Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 60 KEJANGGALAN?


Aku kembali meyakinkan bapak itu, jika aku akan membantu membersihkan nama baik perempuan yang bernama Cahaya Bulan. Tapi bapak itu terus melangkahkan kakinya menjauh dariku. Dengan tekad bulat, aku berlari ke hadapan lelaki tua itu dan menyatukan kedua tangan di depan dada. Aku meminta tolong padanya dengan benar-benar tulus supaya ia mau membantuku bertemu dengan Cahaya Bulan. Lelaki itu menghembuskan nafas panjang, dan mengajakku ke sebuah rumah yang terlihat kotor dari luarnya. Dan ketika pintu rumah itu dibuka, aku tak kalah terkejutnya melihat semua barang di rumah itu di penuhi sarang laba-laba dan juga debu.


"Sebelumnya perkenalkan nama saya Markum, orang yang di tuakan di kampung ini. Dan orang yang kau cari itu sudah tiada, tapi seseorang yang menjadi korban atas kebiadapan orang kaya itu masih ada dan tersiksa sepanjang hidupnya."


Aku tetkejut mendengar kabar kematian Cahaya Bulan, lantas bagaimana aku bisa membawanya bertemu dengan bos besar di kantor. Aku menggaruk kepala yang tak gatal, sekelebatan bayangan putih mengejutkanku. Sesosok hantu perempuan yang tak asing di mataku tengah menatap tajam kepadaku. Aku menelan saliva seraya melihat foto yang ada di tangan.


"Di diaa Cahaya Bulan?" batinku di dalam hati dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Dek. Dek ada apa?" tanya Pak Markum menepuk pundakku.


"Ti tidak ada apa-apa Pak, saya hanya melamun saja."


"Kata warga sekitar sini, arwah Bulan sering kelihatan di rumah kosong ini. Kalau bisa Adek jangan banyak ngelamun, takut kesambet nantinya."


"Ehm iya Pak, maaf kalau boleh tahu itu foto Cahaya Bulan sama siapa ya Pak?"


Aku menunjuk bingkai foto berdebu yang sudah tak terlihat lagi gambarnya. Pak Markum mengambil bingkai itu, lalu membersihkan debunya. Ia menyunggingkan senyumnya dan berkata jika itu bukan Bulan, tapi Purnama yang ia sebut sebagai Aya. Perempuan yang kehilangan akal dengan membawa boneka di tangannya.


"Loh Pak, tapi foto ini mirip sekali dengan foto Cahaya Bulan." kataku seraya membandingkan selembar foto di tanganku dengan foto yang ada di bingkai itu.


"Mereka memang serupa, tapi ada perbedaan di antara keduanya."


Di tengah-tengah penjelasan Pak Markum, aku sedikit mengamati foto yang ada di bingkai dan sosok hantu yang serupa itu. Ah rasanya kepalaku benar-benar pusing, tak dapat mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Seakan tahu aku didera kebingungan, Pak Markum mengajakku kembali berjalan ke sebuah ruangan yang tertutup dengan benda-benda berantakan di atas ranjang. Nampak foto-foto tertempel di dinding kamar itu, kedua perempuan yang mengenakan baju kembar. Foto yang dipenuhi debu segera ku usap supaya dapat melihatnya dengan jelas. Nampak keduanya memiliki wajah yang sama, hanya bentuk rambut dan tahi lalat yang membedakan keduanya.


