
"Apa Pak Jarwo memiliki penglihatan tentang Om Dewa?" Tanya ku dengan menalan ludah kasar.
"Nasib dan takdir seseorang tak ada yang mengetahuinya Nduk. Biarkan waktu yang akan menjawabnya, kita hanya perlu menerima takdir baik ataupun buruk. Kita serahkan saja pada Sang Pencipta." Jawab Pak Jarwo menghembuskan nafas panjang.
Pembicaraan kami berlanjut membahas mengenai keluarga Pak Mitro. Kali ini Pak Jarwo terang-terangan mengingatkan ku, jika aku sedang berurusan dengan salah satu keturunan Pak Mitro.
"Maksudnya gimana Pak? Rania aja belum pernah ketemu sama Pak Mitro, apalagi dengan keturunan nya."
"Sebentar lagi kau akan mengerti apa yang ku maksud. Tapi aku minta kau berhati-hati, supaya tak terlalu dalam mencampuri urusan mereka. Tak hanya sekedar pesugihan, mereka memiliki peliharaan gaib juga. Yang bisa kapan saja mereka suruh untuk melenyapkan seseorang yang tak mereka sukai."
Aku terdiam, tak mengerti sama sekali maksud pembicaraan Pak Jarwo. Karena aku memang sama sekali tak mengenal siapapun dari keluarga Pak Mitro.
"Kenapa kau diam saja Nduk? Apakah ada yang ingin kau tunjukkan padaku?"
Aku gelagapan menjawab pertanyaan Pak Jarwo, entah sesuatu apa yang ia maksud. Tiba-tiba ia membahas tasbih yang seseorang berikan padaku.
"Loh Pak Jarwo juga tahu tentang itu?"
Nampak Pak Jarwo hanya menyunggingkan senyumnya. Ia menganggukkan kepala dan meminta ku mengambil tasbih itu. Aku mengambil tasbih di dalam tas ransel lalu menyerahkannya pada Pak Jarwo. Ia langsung menjelaskan, jika tasbih ini bukan sembarangan tasbih. Menurutnya yang memberikan tasbih itu padaku bukan orang sembarangan.
"Apa Pak Jarwo yakin jika beliau itu manusia?"
"Tentu saja Nduk, apa kau meragukan ku?" Kata Pak Jarwo dengan mengaitkan kedua alis matanya.
"Bukannya Rania ragu dengan penjelasan Pak Jarwo. Tapi yang Rania lihat waktu itu sangat tidak masuk akal. Beliau yang memberikan tasbih ini tiba-tiba saja menghilang tanpa jejak. Sepertinya beliau bukanlah berasal dari golongan manusia."
"Kau salah Nduk. Beliau masih manusia sama seperti kita. Tapi beliau bukanlah manusia biasa, beliau memiliki kelebihan yang orang lain tak punya. Dia bisa berada dimana saja kapanpun dia mau. Ada beberapa manusia yang memiliki kelebihan semacam itu. Jika aku dan almarhum Mbah Karto bisa berpindah ke tempat lain, itu hanya jiwa kami saja. Sementara beliau yang kau temui itu, bisa berpindah tempat lengkap jiwa dan raga nya. Dia hanya akan datang disaat yang tepat, dan tidak sembarang orang bisa bertemu dengannya. Kau salah satu orang yang beruntung karena mendapatkan sesuatu darinya. Simpan dan jaga tasbih ini dengan baik, tasbih itu akan selalu melindungi mu jika kau terus menggunakannya untuk ibadah. Memang hanya Allah yang selalu melindungi semua umatNya. Tapi lewat perantara tasbih itu, InsyaAllah kau akan selalu terlindungi."
Aku diam sesaat, memikirkan ucapan Pak Jarwo. Siapa sebenarnya orang yang sedang kami bicarakan itu. Sepertinya ia sangat spesial, bahkan Pak Jarwo menyebutnya bukan manusia sembarangan. Tapi aku merasak tak asing dengan orang tersebut. Kakek tua bersorban putih dengan wajah teduhnya. Masih saja terlintas di kepala ku, sosoknya yang sangat ramah itu.
"Raniaaa. Sini!" Teriak Lala seraya melambaikan tangannya.
"Ya sudah kita bahas lain waktu lagi. Pergilah temui Lala, sepertinya ia tak sabar ingin menceritakan seseorang yang akhir-akhir ini dekat dengan nya." Ucap Pak Jarwo seraya menyunggingkan senyumnya.
Aku terkejut mendengar kabar kedekatan Lala dengan seseorang. Aku berlari menghampiri Lala kemudian merangkul nya.
"Wah aku dengar kau sudah punya pacar baru ya La?"
"Ngaco ish Rania. Pasti Kakak ipar ku yang cerita ya?" Sahut Lala mengaitkan kedua alis mata.
