Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 98 AWAL BARU.


Mbak Ayu langsung mendatangi Wenny dan menegurnya. Menurut Mbak Ayu, sikapnya sebagai pegawai di Hotel ini sangat tidak pantas. Disaat kami meminta maaf pada tamu di Hotel itu, Wenny hanya diam di depan pintu. Padahal tadi dia yang meminta kami segera masuk ke kamar VVIP itu. Jika memang sudah ada tamu yang check-in, kenapa Wenny tak mengatakan apa-apa.


"Sabar Mbak, mungkin waktu tamunya check-in, Wenny lagi gak tugas. Makanya dia gak tahu kalau udah ada tamu yang menginap di kamar ini."


"Mungkin aja sih Ran, ya udah yuk kita telusuri tempat yang lainnya aja. Masih dongkol gue sama tuh orang!" Keluh Mbak Ayu memalingkan wajah dihadapan Wenny.


Kami langsung melakukan penelusuran di berbagai sudut Hotel mewah itu. Memang terkadang ada beberapa makhluk astral yang berada disana. Tapi mereka tak mengganggu para pekerja dan tamu yang ada. Jadi menurutku, kami tak perlu menegur mereka. Karena beberapa dari mereka memang sudah lama tinggal disini, sebelum Hotel ini dibangun. Jadi aku tak mungkin mengusir atau mengusik keberadaan mereka.


"Eh Ran, makhluk seperti mereka itu bentuknya beraneka ragam ya? Udah kayak penduduk Indonesia aja yang dari Sabang sampai Merauke." Celetuk Mbak Ayu terkekeh geli.


"Iyalah Mbak, emang manusia aja yang rupanya beda-beda. Ngomong-ngomong nih, lu udah terbiasa lihat mereka ya Mbak? Padahal kan lu belum lama bisa ngelihat makhluk gaib. Gak kayak gue dulu yang ketakutan setengah mati, sampai-sampai gue selalu histeris kalau ketemu mereka. Tapi semua jadi biasa aja, setelah gue ketemu sahabat tak kasat mata gue. Petter namanya, entah dimana dia sekarang. Udah lama banget gue gak pernah ketemu dia, kadang kangen juga sih." Kataku teringat beberapa kenangan bersama Petter, karena dulu ia yang paling banyak menolong ku dari demit-demit yang mempunyai niat jahat padaku.


Plaaak.


Mbak Ayu menepuk lenganku, karena aku mendadak kebawa perasaan.


"Kalau kangen panggil aja Ran. Lu kan bisa komunikasi sama mereka lewat batin. Emangnya makhluk seperti mereka bisa sebaik itu ya sama manusia?"


"Bisa Mbak, kan dulu Petter yang selamatin gue dari sekapan dukun jahat. Waktu itu gue pernah mau ditumbalin, kan gue udah pernah cerita sama lu. Tapi sekarang gue gak mungkin manggil Petter, dia udah tenang di alam antah berantah bersama orang tuanya." Aku menghembuskan nafas panjang, terkadang rindu itu berat juga.


Setelah menelusuri semua ruangan di berbagai sudut Hotel itu, akhirnya kami sampai di kolam renang. Aku melihat ke berbagai arah, tak ada aktivitas yang mencurigakan dari para makhluk astral itu. Tak ada demit yang bermain di dalam kolam renang, seperti apa yang Pak Bos ceritakan. Aku memutuskan untuk memesan makanan dari restoran Hotel, tapi sebelumnya aku harus reservasi menggunakan voucher dulu. Dan ku minta Mbak Ayu untuk menunggu di tepi kolam renang, sementara aku pergi ke restoran. Nampak suasana restoran tak begitu ramai, hanya ada beberapa tamu saja yang sedang menyantap hidangannya. Ku lihat Ibu-ibu yang tinggal di kamar VVIP, aku menyapanya, dan ia hanya membalas sapaanku dengan tersenyum ramah.


"Kenapa Ibu itu selalu sendirian ya, emang nya enak apa nginep di Hotel sendirian. Mana di kamar sebesar itu lagi. Pasti Ibu itu orang kaya deh, makanya dia nginep di kamar kelas satu." batinku didalam hati.


