Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 85 TERUNGKAP?


Dari kejauhan, nampak hantu Bulan melesat mendekati Bu Marni. Ia berdiri mengambang dengan membulatkan kedua matanya. Sontak saja Bu Marni ketakutan melihat hantu Bulan, ia berlari ke sembarang arah tanpa melihat keadaan sekitar. Dan dari arah berlawanan tengah melaju kencang sebuah mobil angkutan kota.


Bruugh.


Kecelakaan tak dapat terhindar, tubuh Bu Marni terpelanting ke seberang jalan. Tubuhnya tertelungkup dengan kepala membentur beton jalan. Nampak darah segar mengucur dari seluruh tubuhnya. Tas kamera yang ia pegang ikut melayang dan terlindas kendaraan lainnya. Aku sudah kehilangan salah satu bukti penting, karena pengakuan istri Pak Markum ada di kamera itu. Semua orang berhamburan untuk menolong Bu Marni. Nampaknya kondisinya sangat parah, bahkan ia sudah tak sadarkan diri. Aku berlari melihat tas kamera yang sudah remuk tak berbentuk lagi. Ku hembuskan nafas panjang, aku tak memiliki bukti lagi atas kesaksian istri Pak Markum, jika ia sudah mengakui perbuatannya. Di sisi lain ku lihat hantu Bulan sedang menatap tajam ke arah istri Pak Markum, ia membulatkan kedua matanya dengan sorot mata memerah. Kedua tangannya bergetar, seakan menahan amarah yang besar. Padahal ini masih siang hari, dan hantu Bulan bebas berkeliaran. Ternyata hantu yang gentayangan hanya di malam hari memang mitos belaka. Nyatanya hantu Bulan berkeliaran di siang bolong begini, semoga saja ia tak terbawa emosi dan mencelakai istri Pak Markum.


"Pak tolong Pak, hantu Bulan pasti ingin mencelakai ku juga. Kau lihat apa yang terjadi pada Mari, semua itu karena ulah Bulan Pak. Ibu takut Pak huhuhu!" serunya menangis ketakutan.


"Apa yang ibu bicarakan? Marni jadi seperti itu karena perbuatannya sendiri. Seharusnya ia menyesali semua perbuatannya di masa lalu. Tapi ia malah ingin lepas tangan, dan itulah yang mengakibatkan nya celaka seperti itu. Makanya, Ibu menyerah saja, dan akui semua kejahatan yang pernah Ibu lakukan. Supaya arwah Bulan dan Ibunya dapat beristirahat dengan tenang!"


"Ta tapi Pak, Ibu sudah tua. Jika Ibu mendekam di dalam penjara, pasti Ibu akan menghabiskan sisa hidup disana juga huhuhu."


Aku hanya terdiam melihat situasi kacau saat itu, tak banyak yang bisa ku lakukan. Aku langsung menghubungi Mas Adit untuk datang, dan tak lama setelah itu Polisi beserta ambulance datang ke lokasi. Ku jelaskan segalanya pada Maa Adit mengenai kejahatan dimasa lampau yang Bu Marni lakukan bersama istri Pak Markum. Bukti yang ada hanya tersisa rekaman di kamera ponselku. Kalau sampai istri Pak Markum tak mau mengakui kejahatan nya, aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Hanya kesadarannya yang dapat mengungkapkan kebenaran.


Setelah Bu Marni dilarikan ke Rumah Sakit, dan Polisi melakukan olah TKP. Ku lihat hantu Bulan masih ada di sekitar tempat itu, aku langsung menghampiri nya untuk berkomunikasi. Ku minta hantu Bulan untuk kembali ke alam keabadian, supaya ia tak gentayangan lagi. Tapi ia menjelaskan, jika dia masih belum tenang meninggalkan dunia fana ini.


"Percayalah Bulan, semua kejahatan yang mereka lakukan akan terungkap. Kau bisa meninggalkan dunia ini tanpa beban lagi. Aku berjanji, akan membuat bibi mu itu mengakui semuanya." bujukku pada hantu Bulan, tapi ia hanya diam dengan menundukan kepalanya.


