
Aku sampai di lantai lima, dimana tempatku bekerja selama ini. Beberapa rekan kerja menyapa dan menanyakan kabarku. Mereka sangat ramah dan perduli terhadapku. Menurut mereka beberapa pekerjaan ku banyak yang terbengkalai, karena sejak beberapa hari lalu Agus tak pernah berangkat ke kantor. Alhasil pekerjaan ku yang biasa di handel Agus tak ada yang mengerjakan nya.
"Loh emang Agus pergi kemana? kan gue udah pasrahin semua pekerjaan yang gue tinggalin?"
"Gue gak tahu Ran. Coba aja lu tanya ke Mbak Rika, kali aja dia tahu Agus kemana."
Aku meletakan tas ransel di meja kerja, banyak setumpuk berkas di atas meja. Ada juga jurnal berwarna hijau milik Agus. Entah kenapa ia meninggalkan nya disini. Aku sempat termenung melihat coretan gambar yang ada di dalam jurnal milik Agus. Ehtah ia menggambar apa, seperti gambar api yang berkobar. Dan ada seseorang yang masuk ke dalam kobaran api itu. Ah mungkin Agus hanya iseng menggambar saja.
"RANIAAA! ada telepon tuh!" teriak rekan sebelah mejaku.
"Eh iya sorry gue gak denger."
Aku langsung mengangkat gagang telepon itu. Terdengar suara orang diseberang sana memintaku ke ruangan nya.
"Oke deh Mbak, gue kesana langsung."
Aku berjalan ke ruangan Mbak Rika, ia sedang berdiri dengan melipat tangannya.
Braak.
Mbak Rika melempar setumpuk artikel di meja kerja nya. Ia menaikan dagu nya memberi kode isyarat padaku. Aku yang tak mengerti apapun hanya menggaruk kepala yang tak gatal.
"Dih malah garuk-garuk lagi!"
"Apa an sih Mbak? gue gak ngerti maksud lu."
"Makanya dibaca dong oneng, bukan malah di pelototin doang!"
"Habisnya cuma di lemparin doang, gak ngomong apa-apa, ya mana gue tahu coba maksud lu."
"Dulu perempuan ini karyawan senior di kantor kita. Menurut berita yang beredar di masyarakat, dia punya hubungan khusus dengan bos besar di kantor ini pada masanya."
"Terus apa hubungannya dengan gue Mbak?"
"Nah ini hubungannya sama lu." sahutnya seraya menjentikan jari.
Mbak Rika menjelaskan, jika bos besar di kantor ini sedang mencari adik tirinya. Dan ini tugas di luar pekerjaan, jadi aku yang diminta secara khusus menyelidikinya.
"Perempuan ini sempat di penjara, karena berusaha membunuh bos di kantor kita ini. Tapi sekarang beliau sudah tua dan pensiun, digantikan oleh satu-satunya anak lelaki nya. Dan saat ini papa nya sedang sakit keras, sebelum ajal menjemputnya papa dari bos besar kita mengakui segala dosanya. Jadi emang benar, perempuan yang ada di artikel ini pernah mengandung keturunan bos besar kita. Sekarang ia ingin mengakui segala dosanya, dan melihat anak dari hasil hubungannya dengan perempuan ini sebelum ajal menjemputnya. Tugas lu adalah cari dimana perempuan yang ada di artikel ini. Lalu bujuk dia untuk datang ke kantor kita, biar pak bos besar yang menjelaskan langsung. Dia gak mau papa nya meninggal dunia dengan membawa beban dosa sebesar itu." ucap Mbak Rika dengan memberikan beberapa catatan mengenai perempuan yang sedari tadi dibicarakan nya.
Aku menerima selembar kertas yang bertuliskan alamat tempat tinggal perempuan itu terakhir kalinya. Padahal aku sendiri gak yakin kalau perempuan itu masih tinggal di tempat yang sama.
"Wah asyik nih dapat bonus juga. Tapi gue gak mungkin bisa secepat itu nemuin perempuan ini Mbak." aku lihat selembar foto perempuan dengan membawa kamera, di balik foto itu tertulis nama Cahaya Bulan.
"Tenang, lu gak di kejar target. Semua tugas lu dan Agus ntar biar orang lain yang handel."
"Eh iya Mbak ngomong-ngomong si Agus kemana sih? gue dari semalam hubungi dia gak bisa-bisa."