"Yang memiliki tahi lalat di dekat mata itu adalah Cahaya Purnama. Dan yang satunya lagi adalah Cahaya Bulan. Keduanya memiliki watak yang berbeda, Bulan gadis yang selalu ceria dan pandai bergaul. Sedangkan Purnama berbanding terbalik dengan kakak kembarnya. Ia pendiam dan susah bergaul dengan semua orang. Malam itu hujan badai, Bulan masih lembur karena meliput berita kebanjiran di suatu tempat. Purnama sangat mencemaskan kakaknya, ia berpamitan pada sang Ibu untuk menjemput Bulan di kantornya. Entah apa yang terjadi setelah itu, Purnama kembali ke rumah dengan keadaan yang mengenaskan. Bajunya compang camping robek disana sini, ibunya menangis histeris. Dan kebetulan saat itu saya sedang tugas ngeronda, karena takut ada banjir susulan. Saya melihat sendiri Purnama hanya diam saja dan ibunya menutupinya dengan kain, sang ibu bercerita jika kemungkinan Purnama dilecehkan seseorang. Tak ada yang tahu siapa pelakunya, sampai akhirnya Bulan pulang dan melihat keadaan adik kembarnya. Seiring berjalannya waktu, Purnama menunjukan tanda-tanda kehamilan. Ibu dan kakak kembarnya cemas takut kondisi kehamilan Purnama terdengar warga sekitar, dan menjadi cibiran. Bulan terus membujuk Purnama untuk mengatakan siapa yang telah tega merenggut kehormatan nya. Akhirnya Purnama mengatakan segalanya, jika seseorang di kantor nya yang telah menodainya. Bulan memaksa Purnama, untuk menemui lelaki yang ia bicarakan. Karena kandungan Purnama sudah semakin membesar. Diam-diam Bulan mengikuti Purnama menemui lelaki yang menodainya. Bulan pun sangat terkejut mengetahui jika bos besarnya yang telah menodai Purnama. Tapi bos nya tak mau mengakui bayi yang ada di dalam rahim Purnama. Setelah itu tak ada yang tahu bagaimana kejadiannya. Purnama kembali ke rumah dengan perut yang sudah mengecil, tak ada yang tahu apa yang telah terjadi dengan dirinya. Bahkan tak lama setelah itu, Bulan ditangkap oleh Polisi karena berusaha membunuh atasannya sendiri. Itulah kebenaran yang terjadi, tak ada yang tahu kemana Purnama pergi dengan perut besarnya. Karena ia kembali tanpa bayinya, setelah itu Purnama kehilangan akal sehatnya dan menjadi tak waras seperti yang kau lihat tadi. Memang benar Bulan yang berusaha membunuh atasannya, tapi Purnama lah yang menjadi korban kebiadapan orang kaya itu. Lantas siapa yang orang kaya itu cari? perempuan yang dihamilinya atau perempuan yang berusaha melenyapkan nya?"


"Jadi sekarang apa yang Adek ingin tanyakan lagi?"


"Kalau boleh tahu Cahaya Bulan meninggal karena apa ya Pak?"


"Nah ini dia Dek." kata Pak Markum tak melanjutkan perkataannya lalu mengajakku keluar dari rumah kosong.


"Kenapa kita keluar rumah Pak?"


Pak Markum menutup pintu rumah kosong itu, ia menoleh ke kanan kiri lalu mengajakku ke rumahnya.


"Kita ngobrol di rumah saya saja Dek, sekalian minum teh dulu."


Istri Pak Markum mempersilahkan ku masuk dan membawakan secangkir teh. Beliau ikut duduk bersamaku dan Pak Markum di ruang tamu. Keduanya menjelaskan padaku tentang kejadian janggal saat Cahaya Bulan ditemukan tewas. Entah apa yang terjadi malam itu, Bulan dan Ibunya ditemukan tewas di rumahnya. Sementara Purnama yang sering uring-uringan berafa di gudang penyimpanan barang bekas. Karena setelah ia kembali tanpa bayinya, Purnama berubah menjadi tak terkendali. Ia sering menyakiti seseorang yang tak sengaja bersenggolan atau menyentuhnya, termasuk ibunya sendiri. Kami menempatkan nya disana supaya ia tak menyakiti orang lain. Dan hanya dialah yang tersisa dari keluarganya. Sepertinya ada yang sengaja melenyapkan Bulan dan Ibunya. Itulah kecurigaan kami, tapi tak ada yang berani mengusutnya.


"Apakah ada tanda-tanda jika keduanya memang dibunuh?" tanyaku mengaitkan kedua alis mata.


"Memang tak ditemukan bekas kekerasan di tubuh keduanya. Tapi beberapa warga sempat melihat beberapa orang bertamu di rumah mereka. Sampai esok harinya, tetangga sebelah rumah mereka merasa aneh karena Bulan dan Ibunya tak keluar rumah sejak pagi. Padahal biasanya keduanya selalu bergantian memberikan Bulan makan setiap pagi. Saya memutuskan membuka paksa rumah mereka, dan menemukan mereka tewas di tempat tidurnya masing-masing."


...Tunggu kisah ini selesai dulu ya, baru Rania akan melakukan penelusuran dimana keberadaan Agus dan orang-orang lainnya. See you 👋...


...Bersambung. ...