
Aku bersama Beny bergegas ke parkiran dengan membawa berbagai peralatan. Petter masih terus mengikuti langkah ku dengan bersenandung tak jelas.
"Kau berisik sekali sih, sana masuk mobil duluan!" Seru ku menoleh ke arah Petter.
"Dih. Dari tadi gue diem aja loh Ran, kan gue masih harus angkut barang dulu. Kenapa lu nyuruh gue masuk ke dalam mobil sih?" Sahut Beny mengaitkan kedua alis mata.
Seketika Petter tertawa melihat ku jadi canggung di depan Beny. Tak lama setelah itu Petter menjulurkan lidah nya meledek ku. Dasar hantu bocil, bisa-bisanya dia bertingkah begitu.
"Hmm sorry Ben, gue gak lihat masih banyak barang yang harus lu angkut ya. Kalau gitu habis ini gue tunggu di mobil aja ya?"
"Jangan di mobil aja Ran. Bawa sekalian mobilnya ke Lobby biar gue lebih deket angkut barang nya!"
Aku mengangkat ibu jari seraya masuk ke dalam mobil. Nampak Petter sedang duduk santai di belakang. Ia meminta ijin padaku untuk berkeliling di sekitar pelabuhan, karena ada yang ingin ia lihat.
"Tapi tujuanku bukan kesana Petter. Kalau kau mau menemui ku bagaimana?"
"Ach mudah, kau berkomunikasi saja padaku melalui batin. Maka aku akan mengikuti suara batin mu, dan datang ke tempat mu berada."
Petter melesat menembus mobil dan menghilang bagaikan hembusan angin. Kemudian aku mengemudikan mobil ke Lobby kantor, dan menunggu Beny datang. Setelah ia memasukan semua peralatan ke bagasi, aku pindah di kursi penumpang. Tentu saja Beny yang akan menjadi Driver nya. Aku menyenderkan kepala di jok seraya memejamkan mata. Terdengar Beny protes karena aku membiarkan nya mengemudi sendirian.
"Hehehe sorry Ben, gue agak ngantuk nih kalau udah kena ac dan posisi enak gini."
"Perjalanan kita bisa sampai dua atau tiga jam lebih loh Ran. Padahal awalnya kita harus liputan dua jam sebelum nya. Untung orang-orang yang akan kita wawancarai memaklumi keadaan, dan mau nunggu kita datang."
"Lah itu kan salah lu sendiri Ben, gue kan gak ada di project ini sebelumnya. Jadi kalau sampai ada keterlambatan atau perubahan jam ya itu resiko lu dong!"
"Iya juga sih Ran, ini semua karena Silvia gak tau ada dimana. Coba aja dia ada kabar dan datang tepat waktu, pasti schedule nya gak akan berantakan begini." Keluhnya dengan menghembuskan nafas panjang.
"Udah Ben, gak usah nyalahin keadaan. Siapa tau saat ini Silvia benar-benar sedang dalam masalah. Kan kita gak tau juga apa yang terjadi sama dia, makanya jangan ngeluh dulu Ben. Kalau emang terjadi sesuatu sama Silvia gimana coba, emang lu gak kasihan?"
"Ya kasihan lah Ran. Makanya semalam tuh gue udah ajak dia balik sebelum isya. Eh dia malah ngotot pengen wawancara sendiri, dan mau pulang naik kereta. Ujung-ujungnya malah bikin cemas banyak orang kan!"
Beny nampak frustasi, ia mengacak rambutnya kasar. Lalu ia memintaku untuk menghubungi ponsel Silvia kembali. Tapi tetap saja tak ada perubahan, kontaknya tak bisa dihubungi. Hanya memanggil terus menerus. Perjalanan kami terasa semakin lama, karena perasaan gelisah yang menggelayut. Kami sama-sama menantikan kabar dari Silvia, bagaimanapun kami sangat cemas belum mendapatkan kabar apapun darinya. Terdengar ponsel yang berbunyi, segera ku lihat layar ponsel. Nampak pesan singkat dari Pak Bos, ia bertanya apa aku sudah melakukan komunikasi dengan jiwa Bu Purnama. Astaga, karena sibuk memikirkan Silvia yang hilang aku sampai melupakan tuhas dari Pak Bos.
"Kenapa Ran, ada kabar dari Silvia?" Tanya Beny dengan wajah serius.
"Dih dari tadi Silvia terus yang dibahas, lu ada rasa ya sama dia? Hayoo loh ngaku aja deh Ben!"
