
Tak lama Senopati datang dan memberi salam pada Sang putri. Ia meminta ijin untuk membawa ku dan juga Ibunda nya pergi dari wilayah kekuasaan nya. Sang Putri memberikan ijin dengan syarat kami harus meninggalkan Asep disana. Ia harus mempertanggung jawabkan perbuatan nya.
"Kalian bisa pergi bersama Pangeran Senopati. Tapi jangan pernah datang kembali untuk mencari pemuda itu." Ucapnya seraya mengarahkan telunjuknya ke arah Asep.
Nampaknya Asep masih belum mengetahui kesalahan yang telah ia perbuat. Bahkan ia tak bisa melihat kehadiran para makhluk gaib yang ada di hadapan kami. Sebenarnya hati kecil ku merasa tak tega melihatnya, tapi aku juga tak dapat mencampuri urusan alam gaib. Terlebih lagi Asep memang melakukan kesalahan.
Setelah Senopati mendapatkan ijin untuk meninggalkan alam gaib kekuasaan Sang Putri, aku dan Lala dibawa pergi menembus dimensi gaib kembali ke alam manusia.
"Ibunda, setelah ini jangan lakukan apapun meski kalian bertemu dengan manusia lainnya. Kalian hanya bisa bertemu dengan seorang manusia yang telah menantikan kedatangan kalian di Puncak ini." Ucap Senopati menyatukan kedua tangan setelah itu berpamitan pergi.
Aku hanya diam berdiri mematung tak berkata-kata. Entah apa yang akan terjadi pada Asep di alam gaib sana.
"Udah Ran, gak usah dipikirkan lagi. Biar saja Asep menanggung semua perbuatan nya. Terkadang kita tak bisa mencampuri urusan di alam lain. Apalagi kita memiliki tujuan sendiri." Pungkas Lala seraya menggenggam tangan ku.
Mungkin memang benar kata Lala, aku tak seharusnya memikirkan hal itu. Toh Asep memang lancang dengan sadar mengambil sesuatu tanpa ijin. Setelah sedikit tenang, aku dan Lala melanjutkan perjalanan ke puncak Curug. Kabut tebal mulai membatasi pandangan, aku menggunakan senter untuk menerangi jalan. Kami berjalan tanpa ada gangguan dan hambatan sama sekali.
"Ran, sebentar lagi kita sampai nih. Tuh udah kelihatan kayu pembatas nya!"
"Alhamdulillah ya La, habis ini kita istirahat tidur bentar. Kalau udah bangun baru bisa shalat tahajud deh."
"Oke. Tapi jangan kebablasan tidurnya!"
"Hehehe kau masih ingat saja kalau aku tidur suka kebo!"
Di sepanjang perjalanan menuju puncak, kami merasakan energi positif yang sangat besar. Bahkan tubuh kami menjadi segar kembali, Lala yang heran sempat menghentikan langkahnya dan menggaruk kepala yang tak gatal.
"Perasaan tadi kita capek banget ya Ran. Pas udah mau nyampe puncak jadi seger lagi nih badan."
"Ya udah buruan jalan La. Aku udah sampai di puncak nih!" Seru ku seraya melambaikan tangan.
Di atas puncak Curug ini banyak sekali ditumbuhi pepohonan. Hampir beraneka buah-buahan tumbuh dengan subur. Aku memetik buah rambutan untuk menyegarkan dahaga. Sementara Lala baru saja tiba dan meregangkan otot-otot nya.
"Udah gak capek sih, tapi kita tetep harus tidur dulu Ran."
"Emang gak boleh ya kalau langsung shalat tahajud?"
"Entahlah biasanya begitu kan. Kalau tidur dulu namanya Sholat Tahajud, kalau gak tidur namanya qiyamul lail." Jelas Lala seraya menyenderkan tubuhnya di bawah pohon.
Lala menggelengkan kepalanya, lalu menjelaskan hal yang tak ku ketahui. Menurutnya Qiyamul lail adalah amalan salat sunah yang dikerjakan malam hari misalnya salat tahajud, salat tarawih, salat witir, salat taubat, dan lain sebagainya. Tak ku sangka pemahaman Lala mengenai agama lebih besar dari yang ku kira.
"Udah paham belum Ran? Kalau belum paham juga belajar lagi sana!"
"Iya deh iya, ntar aku belajar lagi."
Kami istirahat dengan berbincang-bincang menikmati pemandangan di atas puncak. Tak terasa mata ku terpejam, dan aku bertemu dengan sosok kakek bersorban putih. Beliau menyunggingkan senyumnya padaku seraya mengusap rambut ku.