"Ya elah Ran, gue juga nyariin Agus kemana-mana gak ada yang tahu. Dia gak ngasih kabar ataupun ijin libur kerja sejak tiga hari yang lalu. Semua pekerjaan lu yang diserahin ke dia otomatis terbengkalai. Dan ditambah Agus ikutan menghilang gak tahu kemana. Kita sampai kekurangan kameramen, dan semua jadwal jadi berantakan." jelas Mbak Rika dengan mengacak rambutnya kasar.
"Duh perasaan ku jadi gak enak nih, tadi Mas Ojol bilang lihat Agus pergi sama beberapa lelaki yang ada di rumah. Itu artinya Agus pergi sama Om Dewa dan orang-orang pengikut Leak itu. Tapi kenapa Tante Ajeng gak bilang apa-apa ya?" batinku di dalam hati.
Mbak Rika menepuk pundakku, dan menyadarkanku jika sedari tadi aku melamun. Ternyata masalah yang ada di sekitarku sering membuatku melamun tanpa sadar.
"Udah sono buruan pergi ke alamat itu."
"Iya iya Mbak, sabar dong. Gue kan baru balik, emang lu gak kangen sama gue?"
"Dih empet banget gue denger lu ngomong gitu. Btw gimana kabar Mbak Karto, bukannya lu pulang kampung buat jenguk beliau?"
Degh.
Hatiku kembali terasa sakit, kalau mengingat Mbah Karto yang telah berpulang. Aku menundukan kepala dengan berlinang air mata, lalu ku ceritakan tentang Mbah Karto yang telah meninggal dunia.
"Kenapa kalian gak ada yang kabarin gue sih hah? beliau adalah keluarga gue juga Ran, gue berhak tahu kalau Mbah Karto udah gak ada. Tapi kenapa kalian gak ada yang ngasih kabar ke gue huhuhu." ucap Mbak Rika berderai air mata.
"Sorry Mbak, semua terjadi begitu aja. Panjang ceritanya kalau gue jelasin sekarang. Yang ada gue bisa lama disini buat ceritain semua yang terjadi selama gue di Desa Rawa Belatung."
"Ya udahlah, biar nanti gue hubungi Wati. Biar dia aja yang ceritain semuanya. Lu pergi aja ke alamat perempuan yang bernama Cahaya Bulan itu."
Mbak Rika kembali terisak di atas mejanya, dan membuatku merasa bersalah karena tak mengabarinya. Langkahku seakan berat meninggalkan Mbak Rika yang masih terguncang setelah mendengar kabar kematian Mbah Karto. Tapi aku tak punya pilihan lain selain membiarkannya sendiri dulu. Lagipula aku mendapatkan tugas penting dari bos besar kantor ini.
"Eh Rania Mbak Rika kenapa? gue denger dia teriak terus nangis?" tanya staff di bagian marketing.
"Gak ada apa-apa, Mbak Rika baru aja dapat kabar duka. Tolong bilang ke Cleaning Service ya minta buatin Mbak Rika teh hangat."
Dengan langkah gontai aku kembali ke meja kerjaku, dan memasukan beberapa barang ke dalam tas ransel. Aku mengambil ponsel dan mencoba mencari alamat perempuan yang bernama Cahaya Bulan melalui Google Maps. Lokasinya lumayan jauh dari kantor, memasuki kampung-kampung kecil. Karena tak ada Agus yang biasa menjadi partner kerja ku, terpaksa aku kembali menggunakan jasa Ojek Online. Baru saja aku melangkahkan kaki ku, hantu kecil yang baru saja ku beri nama Aurora melesat ke arahku. Ia kembali merengek ingin bertemu mamanya. Aku menoleh ke kiri kanan tak ada seseorang yang memperhatikan ku, lalu aku berbicara pada Aurora untuk memintanya kembali ke lorong tangga darurat. Karena di wilayah ini terkadang ada demit yang sok berkuasa dan suka menindas hantu lemah seperti Aurora. Karena pembulian tak hanya ada di alam manusia, di alam gaib pun ada demit yang suka membully demit lainnya.
...Hai jangan lupa tinggalkan jejak Like dan Komentar nya ya. Karena Like dan Komentar dari kalian bisa menambah semangat othor buat up tiap harinya 🤗...
...Bersambung. ...