
"InsyaAllah nanti aku akan ceritakan semuanya Mas. Aku pulang dulu ya, kau jangan lupa shalat subuh juga."
Mas Adit hanya menganggukkan kepala, dan aku pun pergi meninggalkan rumah duka itu. Aku berjalan santai melewati rumah bekas Mbah Wongso. Meski rumah ini sudah dibersihkan dari energi negatif, tetap saja aura nya masih membuat ku tak nyaman. Apalagi dengan residual energi yang masih bisa ku rasakan. Dari kejauhan Pak Jarwo berteriak memanggil. Ia menegurku supaya tak melamun di tempat ini.
"Mari kita jalan sampai depan, aku juga harus pulang istirahat sebentar. Masih ada beberapa orang yang ada disana menemani Adit dan orang tua nya." Kata Pak Jarwo seraya melangkahkan kakinya.
"Apa sebelumnya Pak Jarwo sudah tau, kalau Mas Adit ini anak dari Pak Langgeng? Dan kami memang sudah saling mengenal?"
"Iya Nduk. Tapi aku tak mau mengatakan apapun, supaya tak ada kehebohan sewaktu dia datang. Aura nya yang tenang selalu bisa menetralkan aura negatif yang berusaha menguasaimu. Kelak kau akan selalu lebih dekat lagi dengan pemuda itu. Tak hanya saling mengenal, kalian bisa menjadi lebih akrab lagi. Seperti aura mu yang selalu membawa kebaikan bagi Dahayu, kehadiran pemuda itu sangat baik untuk perjalanan hidupmu ke depannya." Jelas Pak Jarwo seraya menyunggingkan senyumnya.
"Maksudnya gimana Pak? Perjalanan hidup ke depan? Tapi memang ada masuk akalnya juga sih Pak. Mas Adit itu kan petugas polisi, nah kebetulan pekerjaan Rania lebih sering berhubungan dengan urusan hukum macam itu. Beberapa kali pekerjaan Rania jadi mudah karena Mas Adit. Makanya tadi Rania hancur banget lihat Mas Adit terpuruk seorang diri. Seandainya Rania dapat membantunya menyampaikan pesan terakhir untuk keluarga nya..." Kataku dengan menghembuskan nafas panjang.
"Tentu saja kau bisa Nduk. Lakukan saja apa yang kau mau. Bukankah roh orang yang sudah meninggal dunia, masihlah ada di sekitaran rumah selama empat puluh hari. Kau bisa meminta Adit menyampaikan pesan nya melalui perantara kau sendiri."
Wah benar juga kata Pak Jarwo, hanya itu yang bisa ku lakukan untuk membantunya. Semoga setelah itu Mas Adit bisa menerima kenyataan, dan ikhlas dengan keadaan yang menimpanya.
"Kalau begitu Rania pulang dulu Pak." Kataku seraya mengecup punggung tangan Pak Jarwo.
Aku membuka pintu pagar, di dalam rumah sudah terdengar suara orang beraktivitas. Aku mengucapkan salam, dan dibalas oleh seseorang di dalam rumah.
"Kau tidak tidur lagi to Nduk?"
"Tadi ketiduran sebentar kok Bude disana. Ini mau shalat dan istirahat bentar, soalnya begitu kantor pemakaman buka, Rania harus kesana buat urus administrasi."
"Iya Nduk Wati sudah menjelaskan ke Bude. Nanti biar Bude yang bangunkan saja, supaya Wati bisa urus suaminya dulu."
"Hmm sampaikan ke Wati, dia gak perlu nemenin Rania lagi kok Bude. Biar Rania sendiri saja, sudah ada Mas Adit yang bantu kok."
"Adit siapa to Nduk?"
Aku menceritakan segalanya pada Bude mengenai siapa Mas Adit yang sebenarnya. Bude pun baru tau, jika ternyata Mas Adit yang ku kenal adalah anak kandung almarhum Pak Langgeng. Setelah jelas semuanya, aku langsung mengambil air wudhu dan menjalankan shalat subuh. Dan seperti biasanya, aku terpejam di atas sajadah setelah membaca dzikir dan sebagainya. Sayup-sayup aku mendengar suara rengekan Pramono. Ia rewel memanggil-manggil nama Mbok Genuk berulang kali. Aku membuka mukena dan melipatnya bersama sajadah. Ku lihat Pramono masih merajuk dengan mengerucutkan bibirnya. Bude pun akhirnya mengambil keputusan untuk mengajak Pramono menemui Mbok Genuk di Rumah Sakit. Tapi Wati sepertinya tak sependapat dengan Ibunya. Menurut Wati, disana ada Wening yang bjsa membahayakan mereka.
