Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 279 IDE PENJEBAKAN DARI WATI.


Mbok Genuk menatapku lebih dalam lagi, ia bertanya kenapa aku seakan meragukan dirinya. Tak ada pilihan lain selain menjelaskan pada beliau mengenai petunjuk yang Eyang Buyut tunjukkan padaku.


"Rania dapat petunjuk melalui mimpi Mbok. Pak Warto bersekongkol dengan ratu buaya putih, untuk mendapatkan kesaktian dan mustika. Tapi harus ada yang ditumbalkan, dan Rania hawatir kalau Pramono yang akan dijadikan korban."


"Mana mungkin bisa Nduk, Pramono dengan kondisinya yang seperti itu."


"Entahlah Mbok, karena Eyang gak mengatakan dengan spesifik siapa yang akan ditumbalkan. Hanya saja Rania cemas dengan keselamatan Pramono. Sedangkan Wening sendiri masih terlihat mendukung Pakde nya."


"Kau benar Nduk, Wening seakan tidak ada rasa kecewa pada Warto. Padahal jelas-jelas Warto sama sekali tak menanyakan kondisinya, tapi Wening tetap dingin padaku. Seakan dia masih berharap Warto perduli padanya." Jelas Mbok Genuk dengan wajah sendu.


Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari salah satu ruangan. Tak lama Wati pun berlari ke dalam sebuah ruangan disusul dengan Pramono. Kemudian Mbok Genuk pun panik dan berlari ke ruangan yang sama. Ketika aku sampai di dalam ruangan itu, terlihat ketegangan di antara Wening dan juga Mas Adit. Mereka sepertinya tengah berdebat, dan Wening tak terima dengan tuduhan yang Mas Adit tujukan padanya.


"Kau tau betul apa maksud ku, keluarga di Desa Rawa Belatung yang terkena santet dari Pakde mu salah satunya adalah keluarga ku. Kenapa kau tak mau mengaku saja, jika kau juga terlibat hah?" Bentak Mas Adit dengan membulatkan kedua mata.


"Saya gak tau apa-apa Pak, kenapa saya harus mengakui semuanya? Mbah tolong suruh mereka semua pergi, Wening gak mau ada mereka Mbah!"


Mbok Genuk menatap kami semua satu persatu, ia menundukkan kepala dengan menghembuskan nafas panjang. Wening melihat Mbok Genuk tak berkutik dan tak mendengar permintaan nya. Ia pun mengancam jika ia tak mau melihat Mbok Genuk lagi, jika beliau tak meminta kami semua pergi. Akhirnya Mbok Genuk terpaksa menuruti permintaan nya.


"Sebentar Wen, ada yang mai gue sampaikan dulu ke lu mengenai pekerjaan." Jelas ku dengan mengaitkan kedua alis mata.


Akhirnya semua orang keluar dari ruangan Wening. Hanya ada aku dan dia saja di dalam ruangan. Wening menyeringai dan menatapku seakan penuh kebencian.


"Jangan lu kira, dengan mengalahkan gue akan membuat gue tinggal diam. Lu terlalu licik dari yang gue kira, lu bersekutu dengan makhluk gaib juga. Jadi lu gak sebaik yang gue kira, kita itu sama-sama jahatnya Rania. Kenapa lu gak membiarkan gue membalaskan dendam pada semua orang di Desa itu. Gue janji akan membiarkan orang-orang yang lu sayangi dan gak akan mencelakai mereka."


"Gue mau bicara sama lu, bukan buat membahas rencana balas dendam lu. Lagipula lu salah menilai gue, gue gak bersekutu dengan makhluk gaib seperti apa yang lu lakuin. Gue dapat mustika setelah gue melakukan ibadah, jadi jangan samakan gue kayak lu. Dan satu lagi, kalau lu masih berniat nyelakain warga Desa gue gak akan ampuni lu lagi seperti sekarang. Pak Bos uda nunggu lu, jadi lebih baik lu cepetan sembuh dan balik kerja. Kalau lu yang masih jadi pegawai kontrak gak mau ditendang dari perusahaan!" Kataku dengan menghembuskan nafas panjang.


"Udah ya Wen, gue gak mau buang waktu sama lu! Jadi mending lu tobat aja deh, karena kalau sekali lagi lu berbuat hal yang sama. Gue gak akan pernah kasih lu kesempatan lagi!" Imbuh ku menatap nya tajam, lalu pergi meninggalkan nya.


Diluar sana nampak Mas Adit sedang berbicara dengan Mbok Genuk dan juga Wati. Aku menghampiri mereka, dan menjelaskan mengenai sikap Wening padaku.


"Apa mungkin sebaiknya aku membiarkan Wening saja ya Nduk. Dia tak mau berubah dan tetap mendukung Pakde nya, meski Warto sudah meninggalkan nya."


"Kami tak bisa berkata apa-apa Mbok. Semuanya kembali ke Mbok Genuk sendiri, karena Wening adalah satu-satunya keluarga yang masih Mbok miliki." Ucapku dan didukung oleh Wati, bahkan Mas Adit pun sependapat dengan ku.


Mas Adit mencoba meminta pendapat Mbok Genuk, karena ia ingin membuat rencana penangkapan atas Wening dan juga Pakde nya.


"Saya hanya gak tega melihat Mbok Genuk. Kalau Wening sampai di penjara, apakah Mbok Genuk tak akan bersedih?" Tanya Mas Adit mengaitkan kedua alis mata.


"Tentu saja aku akan sedih Nak, tapi apa mau dikata. Jika itu satu-satunya cara yang dapat menghentikan Wening. Daripada dia terus tersesat di jalan keburukan, lebih baik dia berada di tempat yang semestinya. Mungkin dengan begitu, dia akan berhenti untuk memikirkan pembalasan dendam. Dan tak mencelakai orang lain lagi." Jawab Mbok Genuk dengan suara bergetar.


"Baiklah kalau begitu, saya sudah mempunyai bukti untuk menjebloskan Wening ke dalam penjara. Makanya saya minta pendapat Mbok Genuk lebih dulu."


"Maksudnya gimana Mas?" Kataku bersamaan dengan Wati yang penasaran.


Mas Adit menjelaskan, jika sewaktu dia masuk ke dalam ruang perawatan tadi. Dia sudah menghidupkan alat perekam di saku bajunya. Yang menunjukkan pembicaraan antara dia dan Wening. Menurut Mas Adit, awalnya Wening mengelak sampai dia merasa tersudut dan mengakui jika Pakde nya yang berusaha mencelakai warga.


"Tapi tak hanya membutuhkan pengakuan dia saja, saya juga membutuhkan bukti yang kuat. Setidaknya untuk tindakan awal, saya bisa memenjarakan nya. Dan untuk proses selanjutnya, saya harus mencari bukti yang lebih kuat lagi."


Mas Adit kemudian diam, mungkin dia sedang mencari cara untuk mendapatkan bukti yang kuat. Sepertinya aku harus membantu Mas Adit, ubah menjebak Wening supaya dia tanpa sadar mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan kasus kriminal lainnya. Supaya proses hukum dapat berjalan dengan lancar. Tiba-tiba Wati berbisik di telinga ku, ia mempunyai rencana untuk menjebak Wening dan juga Pakde nya. Tapi tetap harus ada seseorang yang mengorbankan dirinya. Tentu saja aku terkejut mendengar penjelasan Wati. Maksudnya dia dengan mengorbankan diri itu apa ya. Batin ku bertanya-tanya, penasaran dengan rencana apa yang ia maksud.