"Apa an sih Ran. Gue cuma panik aja dan ngerasa bersalah, udah biarin dia pulang sendirian. Tau gitu gue tetep sama dia sampai dia selesai wawancara."
"Menyesal juga gak ada guna nya Ben, pada kenyataannya semua sudah terjadi. Kita berdoa aja supaya dimanapun Silvia berada, dia tetap dalam lindungan Allah."
"Amin ya Allah." Sahut Beny seraya menundukkan kepalanya.
Tak terasa akhirnya kami sampai juga di Bogor, dan kami memilih istirahat sebentar di pinggiran jalan dengan menikmati semangkok bakso. Dengan pemandangan perkebunan teh di depan mata. Aah rasanya otak ku sedikit segar melihat dan menghirup udara segar di perkebunan. Tiba-tiba ponsel Beny berdering, dan ia tak sempat menerima panggilan telepon karena sudah lebih dulu mati. Begitu ia melihat layar ponselnya, nampak raut wajah Beny berubah. Ia mengatakan jika barusan adalah telepon dari Silvia, tapi begitu ia menelepon balik. Panggilan nya tak tersambung, entah kenapa aku jadi semakin cemas.
"Lu yakin gak bisa telepon balik Ben?"
"Gak bisa Ran, nih liat memanggil terus kan!" Pungkas Beny seraya menunjukkan ponsel di genggaman tangan nya.
Aku menggaruk kepala yang tak gatal, perasaan tadi Beny langsung telepon balik begitu panggilan itu tak terjawab. Sebenarnya ada sih sama Silvia.
"Ya udahlah kita jalan lagi aja yuk, biar cepet kelar kerjaan kita. Setelah itu kita bisa cari tau apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Beny seraya membayar makanan kami.
Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit, kami sampai di lokasi. Beny bertugas meliput dan aku yang mewawancarai beberapa saksi mata. Berdasarkan cerita kerabat dan tetangga tersangka sekaligus korban. Tak ada kejanggalan sebelum tragedi berdarah itu terjadi. Dan mereka juga tak menyangka, jika Pak Awan melakukan pembunuhan pada istri dan anaknya kandung nya sendiri. Jasad kedua korban dicor semen di dalam rumah mereka. Tapi polisi sudah memindahkan jasad semua korban. Tiba-tiba fokusku terpecah, karena melihat kedua jiwa tanpa raga yang menangis terisak di dalam sebuah ruangan yang terpasang garis kuning. Sepertinya mereka adalah korban pembunuhan, dan tempat itu adalah tempat dimana ditemukannya jasad keduanya. Entah kenapa mereka masih berkeliaran disini, padahal kasusnya sudah terungkap dan ditangani polisi. Harusnya sih mereka tak gentayangan lagi.
"Maaf Bu, apakah ada masalah lain yang menyebabkan Pa Awan melenyapkan istri dan anaknya sendiri? Apa menurur Ibu, hubungan mereka baik-baik saja?" Tanya ku pada kerabat nya yang tinggal di sebelah rumah.
"Sebenarnya saya gak tau pasti ya Mbak. Tapi saya pernah dengar mereka ribut ngomongin warisan istrinya, yang akan dibagi hanya untuk anak-anak tiri suaminya saja." Jawabnya dengan mengusap belakang tengkuknya.
Memang saat ini jiwa kedua korban sedang berada di dekat kami. Nampaknya kedua jiwa tanpa raga itu belum menyadari jika aku bisa melihat wujud mereka. Jadi aku juga tak merespon, supaya mereka tak menghantui ku dengan meminta pertolongan. Biar saja kasus ini di usut polisi, karena aku sudah terlalu banyak masalah dan tak ingin menambah masalah baru lagi.
Terdengar Beny mengakhiri proses liputan, dan kami berterima kasih pada semua narasumber yang bersedia diwawancarai. Nampak Beny bertanya pada semua orang yang semalam bertemu dengan Silvia. Ia ingin tau Silvia pergi dari tempat itu menggunakan apa. Dan si Ibu yang ku wawancarai tadi mengatakan, jika perempuan yang dimaksud Beny pergi menggunakan ojek online. Kemudian Beny berasumsi, jika ada kemungkinan Silvia menggunakan taksi online untuk kembali ke Jakarta. Tapi itu hanya pendapat pribadinya, dan kami harus memastikan lebih lanjut kebenarannya.