"Kau anak yang baik, maafkan Eyang terlambat untuk membantu mu!" Ucapnya dengan sorot mata yang teduh.
"Maaf Kek, apa kita pernah mengenal sebelum nya. Karena saya hanya mengingat kakek ketika bertemu di depan masjid saja. Tapi rasanya saya sudah tidak asing dengan kakek."
"Orang-orang menyebutku Ki Ageng Gede. Aku adalah orang kepercayaan Pangeran Jin muslim yang tinggal di atas puncak Curug ini. Kau adalah keturunan ku, karena Parti adalah darah daging ku. Sudah lama aku bertapa di Gunung Gede, karena itulah aku mendapatkan julukan Ageng Gede."
Aku tercengang mendengar ucapan beliau. Karena aku tak pernah sekalipun mendengar cerita apapun mengenainya. Jadi apakah benar beliau adalah Eyang buyut ku.
"Tak usah bingung Nduk. Kau memang tak pernah bertemu dengan ku, karena semenjak Nenekmu Parti tumbuh dewasa. Aku sudah melakukan tapa di Gunung Gede. Bahkan kedua orang tua mu juga tak pernah bertemu dengan ku secara langsung. Kemarilah, akan ku tunjukkan sesuatu padamu."
Aku berjalan mendekati nya, beliau meletakkan telapak tangannya tepat di depan kedua mataku. Seketika aku bisa melihat gambaran-gambaran masa lalu. Gambaran yang terlihat di masa lampau, ketika beliau masih berkumpul bersama keluarga nya. Aku melihat beliau berada di dalam rumah ku, dan nampak mendiang Simbah Parti yang masih muda. Ia memanggil Ki Ageng Gede dengan sebutan Ayah. Penglihatan macam apa ini, bagaimana mungkin Eyang buyutku penampilan nya masih seusia Pak Jarwo. Bukankah harusnya beliau lebih tua dari mendiang Simbah Parti. Kakek itu menarik kembali tangannya, dan tersenyum padaku. Ia sepertinya paham dengan kebingungan yang ku alami.
"Bangunlah dari tidurmu Nduk, setelah kau shalat tahajud, kau akan mendapatkan petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Raga ku ini memang masih ada, karena aku belum tiada. Mungkin Allah memberikan anugerah padaku, sehingga wujudku masih tetap sama walaupun sudah ratusan tahun lamanya."
Setelah itu aku tak dapat melihat ataupun mendengar suaranya lagi. Ternyata di dunia nyata, Lala sedang membangunkan ku dari tidur. Aku pun tersentak dan melihat ke berbagai arah, mencari keberadaan Ki Ageng Gede. Astaga, ternyata itu hanyalah mimpi. Tapi ketika aku terbangun, tasbih pemberiannya nya ada di genggaman tangan ku. Padahal seingat ku, aku menyimpan nya di dalam ransel.
"Kenapa Ran? Kau mimpi buruk ya?"
"Gak tahu La, tadi aku bermimpi bertemu dengan seseorang yang mengaku menjadi Eyang buyutku. Tapi memang sejak awal aku merasa tak asing dengannya."
"Siapa yang kau maksud Ran?"
Aku menceritakan apa yang ku lihat di dalam mimpi. Mengenai Kakek-kakek yang bernama Ki Ageng Gede. Dengan detail ku ceritakan semua yang terjadi di dalam mimpi. Nampak Lala terkejut, ia mengatakan jika di alam gaib sana nama Ki Ageng Gede sangat dikenal.
"Wah kau beruntung Ran, jika apa yang kau lihat di dalam mimpi itu benar. Berarti kau akan lebih mudah mendapatkan bakat mu yang hilang. Kalau begitu lebih baik kita bersiap untuk shalat tahajud sekarang!" Seru Lala bersemangat.
Di puncak Curug itu ada aliran air yang keluar dari bambu yang menggantung di atas pohon. Nampak air jernih keluar dari sana, dan kami menggunakannya untuk wudhu. Kami memutuskan untuk shalat di sebelah pondokan. Entah kenapa fokus ku agak terganggu, dan aku terus saja menoleh ke belakang, seperti ada seseorang yang mengawasi ku. Tapi tak ada siapapun disana, kemudian aku memanjatkan doa pada Yang Maha Kuasa, dan memulai bacaan shalat. Tapi di tengah-tengah shalat, aku merasakan ada gangguan dari makhluk tak kasat mata.