Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 180 SIAPA DIA?


Pagi itu jenazah Fendi akan segera dikebumikan, jadi Heni beserta semua keluarga nya akan pergi saat itu juga. Aku meminta sosok Fendi untuk pergi bersama keluarga nya. Mungkin saja oa berubah pikiran dan siap kembali ke alam keabadian. Tapi ia langsung menolak, menurut Fendi, ia ikut pergi bersama keluarga nya hanya untuk melihat semua keluarga nya untuk terakhir kalinya. Karena setelah kasus nya terungkap, dan Mbak Lia dinyatakan tak bersalah. Ia akan segera meninggalkan alam manusia, dan kembali ke tempat yang seharusnya. Aku tak bisa memaksanya, kedua jiwa tanpa raga itu masuk ke dalam mobil ambulance. Karena sosok Mbak Lia juga ingin menemani Fendi. Kemudian aku mendatangi Mas Adit yang masih sibuk berkoordinasi dengan supir ambulance.


"Mas apa kau benar-benar harus pergi mengantarkan ijenazah Fendi?"


"Iya Ran. Sekali jalan bisa langsung ke Desa Dahlia. Aku bersama beberapa petugas ingin mencari informasi dari warga sekitar rumah Dahlia. Sementara disini, udah ada petugas yang menelusuri semuanya."


"Okelah kalau begitu terus kabari aku ya Mas. Hati-hati di jalan."


Setelah itu rombongan yang membawa jenazah Fendi pergi dikawal oleh Mas Adit dan petugas lainnya. Aku menghembuskan nafas panjang, merasa beban di pundak sedikit lebih ringan dari sebelumnya. Pagi ini aku ingin istirahat saja di kost an, karena besok aku harus mulai bekerja seperti biasa nya. Tiba-tiba ada panggilan video masuk dari Mama. Segera ku sentuh tombol terima panggilan itu. Begitu layar terhubung, aku melihat Mama mengarahkan kameranya ke ranjang Mbak Ayu. Ia sudah sadar dan berhasil lepas dari masa kritis. Nampak Mbak Ayu belum bisa banyak bicara, tapi ia menyunggingkan senyumnya padaku. Aku sampai terharu dan meneteskan air mata bahagia.


"Ran jangan nangis emangnya lu lagi berduka apa? Gue masih hidup dan baik-baik aja." Ucap Mbak Ayu dengan suara lirih.


"Gak usah becanda deh Mbak! Ngapain lu ngelakuin sesuatu yang ngebahayain diri lu sendiri? Kenapa lu ga cerita ke gue dulu sebelum mengambil keputusan sebesar itu?"


"Kalau gue udah enakan ntar ngobrol lagi ya, ada Dokter datang nih."


Mama kembali mengarahkan kamera padanya, ia bertanya padaku kenapa sepagi ini aku sudah di luar rumah. Aku hanya menjelaskan seperlunya, jika ada teman yang ku temani bermalam di rumah sakit. Kemudian Mama mengatakan jika Mbak Ayu sudah boleh keluar dari rumah sakit maka mama dan papa akan langsung kembali ke Kalimantan.


"Mengenai Om Dewa, kita hanya bisa pasrah pada Tuhan Nak. Ia koma setelah operasi, dan belum sadarkan diri. Tapi Mama udah ceritain semua ke Dahayu."


"Iya Ma, kita hanya bisa berdoa saja. Semoga Om Dewa baik-baik aja dan lekas pulih. Sampaikan salam ke Papa ya, nanti kita bicara lagi. Assalamualaikum." Ucapku seraya mengakhiri panggilan video itu.


"Eh Dek Rania, gak kebagian makanan di depan ya? Mau pesan apa Dek?" Tanya Bu Siti seraya menyerahkan daftar menu.


"Hmm gimana ya Bu, sebenarnya saya memang tak berniat makan disana."


"Kenapa Dek? Kelihatan nya makanan disana enak-enak ya pembelinya sampai antri-antri di depan."


