
"Raniaa dia siapa? Kenapa dia bisa melihatku?" Tanya Petter seraya melesat ke belakang tubuh ku.
"Dia temanku, namanya Wening. Kau tak usah takut padanya. Kenapa kau bersembunyi di belakang ku?" Jawabku dengan pertanyaan.
Wening mendekatkan diri pada Petter, ia memberikan cokelat pada Petter seraya memperkenalkan diri.
"Hai kau pasti yang namanya Petter kan? Rania sudah menceritakan sedikit tentang mu. Tak usah takut padaku, aku tak akan menyakitimu kok." Ucap Wening berdiri agak membungkuk.
"Jadi kau tak akan menyakiti ku? Tapi aku tak mau cokelat darimu, aku tak suka berada di dekatmu!" Seru Petter seraya melesat pergi entah kemana.
"Ehm so sorry ya Wen. Sebelumnya Petter gak pernah kasar kayak gitu. Malahan dia selalu welcome ke temen-temen yang lain. Mungkin dia shock aja lihat lu bisa komunikasi sama dia."
"Gak apa-apa kok Ran, gue paham. Mungkin dia ngerasain energi kuat dari makhluk gaib yang sebelumnya ada di sekitar gue, dan ngebuat dia gak nyaman. Nanti biar waktu yang akan merubah pandangannya ke gue, kalau dia gak perlu takut lagi berada di dekat gue." Pungkasnya seraya masuk ke dalam mobil.
Aku menjelaskan padanya, jika tak lama lagi Petter dan Mamanya akan kembali ke alam mereka. Karena mereka sudah tak tinggal di alam manusia lagi. Wening menceritakan, jika ada tempat khusus yang dihuni para makhluk seperti Petter. Tentu saja aku mengiyakan, karena aku juga tau banyak tempat terbengkalai yang dijadikan tempat tinggal oleh mereka. Tapi tempat tinggal Petter kali ini berbeda, disana hanya ada makhluk tak kasat mata tanpa ada manusia yang bersliweran.
"Udah ah ngomongin mereka, ntar yang ada mereka pada datang kalau di omongin. Jadi males gue nya, belum lagi kalau ada yang minta tolong." Kataku dengan menghembuskan nafas panjang.
"Cuekin aja kali Ran, kalau ada yang kayak gitu. Ngapain lu ladenin demit yang gak ada guna, cuma buang waktu lu. Harus ada take and give dong. Kalau lu bantu para demit itu, mereka juga harus kasih sesuatu. Gak bisa seenaknya gitu aja, makanya mereka jadi kayak manfaatin lu buat dapetin apa yang mereka mau."
"Gak apa-apa lah Wen, itung-itung amal gue bantu mereka. Karena kebanyakan dari mereka mati penasaran dan gentayangan. Kalau gue gak bantu mereka, selamanya mereka bakal gentayangan di alam fana ini."
Wening tersenyum melalui sudut bibirnya, ia menggelengkan kepala dan mengatakan jika aku terlalu buang waktu.
"Pantas aja lu terlalu lama ngungkap kasus yang Pak Bos kasih. Lu gak bisa fokus ke satu hal ternyata. Tapi seperti kata gue tadi, tiap orang punya pemikiran berbeda. Dan kita tetap masih bisa berteman meski berbeda."
Aku hanya menyunggingkan senyum seraya menganggukkan kepala. Tiba-tiba dering ponsel mengejutkan ku, ku lihat panggilan masuk dari Wati. Ia menceritakan jika di Desa sedang ada semacam wabah penyakit. Dan sudah ada beberapa warga Desa yang meninggal dunia.
"Aku sedang mengunjungi ibu bersama Mas Pram. Mungkin aku harus tinggal disini beberapa hari. Sebenarnya aku ingin mengajak ibu bersamaku, tapi ibu gak mau Ran. Aku takut ibu sakit, dan gak ada yang tau. Tapi jika harus tinggal di rumah keluarga Sumitro, apa semua akan jauh lebih baik?" Jelas Wati di seberang telepon sana.
"Tiba-tiba satu persatu warga sakit tanpa sebab. Awalnya kayak orang masuk angin biasa aja, tapi setelah beberapa hari gak sembuh dan malah makin parah. Sampai mereka muntah darah gitu, lalu meninggal tanpa sempat dibawa ke rumah sakit." Kata Wati dengan nada suara panik.
"Mungkin emang masuk angin aja kali Wat, atau ada demam berdarah disana. Coba kau bahas dengan Pak RT buat kasih solusi, kalau emang banyak yang tiba-tiba sakit. Kasihan Bude di rumah sendirian."
"Ya udah, aku ke rumah Pak RT dulu. Ntar aku kabarin lagi Ran." Kata Wati sebelum mengakhiri panggilan telepon.
"Siapa yang sakit Ran?"
"Bukan siapa-siapa Wen. Itu tetangga di kampung lagi banyak yang sakit, sampai tiba-tiba ada yang meninggal. Sepupu ku jadi mencemaskan ibunya."
"Tiba-tiba sakit? Mungkin aja mereka kena tulah dari perbuatan di masa lalu. Biasanya kan warga desa percaya dengan hal-hal mistis kayak gitu. Coba aja disuruh buat ritual, supaya kehindar dari marabahaya." Celetuk Wening menyipitkan matanya.
"Tulah? Maksudnya gimana Wen?"
"Semacam hukum karma gitu loh Ran. Kalau semasa hidup orang berbuat jahat, pasti bakal kena karma buruknya juga kan. Bisa jadi mereka pernah berbuat keji sama seseorang, dan sekarang adalah giliran mereka menerima karma nya!"
"Gue gak paham dengan maksud lu Wen. Karena setau gue warga desa di lingkungan itu gak ada yang jahat. Apalagi semena-mena sama orang lain. Jadi gak mungkin ada hubungannya dengan hal kayak gitu deh."
"Terserah lu aja sih Ran, itu hanya pendapat pribadi gue aja kok. Semoga keluarga lu yang ada disana baik-baik aja ya." Ucapnya dengan tersenyum datar.
"Iya Wen thanks."
Aku terdiam dengan melihat wajah Wening dari kaca yang ada di depan. Sesekali ia menyeringai tanpa sebab, padahal kami sedang tak membahas apa-apa. Tentu saja sikapnya yang aneh membuatku bertanya-tanya. Entah kenapa aku selalu merasa penasaran dengan setiap kata yang ia ucapkan. Seakan selalu ada maksud dari setiap perkataannya, dan aku tak bisa menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yang mengganjal di dalam hati dan pikiran ku.