Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 266 MERENGGUT SATU NYAWA.


Eyang Buyut banyak memberikan wejangan untukku. Menurutnya aku harus mengutamakan keselamatan ku terlebih dulu, sebelum memikirkan keselamatan orang lain.


“Bagaimana caranya kau bisa melindungi mereka semua Nduk, jika keselamatan mu sendiri terancam? Jika kau tak bisa menjaga dirimu dengan baik, nyawa semua warga juga pasti tak akan bisa diselamatkan.” Ucap Eyang Buyut dengan tersenyum simpul.


“InsyaAllah Rania gak akan lupa nasehat Eyang malam ini. Tapi kali ini Rania benar-benar membutuhkan bantuan dan dukungan dari Eyang. Rania gak akan mampu menghadapi semua ini seorang diri, apalagi masih ada masalah lainnya yang belum selesai sampai sekarang.”


“Kau pasti bisa Nduk, banyak orang-orang yang akan selalu mendukung mu dan rela membantu mu. Jarwo pasti bisa menyelesaikan masalah yang ada disini, meski manusia sesat itu bersekutu dengan banyak setan sekalipun. Tapi jika posisimu sudah tak memungkinkan untuk melawan, InsyaAllah Eyang akan datang untuk melindungi mu. Masalah yang Dahayu hadapi karena ulah Rahajeng pasti akan selesai, wanita sesat itu harus menghadapi takdir yang sama seperti suaminya. Cepat atau lambat dia akan menjadi budak abadi di alam mangrahi. Jadi kau tak perlu risau memikirkan keselamatan Dahayu, kau hanya perlu fokus dengan masalah orang-orang yang ada hubungannya dengan Desa ini. Contohnya seperti Kuntilanak merah yang sekarang sedang berada dalam pengaruh Warto dan keponakannya. Mereka akan memanfaatkan demit itu untuk mencelakai mu Nduk. Tapi tenanglah, satu bantuan akan datang lagi.” Jelas Eyang sebelum berpamitan pergi, lalu menghilang entah kemana.


Aku duduk termenung di gazebo, ku pandangi langit gelap yang sebagian awan nya nampak hitam. Entah kenapa Eyang tak menjelaskan apa yang terjadi dengan Pakde nya Wening ya. Kenapa Eyang Buyut datang secepat itu jika mereka memang bertarung. Bodohnya aku tak bertanya apapun tadi, aku malah sibuk mengeluhkan keadaan ku sendiri.


“Rania... Kau sedang apa disitu Nduk? Kata Wati kau mau sekalian shalat subuh di mushola?” Tanya Bude Walimah seraya berjalan ke arah ku. Ia sudah memegang sapu lidi untuk menyapu halaman rumah.


“Badan Rania kotor semua Bude, tadi habis jatuh di jalan. Makanya sengaja pulang mau mandi dulu baru shalat subuh.”


“Gimana istrinya si Wandi, udah ketemu apa belum Nduk?”


“Sudah kok Bude.” Kataku dengan menghembuskan nafas panjang.


Bude yang sangat faham dengan sikap ku, langsung duduk di sampingku seraya mengusap rambut ku. Ia meminta ku membagi semua beban yang mengganjal di dalam hatiku, karena tak ingin melihat ku memendam semuanya sendiri. Aku langsung menceritakan semua kejadian di hutan batas Desa tadi, saat Pakde nya Wening menculik istri Pak Wandi. Tak lama tersiar berita dari toak mushola yang menyiarkan kabar meninggal dunia bayi yang ada di dalam kandungan istri Pak Wandi. Sontak saja seluruh tubuh ku bergetar, aku sangat terkejut mendengar berita itu.


“Inalillahi wainnailaihi raji’un.” Ucap Bude Walimah seraya menggelengkan kepalanya.


Deegh.


Jantung ku berdetak tak beraturan, aku tak menyangka jika bayi tak berdosa itu akan menjadi korban dari kejadian malam ini. Padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan sang ibu. Tapi pada kenyataannya, bayi yang ada di dalam kandungan nya tetap tak bisa diselamatkan. Bulir-bulir bening mengalir deras membasahi seluruh wajah ku. Aku terisak dipenuhi rasa bersalah. Bude langsung mendekapku dalam pelukan nya, ia menyeka air mata ku dan meminta untuk tenang.


