
Pagi itu kami berniat pergi ke rumah Mbah Karto. Mbak Ayu mengatakan pada kami, jika siang nanti ia ingin kembali ke Jakarta. Katanya besok pagi ada rapat dengan para guru, dan ia wajib datang ke rapat tersebut.
"Ya udah kita balik bareng aja Mbak, tapi gue harus mastiin kondisi Mbah Karto baik-baik aja. Gue gak akan tenang ninggalin Desa, kalau Mbah Karto masih dalam kondisi yang sama."
"Gak usah Ran, lu disini aja dulu. Gue bisa balik sendiri gak papa kok."
Kami semua berjalan santai menyusuri jalan setapak di perkebunan menuju rumah Mbah Karto. Dari kejauhan nampak Malik berdiri mengambang menatapku, sepertinya ia menjaga jarak dari Mbak Ayu. Hawatir jika ia kembali histeris ketika melihatnya, aku hanya bisa memberi kode dengan anggukan kepala. Jika aku mengerti kenapa ia berdiri jauh dariku.
"Ran, gue tahu lu sedang komunikasi sama sosok penjaga lu kan. Semalam gue udah mikir, sepertinya gue memang harus siap menghadapi makhluk seperti mereka. Mau gak mau gue udah dikasih penglihatan ini, jadi gue harus terbiasa. Bilang sama penjaga lu, gue udah gak akan takut lagi kok." ucap Mbak Ayu lirih.
"Jadi semalaman Mbak Ayu gak tidur karena mikirin itu? astaga Mbak, gue kira lu kehasut dendam dan merencanakan sesuatu." sahutku dengan menepuk jidat.
"Hehehe enggak kok Ran, gue gak mikirin itu."
"Eh ayo buruan lama banget sih jalan nya!" seru Wati yang sudah berjalan di depan.
Kami bergegas menghampiri Wati dan menikmati udara segar di pedesaan. Banyak warga yang sedang memberi pakan ternaknya di kandang. Mereka menyapa kami dengan senyum ramahnya. Dari kejauhan nampak sebuah gubuk reot yang sangat menyeramkan. Di atap gubuk itu ditumbuhi ilalang, dan tanaman liar lainnya. Mbak Ayu bergidik ketika melihat ke arah sana. Seluruh bulu halusnya meremang, lalu ia berpaling ke arah lain.
"Kenapa Mbak?" tanya Wati penasaran.
"Disitu banyak hantu nya Wat, ih ngeri banget sampai berjubel gitu. Mana bentuknya aneh-aneh lagi. Bikin gue takut aja deh."
Penjelasan Mbak Ayu membuatku dan Wati terkejut. Rupanya Mbak Ayu benar-benar memiliki kelebihan sama seperti ku.
"Wajar aja Mbak lu ngelihat mereka disana berjubel. Dulu itu rumah dukun yang mempraktekan ilmu hitam, Mbah Wongso namanya. Dia adalah adiknya Mbah Karto, sesepuh Desa yang sangat disegani semua warga. Tapi mereka berbeda paham dan keyakinan, sampai akhirnya Mbah Karto harus menghabisi adiknya sendiri. Tragis ya kalau dibayangkan."
"Udahlah Wati gak usah ngomongin itu lagi. Biar almarhum Mbah Wongso menebus semua dosanya. Yang terpenting saat ini kita berdoa buat kesembuhan Mbah Karto." kataku dengan menghembuskan nafas panjang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." jawab seseorang di dalam sana.
Mbah Darmi keluar dengan berjalan tertatih. Tubuhnya yang sudah renta sangat terlihat jelas, raut wajahnya sangat sendu. Ia memelukku dengan erat.
"Nduk bantu Mbah Karto pulang Nduk. Kasihan dia sudah sepuh, mungkin hidupnya tak akan lama lagi. Jika memang Mbah Karto harus tiada, biarlah ia kembali ke dalam raganya. Seperti manusia pada umumnya, yang tiada karena meninggalkan jazadnya." ucap Mbah Darmi berlinang air mata.
Kami semua tertunduk pilu mendengar ucapan Mbah Darmi. Tak tahu harus berkata apa, aku hanya menenangkan Mbah Darmi. Tak lama Pak Jarwo datang dengan menundukan kepalanya.
"Kondisi Mbah Karto sudah gak memungkinkan, nafasnya sudah melambat. Kemungkinan raganya dapat bertahan sangat kecil. Satu-satunya jalan kita harus merelakan Mbah Karto, sewaktu-waktu beliau bisa meninggalkan dunia fana ini."