"Aku sudah tak memikirkan pembalasan dendam lagi. Aku percaya, pamanku dapat membuat istrinya mempertanggung jawabkan perbuatannya. Aku hanya belum tenang meninggalkan Purnama, ia masih belum sembuh saat ini. Dan ia pasti akan merasa hancur ketika sembuh nanti, ia seorang diri di dunia ini. Bahkan anaknya tak diketahui keberadaan nya. Aku hanya bisa pergi setelah melihat Purnama baik-baik saja, dan ia dapat menemukan anaknya yang hilang." kata hantu Bulan raut wajahnya sendu.


Plaak.


Seseorang menepuk pundakku dari belakang, ku balikan badan ternyata Mas Adit sedang berkacak pinggang melihatku berbicara seorang diri dengan sosok tak kasat mata. Dan tak lama, hantu Bulan menghilang entah kemana.


"Aku ada kabar baik untukmu, ibu itu telah mengakui perbuatannya. Dan ia bersedia bersaksi di kantor polisi, kita hanya perlu menunggu korban kecelakaan tadi untuk memberikan kesaksian. Video yang kau kirimkan tadi udah menjadi salah satu bukti penting. Makasih ya Ran, udah selalu bantu nyelesain kasus. Seharusnya kau tak perlu melakukan itu, kami yang seharusnya mengungkapkan kejahatan. Tapi malah kau yang sibuk menelusuri berbagai kasus rumit."


Mas Adit mengusap bulir-bulir bening yang jatuh dari kedua mataku. Ia menyunggingkan senyumnya lalu menggenggam tanganku.


"Jangan terus memikirkan masalah orang lain. Kau juga perlu istirahat, jaga dirimu baik-baik Rania. Aku tak mau kau sakit karena terlalu lelah mengurus banyak hal."


Pak Markum menghampiri kami, ia berterima kasih padaku, karena telah membuat hidupnya kembali tenang.


"Istri saya sudah menyesali semua perbuatannya, ia mengaku menyesal telah berbuat demikian. Tolong sampaikan pada arwah Bulan, jika ia tak perlu mencemaskan Purnama lagi. Saya yang akan bertanggung jawab menjaganya, dan berusaha mencari dimana keberadaan anaknya. Sebentar lagi pasti Purnama dapat pulih, saya akan membujuknya supaya mengatakan dimana keberadaan bayi yang ia lahirkan."


Entah darimana Pak Markum tahu, jika aku bisa berkomunikasi dengan hantu Bulan. Aku hanya menganggukan kepala di hadapan nya. Setelah itu aku kembali mengobrol dengan Mas Adit. Ku tanyakan perkembangan kasus Janni, dan menurut Mas Adit, Janni tetap bungkam tak mau mengatakan dimana keberadaan Om Dewa.


"Jadi dia sudah mengakui kalau dia adalah ngebunuh Umi?"


"Iya, Janni mengakui perbuatannya pada Umi. Tapi ia menyangkal telah menyiksa Agus atas dasar perencanaan. Katanya Om Dewa yang meminta nya menyiksa Agus, jadi ia meminta dua lelaki yang menjadi kaki tangannya untuk melakukan itu. Meskipun bukan dia yang membuat rencana, tapi dialah yang membuat perintah itu. Tugas Polisi saat ini untuk menemukan keberadaan Om Dewa, tapi entah dimana dia."


"Tenang aja Mas, InsyaAllah aku akan bantu. Masih menjadi misteri dimana keberadaan Om Dewa saat ini. Salah satu dari mereka tak ada yang mau buka mulut, seakan ada yang mereka takutkan untuk mengatakan yang sebenarnya. Mungkin mereka ingin melindungi seseorang dengan menjaga rahasia tentang keberadaan Om Dewa."


"Jadi menurutmu mereka takut membocorkan informasi karena dalam tekanan?"


Aku pun tak dapat memprediksi apapun, karena tak ada sumber yang dapat memberikan kejelasan mengenai dugaanku. Apa yang sebenarnya Om Dewa lakukan, apa benar tujuannya hanya untuk mendapatkan kekuasaan sebagai pemangku ritual saja. Aku jadi curiga, jika ada sesuatu yang Tante Ajeng ketahui, tapi ia memang sengaja bungkam.


...Bersambung. ...


...Othor usahakan up meski slow ya teman² mohon dimaklumi ya 🤗💕...