Baru saja Lala akan bercerita, Wati dan Mbak Ayu datang mengejutkan kami. Sontak saja Lala menghentikan ucapannya. Ia malu-malu menceritakan tentang kedekatannya bersama seseorang yang masih menjadi rahasia itu.
"La, apa kau bisa memanggil anakmu? Aku penasaran pengen lihat seberapa tampan nya anakmu itu. Kata Rania anakmu sudah dewasa dan sangat tampan di alamny. Bahkan ia sangat baik hati, menuruni sifat dari ibunya." Celetuk Mbak Ayu memohon di depan Lala.
Nampak Lala hanya cengegesan mendengar permintaan konyol Mbak Ayu. Ia tak tahu harus berkata apa, dan Wati lah yang menjawabnya. Menurut Wati, Lala tak setiap saat bisa bertemu dengan anaknya.
"Di alam manusia dan alam gaib itu punya perbedaan waktu Mbak. Dulu aku juga sama seperti kalian, bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk gaib. Tapi seiring berjalannya waktu, kekuatan itu menghilang entah kemana. Jadi hanya kalian bertiga saja yang masih memiliki kemampuan semacam itu. Kalau mau lihat anaknya Lala, tunggu saja di malam tertentu, dia pasti akan mengunjungi Ibunda nya." Jelas Wati singkat.
"Bener kata Wati, tapi Lala juga harus melanjutkan hidupnya. Meski dia memiliki anak gaib, kehidupannya di alam manusia ini harus tetap berjalan Mbak. Makanya mereka gak bisa sering bertemu, apalagi Ayahanda dari Senopati masih ada." Kataku dengan menyunggingkan senyum.
"Wah jadi anak lu namanya Senopati? Sorry ya La, gue gak tahu apa-apa tentang lu. Tapi gue cuma penasaran aja. Karena gue juga bisa melihat makhluk gaib kayak lu. Kapan-kapan main ke Jakarta, ntar gue ajak lu keliling jalan-jalan deh sepuasnya!" Seru Mbak Ayu menaikan alis mata.
Kami semua tersenyum bersama, kecuali Wati yang diam dengan menundukkan kepalanya. Dan wajahnya pun berubah muram.
"Sepertinya aku gak akan pernah bisa ke Jakarta lagi. Apalagi jalan-jalan bareng kalian." Pungkasnya menghembuskan nafas panjang.
"Apa salahnya Wat. Kalau kau tak bisa kesana, kami yang akan mendatangi mu untuk berkunjung. Ya gak gaes?" Aku memeluk Wati dengan mata berkaca-kaca.
Malam ini perasaan kami semua campur aduk. Besok Wati akan segera melangsungkan pernikahan. Seharusnya ada perasaan bahagia yang kami rasakan. Tapi melihat wajah Wati yang tertekan, kami semua jadi tak bisa merasakan kebahagiaan untuknya.
"Kalian semua janji ya, akan selalu mengunjungi ku kalau aku tak bisa pergi kemana-mana. Jujur aja, aku takut berada di rumah keluarga itu." Kali ini Wati benar-benar berlinang air mata.
Kami semua langsung memeluknya bersamaan, dan berjanji akan selalu ada buatnya.
"Ya udah kalian tidur aja duluan ya, aku mau ke depan sebentar." Kataku seraya bangkit berdiri, lalu melangkah keluar.
Aku duduk di teras depan rumah. Ku pandangi langit malam, lalu menghirup udara segar khas pedesaan. Tiba-tiba bulir-bulir bening membasahi wajahku, kali ini aku tak bisa menyembunyikan kesedihan ku. Terlalu banyak masalah yang aku hadapi, tapi sekarang aku harus berjuang sendiri mengatasinya.
"Kau sedang apa Nak?" Ucap Mama seraya duduk di samping ku.
Mama menyeka air mataku lalu mengusap lembut rambutku. Aku semakin terhanyut dalam kesedihan.
"Rania gak tega lihat Wati Mah. Seandainya Rania bisa melakukan sesuatu untuk menggagalkan pernikahan itu, pasti Rania akan melakukan nya."
"Ssst. Sudah ya sayang, jangan menangis lagi. Kita sebagai manusia hanya bisa menerima takdir Allah. Kau hanya cukup memberikan semangat untuk Wati, jangan tunjukan kesedihan mu di hadapannya. Itu hanya akan membuat Wati semakin berat hati saja Nak. Kita berdoa saja, supaya kelak kehidupan Wati bisa berbahagia. Bukankah teknologi jaman sekarang sudah semakin canggih. Calon suaminya pasti bisa disembuhkan, dan kehidupan rumah tangga mereka bisa berjalan sebagaimana mestinya."
Mendengar penjelasan Mama, aku mulai bisa menenangkan hati. Aku menganggukkan kepala, dan menyeka air mata. Tapi sekelebatan bayangan mengejutkan ku, aku memandang ke segala arah mencari sosok gaib yang tadi mengawasi ku.