Aku tak dapat menerima semua kenyataan itu, ku katakan pada Pak Jarwo, jika aku siap menjemput jiwa Mbah Karto kembali.
"Meskipun Mbah Karto harus tiada, Rania mau jiwa Mbah Karto kembali ke raganya. Supaya ia dapat meninggalkan dunia ini dengan semestinya. Pokoknya Rania akan pergi ke alam itu untuk menjemput Mbah Karto." kataku dengan tekad bulat.
"Kau bisa dengan aman pergi ke alam itu hanya bersama dengan gadis ini. Dia satu-satunya yang dapat meredam amarah semua makhluk yang ada disana. Semua pengikut Leak akan tunduk dihadapannya, apakah kau mau menemani Rania pergi kesana Nak?" tanya Pak Jarwo memandang Mbak Ayu dengan sendu.
"Ta tapi kenapa harus saya Pak? saya gak pernah pergi kesana, bagaimana caranya saya dapat pergi ke alam itu?" jawab Mbak Ayu dengan pertanyaan lagi.
"Aku akan menuntun kalian berdua untuk sampai ke alam Mangrahi. Rania kau harus tetap berada di dekat Ayu, supaya jiwamu tak terancam oleh pengikut Leak. Mereka masih sangat menyegani Ayu, karena mereka tahu jika Ayu adalah sang penerus dan pemangku ritual."
Tapi Pak Jarwo tiba-tiba terdiam tak melanjutkan perkataannya. Ia menghembuskan nafas panjang seraya memijat pangkal hidungnya.
"Kenapa Pak? apa kami masih tetap dalam bahaya?" kataku dengan menelan saliva.
"Entahlah Nduk, ada perasaan cemas meski kalian berhasil membawa jiwa Mbah Karto kembali." jelas Pak Jarwo seraya memandang wajah Mbak Ayu.
"Jika hanya saya yang bisa mengawal Rania ke alam Mangrahi, saya siap melakukannya Pak." ucap Mbak Ayu dengan wajah serius.
"Tapi apakah kau bisa kembali lagi dalam keadaan yang sama Nak?"
Ucapan Pak Jarwo membuat kami semua tercengang, apa maksud dari perkataannya. Seakan tahu maksud dari pembicaraan itu, Mbak Ayu hanya menundukan kepala dengan mata berkaca-kaca.
"Semoga kau tak tersesat di jalan yang salah, kedatangan mu di alam itu memang sudah sangat di nantikan oleh para pengikut Leak. Bisa jadi kau bertemu Calon Arang, dan semua kemungkinan bisa saja terjadi jika Calon Arang itu datang."
"Apakah kami masih tetap dalam bahaya jika Calon Arang itu sampai datang?" tanyaku mengaitkan kedua alis mata.
"Entahlah Nduk, seperti yang ku katakan tadi. Semua kemungkinan bisa saja terjadi, mungkin akan ada sesuatu yang ditujukan untuk Dahayu. Jika kata batinku benar, mungkin Dahayu harus melakukan pengorbanan." jelas Pak Jarwo menghembuskan nafas panjang.
Ku tatap wajah Mbak Ayu dengan sorot mata tajam, ia terlihat sangat gelisah dengan peluh yang membasahi wajahnya. Kini Mbah Darmi menggenggam tangan Mbak Ayu lalu meneteskan air mata.
"Kalau kau harus berkorban demi menjemput Mbah Karto, biarlah jiwa nya tetap berada di alam itu. Meski jiwa Mbah Karto tak dapat beristirahat dengan damai, setidaknya tak akan ada korban jiwa lainnya Nduk."
Mbak Ayu larut dalam duka Mbah Darmi, dengan tegas Mbak Ayu mengatakan jika ia siap menjemput jiwa Mbah Karto meski apapun yang terjadi.
"Yang mereka tunggu memang saya Mbah, jadi biarlah saya yang datang ke alam itu, dan menanyakan apa yang mereka mau. Mudah-mudahan kami dapat membawa kembali jiwa Mbah Karto."
Setelah obrolan itu, Pak Jarwo memintaku menyiapkan beberapa keperluan yang akan digunakan untuk melakukan ritual. Ada yang berbeda dengan ritual kali ini, karena Pak Jarwo meminta canang dan dupa sebagai kunci menuju ke alam Mangrahi.
...Semoga perjalanan gaib Rania dan Mbak Ayu berjalan lancar, amin 🙏...
...**Bersambung. ...
Hai othor punya rekomendasi novel yang bagus buat kalian loh**.