Seusai mandi dan shalat, aku menyenderkan kepala di dinding kamar. Mataku sayu dan terasa berat sekali. Tak lama setelah itu aku pun terpejam, dan tidur selama beberapa jam. Suara alarm hape membangunkan ku tepat di jam delapan pagi. Aku masih dalam posisi duduk ketika terbangun, lalu ku matikan alarm di hape. Ku dengar suara ibu-ibu yang sedang sibuk di dapur, sepertinya tak banyak yang membantu hari ini. Karena beberapa warga ada yang mengurusi proses pemakaman bayi Pak Wandi. Di ruang tamu sudah ada Pak Jarwo yang duduk di bangku dengan menyunggingkan senyumnya. Ia mengusap rambutku dan menghibur ku, supaya aku tak menyalahkan diriku sendiri.


“Sepertinya Warto memang sengaja menumbalkan bayi di dalam kandungan istri Warto untuk demit penunggu pohon beringin itu. Semalam yang kau hancurkan hanya rumah singgahnya. Tapi demit itu sudah mendapatkan apa yang dia mau. Warto sengaja ingin membuat semua orang takut, dan tak ada yang berani menentangnya. Tapi dia salah, kita harus tetap menguburkan jasad Bening.” Kata Pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis mata.


“Rania kira semua sudah baik-baik aja Pak. Semalam Rania udah berhasil bebasin istri Pak Wandi dari sekapan demit itu. Tapi ternyata mereka sangat jahat dan licik, mereka tega ambil nyawa bayi yang masih di dalam kandungan ibunya huhuhu.” Ucap ku terisak.


Tiba-tiba Pak Sapri datang dan menepuk pundakku. Ia meminta ku untuk tak menyalahkan diri sendiri, karena semua warga sudah melihat bagaimana usahaku semalam menyelamatkan semua orang.


“Mari Nduk kita ke rumah Wandi dulu, jenazah bayi nya sudah datang. Kita semua harus menguburkan bayi itu terlebih dulu. Sebelum kita berangkat ke hutan batas Desa untuk mengambil jasad si kembar.” Pungkas Pak Sapri membujuk ku.


“Benar Nduk, kita kebumikan dulu bayi itu. Pak Haji Faruk juga sudah ada disana, jangan membuat semua orang menunggu kita.” Kata Pak Jarwo seraya bangkit berdiri.


Aku menyeka air mata, lalu berpamitan pada Bude yang sedang ada di dalam kamar bersama Wati. Mereka sedang menerima telepon dari seseorang, dan tak lama Wati berpamitan lebih dulu.


“Bu titip Mas Pram sebentar ya, Wati mau ke jalan utama dulu.”


Ngapain Wati pergi ke jalan utama, memangnya dia mau ketemu siapa disana. Batin ku bertanya-tanya di dalam hati.


“Hati-hati ya Nduk cepat pulang, ibu jadi cemas dengar suara beliau.” Sahut Bude Walimah dengan menggelengkan kepala.


“Hmm Bude, Rania pergi ke rumah Pak Wandi dulu ya. Habis itu mungkin kami langsung ke hutan batas Desa.” Jelasku seraya mengecup punggung tangan nya.


Aku berjalan ke teras rumah, nampak Wati sedang berpamitan pada Pak Jarwo dan juga Pak Sapri. Tapi Pak Jarwo kembali menghentikan Wati, terdengar ia meminta Wati langsung pergi ke rumah Pak Wandi setelah ia kembali. Tentu saja Wati nampak bingung, ia menggaruk kepala nya, tapi ia tak mengatakan apa-apa. Aku jadi penasaran, siapa yang akan Wati temui di jalan utama sana. Bahkan Pak Jarwo juga berpesan supaya Wati langsung pergi ke rumah Pak Wandi setelah ia pulang nanti. Karena ada informasi penting yang harus Pak Jarwo sampaikan.