Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 200 DISESATKAN?


Tiba-tiba aku merasakan energi dengan kekuatan jahat di sekitar ku. Aku sangat hafal dengan energi itu, pasti si merah sedang ada di sekitar sini untuk mengawasi ku.


"Pak nanti kita bicara lagi, sepertinya peliharaan nya sudah datang untuk mengintai kita. Pasti demit itu mau tau apa yang kita bicarakan. Setelah ini saya akan datang ke rumah Bu Purnama, tapi saya boleh minta ijin untuk mengajak Mbak Rika? Karena saya hawatir kalau ada apa-apa selama disana."


"Pergilah. Minta Rika untuk menyerahkan pekerjaan nya ke Pak Arya, biar dia tahu pekerjaan di team kalian itu tak mudah. Dan dia tak bisa semena-mena pada team kalian!"


Aku hanya menganggukan kepala, lalu meninggalkan ruangan itu. Ku lihat Mbak Rika baru saja menutup gagang telepon. Ia menyipitkan kedua mata, mengomentari permintaan ku pada Pak Bos.


"Lu kayak anak emas beneran ya Ran. Apa yang lu minta selalu dikasih Pak Bos. Emang lu minta gue temenin lu kemana? Sampai-sampai Pak Arya yang disuruh ngerjain tugas gue hari ini!"


"Pak Bos ngasih ijin karena gue diminta nemuin Bu Purnama. Gue diminta berbicara dengannya, supaya dia merasa nyaman bersama orang-orang baru yang nanti akan bertugas menjaganya. Tapi gue gak ngerti deh, kenapa si merah masih ngikutin gue. Memang sih dia gak nyakitin gue, tapi apa tujuannya sih ngintai gue terusan. Heran gue, makanya gue ajak lu Mbak. Biar gue gak emosi kalau terusan pas-pasan sama tuh demit!"


"Lu ya Ran, giliran yang gak enak ngajak gue!"


"Enak kok Mbak, kan lu jadi santai hari ini. Ya gak?" Sahut ku dengan menaikan alis mata.


Whuuuusd.


Petter melesat ke samping ku dengan menarik lengan baju ku. Ia berteriak jika hantu perempuan jelek baru saja mengejarnya. Seketika aku terbelalak dan melihat ke berbagai arah. Nampak sosok merah sedang berdiri mengambang tak jauh dari kami. Tanpa basa-basi aku menghampiri nya, dan menegurnya supaya tak mengganggu Petter lagi.


"Kau tau kenapa sampai saat ini aku masih membiarkan mu gentayangan mengawasi ku? Itu karena kau tak mengganggu ataupun menyakiti ku atau orang-orang di sekitar ku. Tapi kalau kau mengganggu hantu kecil itu, aku bisa membuatmu menjadi abu!"


"Dasar manusia sombong! Kau pikir dengan benda-benda yang kau bawa itu, kau bisa dengan mudah mengalahkan ku?" Sahutnya melotot.


Nampak dari belakang ku, Mbak Rika mengusap belakang tengkuknya. Ia ketakutan melihatku marah dengan sosok yang tak nampak di matanya. Ia mendatangi ku, lalu menarik tangan ku pergi dari sana. Tak lama setelah itu Petter melesat mengikuti kami. Mbak Rika membawa mobil kantor untuk kami gunakan ke rumah Bu Purnama.


"Rania. Perempuan jelek itu masih mengikuti kita loh! Aku gak suka ada dia, kau singkirkan saja perempuan itu!" Celetuk Petter seraya menundukkan kepala.


"Dia memang sering seperti itu, sudah acuhkan saja. Kau ikut jalan-jalan bersama ku, oke?"


"Ran lu ngomong sama siapa sih?" Tanya Mbak Rika menggaruk kepala yang tak gatal.


Aku tak mengatakan yang sebenarnya, karena nanti Mbak Rika pasti akan ketakutan jika ku bilang ada hantu yang menumpang bersama kami di mobil. Tapi tiba-tiba Mbak Rika menjadi linglung, ia kebingungan menentukan arah. Harusnya kami belok di jalan depan sebelum tikungan pertama, tapi karena ia fokus mendengarkan pembicaraan ku dengan Petter akhirnya ia kebablasan. Dan terkejut begitu kami memasuki jalanan yang sangat sepi. Dan ia mengaku baru pertama kali lewat jalanan ini. Sontak saja aku terkejut, bagaimana mungkin Mbak Rika mengemudikan mobil bisa sampai nyasar. Padahal kan kita hanya kebablasan satu belokan saja, dan akhirnya mobil yang dikemudikan Mbak Rika diputar balik. Untuk kembali ke belokan yang seharusnya. Tapi setelah menyusuri jalan sebaliknya, kami tak menemuka belokan yang kami cari.


"Loh Ran! Sebenarnya kita dimana sih, kok belokan tadi gak ada ya? Perasaan kita cuma kebablasan dua ratus meteran, dan langsung putar balik. Tapi pas kita cari gak kelihatan ada belokan, karena jalan ini hanya lurus aja loh!" Seru Mbak Rika seraya menoleh ke kiri dan kanan.


Mendengar perkataan nya, aku jadi ikut panik. Bukankah harusnya Jakarta selalu dipadati dengan kendaraan. Tapi tiba-tiba saja kami tak melihat satu kendaraan pun yang melintas di sekitar kami.


"Rania. Sepertinya perempuan jelek itu membuat kita memasuki dimensi alam lain. Berdoa lah Rania, supaya kita bisa kembali ke alam manusia. Perempuan jelek itu sangat jahat, aku tidak suka padanya!" Celetuk Petter mengejutkan ku.


Seketika aku meminta Mbak Rika untuk menghentikan laju mobil itu. Aku menghembuskan nafas panjang, berusaha menenangkan pikiran. Mbak Rika sedang sibuk dengan gawai nya, dan ia berteriak histeris kalau lokasi kami tak terdeteksi Google Maps.


"Ran... Gimana nih, kok lokasi kita ga kedeteksi sih. Sebenarnya kita ada dimana? Gu gue takut Ran!" Ucap Mbak Rika dengan tangan gemetar.


Aku sudah benar-benar kehilangan kesabaran, ternyata merah sengaja mempermainkan ku. Baiklah aku akan memberikan pelajaran padanya. Dan tak jauh dari mobil, nampak sosok merah berdiri mengambang dengan tertawa memekakan telinga. Ia sangat puas, melihat kami hilang arah karena nya. Baru kali ini merah benar-benar mengganggu ku, apa dia sengaka melakukan hal ini karena perintah dari Bu Kartika. Aaah bagaimana kalau ini adalah jebakan yang sengaja Bu Kartika lakukan untuk mengecohkan ku, dan saat ini ia sedang berusaha mencelakai Bu Purnama. Bodohnya aku terbawa emosi karena merah sengaja memancing amarh kum