Aku menghampiri pelayan restoran, lalu melihat daftar menu nya. Tiba-tiba terlintas dipikiran ku, makanan yang tersaji di meja Ibu tadi. Lalu aku menanyakan pada pelayan itu, karena aku tak tahu apa nama menu yang di pesan olehnya.


"Maaf Mbak, saya mau nanya nih. Kalau menu yang ada di meja sebelah sana itu apa namanya ya?"


"Yang mana ya Kak?" Tanya pelayan restoran itu dengan mengaitkan kedua alis matanya.


"Itu loh Mbak, yang disana!" Jawabku menunjukan jari telunjuk ke arah meja makan Ibu-ibu tadi.


"Hehehe maaf Mbak. Sepertinya Ibu tadi udah pergi deh. Ya udah saya pesan dua sirloin steak aja. Tolong antar ke kolam renang ya, saya tunggu disana aja." Jelasku seraya memberikan voucher padanya.


Setelah itu aku berjalan meninggalkan restoran, dan berpas-pasan lagi dengan Ibu yang menginap di kamar kelas satu. Dia sedang berfoto di Lobby Hotel, tak ada yang memperdulikan nya sama sekali. Karena ia terlihat kesusahan untuk memhambil potretnya sendiri. Lalu aku menawarkan diri untuk membantunya mengambil beberapa foto.


"Biar saya bantu Bu."


"Wah terima kasih ya Dek. Sejak saya menginap di Hotel ini, gak pernah ada yang ngelayanin saya dengan bener. Mereka kayak gak niat kerja, mungkin karena saya tinggal di Hotel ini makai voucher gratisan. Makanya mereka acuh." Jelasnya seraya berpose di depan pintu masuk Hotel.


"Masak sih Bu? Nanti coba saya tanyakan ke Staff bagian management ya Bu. Kebetulan Hotel ini milik Bos di tempat saya bekerja. Saya disini juga lagi ada sedikit pekerjaan juga sih."


"Maaf ya Dek kalau merepotkan, tapi saya cukup senang menikmati semua fasilitas gratis di Hotel ini. Rasanya saya gak pengen pulang, betah banget tinggal disini."


Kami cukup lama berbincang di Lobby, sampai tak sadar jika pesanan makananku sudah datang. Dan Mbak Ayu mengirimkan pesan padaku. Segera aku berpamitan pada Ibu itu, dan beranjak pergi meninggalkan nya.


"Lu lama banget sih Ran? Bilangnya pesan makan, tapi makanannya udah datang malah lu nya yang gak datang-datang!" Protes Mbak Ayu dengan mengerucutkan bibirnya.


"Hehehe sorry Mbak, tadi gue bantuin tamu Hotel ambil foto. Yuk kita makan dulu, habis ini laporan ke Pak Bos. Dan kita bisa pulang ke kostan. Btw lu ngelihat demit yang jahil gak disini?"


"Hmm demit sih banyak Ran disini, secara kan kolam renang itu tempat yang lembab. Mereka pasti pada seneng di tempat ini. Tapi mereka gak ada yang jahil kok, amanlah disini."


Kami menyantap hidangan yang tersaji di meja, rasanya benar-benar enak. Mungkin karena kami baru pertama kali makan di restoran Hotel bintang lima. Tak lama Wenny datang, dan memintaku pergi ke kamar VVIP. Katanya ada pegawai Hotel yang baru saja dicelakai hantu yang ada di kamar itu.


"Memangnya dicelakai gimana sih? Tadi kami lihat disana gak ada apa-apa kok. Bukannya di kamar itu udah ada yang reservasi ya?"


"Dari awal kalian berdua datang, kamar itu belum ada yang check-in. Dan memang sengaja gak disewakan untuk umum, karena sebenarnya kamar itu sudah dijadwalkan untuk pemenang kuis tebak kata yang ada di akun Lovagram Hotel. Dan seorang perempuan yang memenangkan voucher menginap gratis di kamar kelas satu itu." Ucap Wenny seraya menunjukan foto seorang perempuan di dalam ponselnya.