
Aku dan Mbak Ayu sedang dalam perjalanan pulang. Di tengah-tengah perjalanan, aku menghubungi Silvia melalui panggilan video. Nampak sekumpulan warga yang sedang melayat di rumah Beny. Ku katakan pada Silvia untuk lebih berhati-hati dan memperbanyak ibadah. Aku ingin langsung berterus terang pada Silvia, dan menceritakan semua yang tak ia ketahui. Tapi Mbak Ayu menghentikan ku, supaya tak mengatakan nya sekarang. Karena situasi masih belum tepat untuk memberitahu segalanya. Apalagi saat ini Silvia masih sangat berduka karena kepergian Beny.
"Intinya lu gak boleh tinggalin ibadah, dan jangan banyak ngelamun. Itu aja dulu yang harus lu lakuin, selebihnya ntar gue kasih tau kalau lu udah balik Jakarta. Oke?"
"Emangnya hidup gue masih terancam ya Ran? Apa setelah Beny gak ada, gue juga bakal nyusul dia?" Sahut Silvia berderai air mata.
Mbak Ayu menyikut lenganku, ia menyalahkan ku karena membahas jal itu disaat yang tidak tepat.
"Tuh kan! Lu sih Ran! Jadi nangis kan anak orang!" Imbuh Mbak Ayu seraya mengemudikan mobil.
"Hmm... Gak gitu juga maksud gue Sil. Buat jaga-jaga aja, toh gak ada salahnya kan kalau lu banyakin ibadah. Semakin tebal iman lu, makhluk gaib gak akan mudah ganggu lu. Itu aja yang harus gue sampaiin. Ya udah gue tutup dulu telepon nya."
Sesampainya di Jakarta, aku dan Mbak Ayu langsung menuju ke Kantor Polisi. Kami berencana untuk menemui Pak Awan, tapi petugas kepolisian belum memberikan ijin. Sementara Mas Adit juga tak ada disana, dan itu akan menyulitkan kami untuk memulai rencana. Mbak Ayu duduk di kursi menghela nafas, tangannya menopang dagu nampak memikirkan sesuatu.
"Lu mikir apa sih Mbak?"
"Gue mau ngehasut Pak Awan itu, dan memintanya menjadi pengikut Leak. Begitu dia terhasut, sosok yang disembahnya pasti akan murka, lalu mencelakai Pak Awan sendiri. Gimana menurut lu Ran, setuju gak sama ide gue?"
"Emang lu yakin Mbak bisa ngehasut dia?"
"Tentu aja, gue bakal lakuin segala cara kalau perlu pakai kesaktian gue juga. Tapi kita perlu bantuan Adit buat ketemu Pak Awan nih. Tanpa Adit kita gak bisa apa-apa."
"Ya udah gue tanya dulu Mas Adit lagi dimana." Kataku seraya mengirimkan pesan singkat melalui wassap.
Karena belum ada jawaban dari Mas Adit, dengan terpaksa kami kembali ke kostan. Dan saat Mas Adit membalas pesanku. Ia mengatakan jika sedang menangani kasus kecelakaan, karena ada korban yang meninggal dunia. Ternyata rencana kami untuk bertemu dengan Pak Awan harus tertunda.
*
*
Beberapa hari kemudian, Silvia sudah kembali ke Jakarta. Ia menceritakan kejadian janggal sewaktu pemakaman Beny.
"Gue kayak lihat Beny lagi senyum sama gue Ran. Tapi pas gue kedipin mata, gue udah gak lihat dia lagi. Dan malamnya pas gue tidur di kamarnya, masak gue mimpi didatangi Beny. Dan lu gak bakal nyangka apa yang dia omongin ke gue!"
"Dih kalau cerita jangan setengah-setengah Sil!" Protes Mbak Rika menghela nafas.
"Masak di dalam mimpi, Beny bilang suka sama gue. Makanya dia rela ngorbanin diri buat gue, apa itu beneran mimpi atau ungkapan dari Beny ya?" Imbuh Silvia dengan menundukkan kepala.
"Jangan-jangan itu adalah sosok gaib yang masuk ke dalam mimpi Silvia dan nyamar jadi Beny. Atau mungkin itu memang mimpi ya?" Batin ku di dalam hati penuh tanya.
Plaaak.
Mbak Rika mengejutkan ku dengan menepuk lengan ku.
"Apa sih Mbak ngagetin aja!"
"Lagian lu ditanya malah bengong! Silvia nunggu jawaban lu tuh!"
"Hmm gimana ya Sil, gue juga gak tau sih. Tapi karena lu udah disini, gue kasih tau lu yang sebenarnya deh."
Dengan detail ku ceritakan awal mula petaka itu terjadi. Saat ia dan almarhum Beny melakukan liputan di Bogor. Ternyata tersangka pembunuhan itu melakukan perjanjian gaib dengan sosok dari dunia kegelapan.
"Makhluk itu suka sama lu Sil, makanya dia sengaja buat lu masuk ke dimensi gaib. Jadi kejadian di kereta hantu itu emang udah direncana, supaya tuh makhluk bisa nyamar buat nyelamatin lu. Tapi pada kenyataannya malah gue sama Beny yang duluan datang. Jadinya makhluk itu murka, dan buat Beny celaka sampai dia sempat gentayangan sebelum kita temuin dia di rumah sakit. Yang paling menyedihkan lagi, si Beny sampai buat perjanjian buat nyelamatin lu. Tapi makhluk itu gak tepat janji, meski Beny udah korbanin diri." Jelasku mengaitkan kedua alis mata.
Nampak Silvia dan Mbak Rika sama-sama tertegun setelah mendengar cerita ku. Mereka tak menyangka jika Beny melakukan pengorbanan besar untuk Silvia.
"Dih serem banget sih Ran! Gue gak kebayang sih kalau jadi lu Sil! Ada demit yang bucin sama lu, dan itu justru ngebahayain hidup lu!" Pungkas Mbak Rika bergidik seraya mengusap belakang tengkuknya.
Silvia hanya diam dengan menelan ludahnya kasar. Kakinya bergerak tak tenang, ia dalam ketakutan setelah mengetahui segalanya. Akhirnya Silvia berlinang air mata dengan menundukkan kepala.
"Gu gue gak nyangka aja Ran, kalau Beny udah berkorban begitu besar buat gue. Dia sampai rela ngorbanin diri biar gue gak diganggu makhluk gaib itu. Padahal gue tau, dia itu sebenarnya gak terlalu pemberani orangnya."
"Udah Sil, jangan ditangisin lagi. Yang terpenting sekarang, lu gak boleh sia-sia in pengorbanan Beny. Jadi lu harus jaga diri, jangan sampai makhluk gaib itu benar-benar mendapatkan keinginan nya. Dia bisa memperdaya lu dengan mudahnya loh Sil. Makanya gue minta lu perbanyak ibadah, supaya iman lu kuat dan gak bisa diperdaya sama makhluk itu."
"Gue pasti gak akan sia-sia in pengorbanan Beny Ran huhuhu." Kata Silvia berlinang air mata.
Aku dan Mbak Rika hanya bisa menenangkan Silvia. Kami sama merangkulnya, supaya Sikvia tak terlalu tertekan dengan kenyataan yang baru saja ia dengar. Aku dapat memahami bagaimana perasaannya saat ini, Silvia pasti merasa semakin bersalah begitu mengetahui jika Beny sengaja mengorbankan diri untuk menyelamatkan nya.