"Gak apa-apa kok Wat, Wening udah punya kekuatan lagi. Semua ilmu hitamnya udah terkunci di dalam liontin ini." Kataku seraya menunjukkan kalung yang melingkar di leher ku.
"Tolong sampaikan ke Mbok Genuk, kalau Rania belum bisa jenguk Wening. Rania harus menghibur Mas Adit soalnya, dia sedang kecewa sama kedua orang tuanya. Jika bukan Rania yang hibur, mungkin Mas Adit gak akan mau makan sama sekali."
"Iya Nduk, nanti biar Bude yang sampaikan." Kata Bude dan ku balas dengan anggukkan kepala.
Aku baru saja akan melangkahkan kaki, tapi Wati langsung menarik tanganku. Ia masih tidak percaya, jika Mas Adit yang kami kenal adalah anak kandung Pak Langgeng yang dibicarakan semua orang.
"Bener kok Wat, kalau kau tak percaya datang saja kesana. Nanti kau akan lihat sendiri dengan mata kepalamu!"
"Kenapa akhir-akhir ini banyak orang yang tiba-tiba datang ke Desa kita ya Ran." Kata Wati dengan menggaruk kepalanya.
"Entahlah, ya udah aku mandi dulu. Nanti motornya aku pakai ya, mau ke kantor pemakaman sama Mas Adit." Ucapku seraya mengambil handuk di gantungan baju, dan dibalas dengan acungan jempol Wati.
Sesampainya di rumah duka, nampak Mas Adit sedang berbicara dengan beberapa warga yang mengucapkan duka cita. Aku menyapa Pak Haji dan juga Pak Jarwo, keduanya sedang memberikan tugas untuk membantu menyiapkan segala macam kebutuhan yang akan digunakan setelah acara pemakaman selesai.
"Yuk Ran, kita berangkat sekarang!" Seru Mas Adit seraya menarik tanganku.
"Duh ngagetin aja sih Mas. Kau pasti belum sarapan kan. Apa kau baik-baik saja?"
"Gak ada selera makan Ran, kita jalan sekarang aja."
Mas Adit langsung menarik ku pergi, sampai aku tak sempat berpamitan dulu. Ia mengendarai sepeda motor dengan kecepatan rendah. Ia mengatakan sengaja buru-buru pergi, karena ia ingin menghindari Ibunya untuk sejenak. Mas Adit masih sangat kecewa dan terluka hatinya, karena itulah ia tak bisa lama-lama menatap wajah perempuan yang sudah mengasuhnya sejak bayi.
"Mas bukan maksudnya sok menasehati, tapi cobalah lebih bijak lagi. Kasihan Ibu mu, jangan sampai kau kehilangan seorang Ibu lagi. Bagaimanapun dia yang membesarkan mu sampai seperti sekarang." Kataku di belakang boncengan nya.
Chiiit.
Mas Adit mengerem motor mendadak. Ia turun dari motor dengan menundukkan kepalanya. Ia meminta ku menceritakan kronologi kematian keluarga nya. Sesuai janji, aku pun menceritakan semua dengan detail. Tak ada cerita yang ku tutupi sama sekali. Mas Adit mengepalkan kedua tangan begitu ia mendengar nama Wening ikut terlibat. Ia tak menyangka, jika gadis yang terlihat lugu itu ternyata memiliki hati yang dipenuhi dendam.
"Seandainya aku bisa membawa kasus ini secara hukum, aku mau memenjarakan mereka!" Ucap Mas Adit dengan membulatkan kedua mata.
Aku hanya diam mendengar ucapannya, mungkinkah ada cara lain supaya Mas Adit dapat mewujudkan keinginan nya. Karena sebenarnya aku juga sudah lelah berurusan dengan hal-hal gaib, yang terus menerus mengorbankan nyawa orang-orang tak bersalah. Seandainya ada celah untuk bisa memenjarakan mereka, mungkin masalah klenik ini dapat berakhir dengan dikurung nya mereka di penjara.