Aku hanya menyunggingkan senyum tak tahu harus mengatakan apa. Tak mungkin aku menjelaskan jika pemilik tempat itu menggunakan penglaris dari sosok gaib. Aku tak ingin menyebarkan berita semacam itu. Biar saja orang-orang yang tahu dan melihatnya sendiri. Aku memesan satu porsi soto sapi, dengan lauk sate telur puyuh. Tiba-tiba seorang perempuan datang dan meminta ijin ke toilet. Ia mengeluh jijik setelah memakan sedikit makanan yang ada di rumah makan depan itu. Aku langsung menolehkan kepala menatapnya dengan mengaitkan kedua alis mata. Sepertinya dia baru saja melihat sosok gaib yang menjadi penglaris disana. Entah kenapa manusia jaman sekarang masih saja menggunakan cara instan seperti itu. Padahal dengan mereka bersekutu dengan sosok gaib seperti itu. Tak ku hiraukan lagi masalah itu dan membayar harga makanan ku lagi berpamitan pada Bu Siti.


Di tengah-tengah perjalanan pulang, aku berpas-pasan dengan seorang perempuan yang memakai pakaian tradisional kebaya dengan kain jarit. Seperti pakaian perempuan tradisional jaman dulu. Tapi ada selendang warna merah yang menggantung di lehernya. Selendang itu seperti hiasan yang dipakai dalam tarian tradisional. Nampak raut wajahnya yang sangat cantik dan manis, apalagi tubuhnya yang molek dan ramping. Membuat penampilan perempuan itu terlihat menawan. Tapi aku merasakan energi negatif yang sangat besar, begitu kami saling bertatap muka. Astaga, ternyata dia adalah sosok tak kasat mata. Kenapa aku harus berpas-pasan dengannya. Saat itu juga aku berpura-pura tak melihat wujudnya, aku berlagak sedang menerima telepon dan mengacuhkan sosok cantik dengan energi negatif itu.


Whuuusd.


Sosok itu kini melesat tepat di depan mataku. Energi negatif dan wajahnya yang terlihat marah tak mampu menyembunyikan niat ku untuk tetap berpura-pura tak melihat wujudnya. Ia berteriak memekik di hadapan ku dengan suara mengerikan.


"Kenapa kau mengacuhkan kehadiran ku hah!" Pekiknya dengan membulatkan kedua matanya.


Seketika jantung ku berdetak sangat kencang, nafasku berderu tak beraturan. Hampir saja aku melompat karena kaget. Kenapa demit ini sangat marah hanya karena aku berpura-pura tak melihatnya. Tapi keputusan ku sudah bulat, aku tak ingin berurusan dengan sosok demit perempuan itu. Aku juga butuh waktu untuk istirahat, karena itulah aku terus melanjutkan sandiwara dan mengacuhkan nya. Ku langkahkan kaki kembali ke rumah kuno, dan masuk ke dalam kamar. Tapi nampaknya sosok demit itu masih penasaran dengan ku. Karena pertemuan yang tidak disengaja tadi, sosok itu mengikuti ku sampai ke kamar. Sebenarnya aku merasa sangat tidak nyaman dan terganggu berada di dekat sosok itu. Tapi jika aku berkomunikasi dengannya, sosok demit perempuan itu akan tahu jika selama ini aku memang berpura-pura tak bisa melihatnya. Bayangkan saja! Sosoknya berdiri mengambang di pojokan kamar dan terus memperhatikan ku. Setiap gerakan tubuhku selalu dipantau oleh sosok demit itu. Entah kenapa demit perempuan itu jadi mengikuti sampai ke rumah ini. Padahal aku tak ada urusan dengannya, mungkinkah aku harus berkomunikasi dengan nya. Supaya ia mau pergi meninggalkan ku. Walaupun demit perempuan itu tak sampai menyakiti ku, tetap saja aku sangat risih dan terganggu dengan caranya mencari perhatian ku. Supaya aku terpancing dan berkomunikasi dengannya. Ciih dasar demit licik, ternyata kau sengaja memancing kekesalan ku, supaya aku mengakui jika aku bisa melihat wujudmu.


Tapi setelah ku pikir-pikir lagi, jika aku mengaku bisa melihat wujudmu pasti kau akan meminta sesuatu dari ku. Dan ujung-ujungnya pasti aku juga yang akan disusahkan karena kehadiran nya di sekeliling ku.