selamanya. Aku sudah memprediksi semuanya, dan ritual yang sebenarnya masih berlanjut di tempat lain, dengan sang pemimpin yang baru. Ini adalah bagian dari pengorbanan kami untuk terbentuknya keanggotaan yang lebih kuat. Kau tak lihat, semua anggota sekte yang bersamaku sudah berusia tua semua? Kami yang tua-tua inilah yang mengorbankan diri, untuk anggota kami yang masih muda-muda. Kami rela mengorbankan raga yang sudah tua ini. Karena sebentar lagi, jiwa kami akan menempati tempat baru yang lebih kekal abadi hihihihi." Pungkas Nek Dijah tersenyum penuh kemenangan.
Mbak Ayu membulatkan kedua matanya seraya mendekati Nek Dijah. Ia memperingatkan Nek Dijah, jika ia tak akan membiarkan Nek Dijah hidup kekal dengan tenang.
"Nenek pasti tahu kan siapa saya? Saya gak akan biarin manusia-manusia jahat seperti kalian hidup abadi! Lebih baik Nenek katakan saja dimana Tante Ajeng berada?"
Nek Dijah berdecih mendengar ancaman Mbak Ayu. Tak ada raut wajah takut sama sekali, justru ia menantang Mbak Ayu untuk menghentikan semua anggota sekte nya.
"Kalau kau mampu dan memiliki kekuatan, silahkan hentikan mereka. Selama ini aku yang menjaga mereka, dan sudah saatnya kepemimpinan ku dilanjutkan oleh seseorang yang seimbang denganku. Bahkan kau tak memiliki kemampuan untuk mencari dimana keberadaan penerus ku!"
Nampak Mbak Ayu sudah terpancing emosi, ia seperti akan mencelakai perempuan tua yang ada di hadapan nya. Segera ku minta Mas Adit untuk membawa semua anggota sekte itu ke kantor polisi untuk diproses secara hukum.
"Udah ya Mbak, sabar dulu. Saat ini satu-satunya keluarga lu sedang kritis. Mungkin dulu Om Dewa pernah berbuat kesalahan, tapi sekarang dia sudah menyadari semuanya. Lebih baik kita lihat kondisi nya di rumah sakit." Bujuk ku, supaya Mbak Ayu tak terhasut amarah karena ucapan Nek Dijah.
Satu persatu anggota sekte yang sudah tua-tua itu masuk ke dalam mobil polisi. Memang benar kata Nek Dijah, semua anggota sekte yang tertangkap malam ini sudah berusia tua semua. Apakah benar mereka membentuk anggota baru dengan merekrut orang yang masih muda-muda. Ah iya, aku jadi lupa menanyakan tentang Heni. Kenapa Mbak Ayu meninggalkan nya seorang diri.
"Sorry Ran, gue gak tenang biarin lu sendirian ngadepin para manusia setan itu! Si Heni masih ada kok di kedai kopi, gak sengaja tadi ada temen gue yang datang. Eh gak tahu nya dia kenal sama Heni juga. Katanya si Heni itu adik dari temen nya temen gue. Gue udah minta dia awasin si Heni kok, dan gue suruh mereka tunggu di kedai kopi sampai gue balik lagi."
"Terus kalau ternyata apa yang terjadi malam ini ada hubungannya dengan Heni gimana? Bisa aja kan dia ngabarin anggota sekte sesat itu melalui hape. Karena begitu lu sampai di tempat ini, semua anggota sekte itu udah kocar-kacir melarikan diri."
"Bentar deh Ran, gue gak mikir sampai sana sih. Tapi ntar kita tanya aja ke temen gue, apa tadi Heni sempat main hape. Kalau dia kayak gak fokus sama temen gue, berarti ada yang disembunyikan sama Heni!" Pungkas Mbak Ayu menduga-duga.
Kami berpamitan pada Mas Adit, ia meminta kami datang ke kantor polisi besok. Menurutnya kami harus dimintai keterangan juga.
"Entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu menangani kasus yang rumit. Bisa-bisa aku buka jasa pemburu hantu buat kalian berdua." Gurau Mas Adit seraya menyeka peluh di keningnya.
"Please deh Dit, kita bukan dukun tauk!" Sahut Mbak Ayu dengan menghembuskan nafas panjang.
"Ya udah Mas, kita pamit dulu deh. Mau ketemu orang dulu!"
"Loh ini udah tengah malam kenapa gak langsung pulang aja sih? Bentar aku pesenin taksi online dulu ya."
"Ada urusan bentar kok Mas, habis itu juga pulang. Kita mau ke kedai kopo starbeck."
Tak lama taksi online pun datang, kami berpamitan pada Mas Adit. Karena ia masih harus melakukan pekerjaan disana. Nampak Nek Dijah, duduk di dalam mobil dengan tangan terborgol. Ia menatap sinis ke arah kami, lalu tersenyum melalui sudut bibirnya.
"Mbak gue curiga sama burung gagak tadi. Jangan-jangan dia adalah Tante Ajeng yang merubah wujudnya."
"Sebenarnya gue juga mikir itu Ran, tapi agak ragu juga sih. Gue aja gak bisa merubah wujud begitu, masak Tante Ajeng yang baru aja jadi pemimpin sekte sesat langsung bisa sih!" Protes Mbak Ayu menggelengkan kepala.
"Kalian berbeda aliran Mbak. Mungkin ilmu Leak yang lu punya bisa membahayakan orang lain. Tapi kan lu masih tetap beribadah juga, jadi masih ada ketaatan di dalam diri lu. Sedangkan para anggota sekte itu, mereka gak ibadah Mbak. Yang mereka sembah aja gak jelas siap, entah setan atau iblis. Meski gue sendiri gak paham siapa Calon Arang yang bisa menguasai jiwa dan raga lu. Seengaknya gue masih lihat lu beribadah sesuai keyakinan yang lu pegang. Berbeda dengan mereka semua, yang gak jelas keyakinan nya. Mungkin karena itu, lu agak sedikit berbeda dari Tante Ajeng. Kan Om Dewa pernah bilang, kalau sekarang Tante Ajeng udah gak pernah sembahyang lagi. Dia udah jadi semacam orang sesat tanpa agama!"
Disepanjang perjalanan, kami masih saja terus membahas tentang Tante Ajeng. Sampai tak terasa taksi akhirnya sampai di depan kedai kopi yang masih buka. Kami memandang ke segala arah, berusaha mencari keberadaan Heni. Tapi di meja yang tadi kami duduki, sudah tak ada sosok Heni disana. Jangan-jangan dia langsung pergi setelah Mbak Ayu meninggalkan nya disana.