
"Kenapa lu diem aja Ran? tenang aja gue gak akan nyelakain lu, emang segitu takutnya lu sama gue?" Agus meyakinkan ku jika dia tak akan berbuat macam-macam padaku.
"Bukannya gue takut sama lu Gus, gue jaga-jaga aja siapa tahu lu punya niat jahat ke gue. Secara semalam lu udah ngancem gue di telepon. Dan yang bikin gue makin penasaran, darimana lu tahu tentang kotak yang gue bawa?"
"Gue udah bilang kan Ran, gue cuma nyampein pesen aja. Karena kebetulan orang itu dulu tetangga gue pas di kampung. Dia datang kesini berusaha buat ketemu sama lu, tapi dia belum punya kesempatan buat bicara itu ke lu."
"Terus apa yang lu tahu tentang isi kotak itu Gus? apa orang yang nyuruh lu gak ngasih tahu lu apa-apa?" ku tatap wajah Agus dengan serius, tapi tak ada gelagat aneh yang ia tunjukan. Entah Agus mengatakan yang sebenarnya atau tidak.
"Gue gak tahu apa-apa Ran. Emangnya ada apa an di dalam kotak itu? coba dong gue lihat, siapa tahu gue bisa bantu sesuatu buat lu."
Aku merenung untuk sesaat, mempertimbangkan ucapan Agus. Apa benar dia bantu masalah yang ku hadapi saat ini, tapi aku tak bisa percaya begitu saja dengan penjelasan Agus. Bisa jadi ia hanya memutar balikkan fakta, dan ia mempunyai tujuan tertentu untuk mendapatkan kotak yang ku bawa.
"Duh sorry deh Gus, bukannya gue gak mau kasih lihat. Tapi kotak itu disimpan Mas Adit sebagai barang bukti, hanya Polisi saja yang bisa membawanya." kataku tak mengatakan yang sebenarnya.
Agus menyeringai dengan sorot mata sinis, ia mengatakan jika aku menyembunyikan sesuatu darinya. Menurutnya, ia bisa membantu ku menyelesaikan misteri penemuan mayat itu. Bagaimana mungkin Agus bisa membantu menguak misteri itu? secara aku yang sudah menelusuri alamat orang yang dimaksud dalam surat tersebut, tak dapat menemukan keberadaan nya.
"Ya terserah lu aja sih Ran, mau gue bantu atau enggak. Kalau sekarang lu gak mau bareng sama gue juga gak apa-apa kok, gue duluan ya. Sampai ketemu di rumah Om Dewa." ucap Agus seraya mengendarai motornya.
Aku jadi dilema mendengar perkataan Agus, entah aku bisa mempercayainya atau tidak. Aku berhenti di bawah pohon besar untuk berteduh, ku fokuskan pikiranku dan memanggil sosok penjagaku.
Whuuus.
Malik melesat dengan cepat ke hadapanku, ia menatapku dengan wajah sendu. Lagi-lagi tatapan matanya membuatku ikut hanyut dalam perasaan yang sulit ku jabarkan. Ku tengok kanan kiri, tak ada orang lain selain diriku. Jadi aku bisa ngobrol bebas dengan Malik.
"Apa kau tahu sosok perempuan bergaun merah yang beberapa hari ini menemuiku? sebenarnya siapa dia? kenapa ia meminta tolong padaku dengan mengiba?"
Malik menjelaskan dengan detail sosok perempuan yang ku maksud. Menurutnya, Agus mengenal perempuan itu, dan ia datang atas petunjuk dari Agus.
"Kau harus berhati-hati dengan teman lelakimu itu. Ada sesuatu yang ganjil dan tak dapat ku terawang darinya, sepertinya dia mengincarmu, dan sosok perempuan itu sengaja meminta pertolongan sekaligus menjebakmu dalam perangkap. Percayalah padaku, jangan kau turuti perkataan siapapun, meskipun itu orang terdekatmu." jelas Malik yang kini berdiri mengambang di depanku.
Aku tak mengerti dengan semua kejadian yang akhir-akhir ini ku alami. Kenapa tiba-tiba Agus harus menjadi salah satu orang yang ku waspadai.
"Jangan-jangan mereka ingin mengorbankanku sebagai pengganti keturunan Bu Wayan Sukmawati. Tapi itu hal yang mustahil, bukankah dalam surat itu dijelaskan, jika hanya keturunan nya saja yang dapat menggantikannya." batinku di dalam hati dengan mengerutkan kening.
Malik melesat mendekat, ia menyentuh wajahku, dan meyakinkanku jika ia akan selalu berada di dekatku, dan melindungi ku. Aku menghempaskan tangannya yang tak tersentuh olehku, aku berkata dengan lantang jika kemarin ia tak menolongku ketika sosok Leak itu memberi penglihatan padaku.
Aku membandingkan penjelasan Malik dan juga Agus, keduanya memiliki pandangan yang berbeda. Disisi lain Malik memintaku segera menyerahkan kotak itu pada anak Bu Wayan. Sementara Agus mengatakan jika aku harus mengembalikan kotak itu ke tempat yang semula, supaya aku terhindar dari masalah. Lalu siapa yang benar di antara keduanya. Aku menggaruk kepala yang tak gatal, aku benar-benar dilema dengan apa yang harus ku lakukan.
Tak berapa lama terdengar bisikan dengan suara yang familiar, ia memintaku mengikuti kata hatiku.
"Itu suara Mbah Karto, beliau benar lebih baik aku ikutin kata hatiku saja. Pokoknya nanti malam aku harus shalat tahajud, untuk meminta petunjuk dari Yang Maha Kuasa." batinku dengan tekad bulat.
Triiing. Ada pesan masuk dari Mbak Ayu, ia sudah menungguku di rumah utama.
"Buruan pulang, ada kejutan buat lu." kata Mbak Ayu melalui pesan wassap.
Entah kejutan apa yang dimaksud Mbak Ayu, segera ku pesan ojek online melalui aplikasi. Beruntungnya aku mendapat Driver yang tak terlalu jauh lokasinya. Mas ojol tiba lebih cepat dari perkiraan, aku bergegas naik dan ia memacu kecepatan motornya.
"Kak maaf kalau lancang, tadi saya lihat Kakak ngomong sendiri sama pohon. Emangnya Kakak anak indigo ya?" tanya Mas ojol, yang ternyata melihatku bicara dengan Malik.
"Bukan Mas! Saya anak Mama Papa, bukan anak indigo!"
"Seriusan Kak, saya penasaran, kalau emang Kakak anak indigo, saya bisa minta tolong gak Kak?"
Belum sempat ku jawab pertanyaan Mas ojol, aku dikejutkan dengan sosok pocong yang melayang di atasku. Mungkin pocong itu sedang berkeliaran karena langit sudah mulai gelap. Nampak wajah pocong itu rusak dengan bau anyir darah yang memuakkan.
Hooweeeks. Aku ingin memuntahkan isi perut, ketika aroma busuk menusuk hidung.
"Mas berhenti bentar dong di depan, saya pengen muntah nih!" seruku dengan menepuk-nepuk pundak Mas ojol.
Setelah Mas ojol menghentikan motornya di pinggir jalan, aku segera turun dan mengeluarkan isi perutku yang kosong. Alhasil hanya air saja yang ku muntahkan. Tapi ada sesuatu yang membuatku ganjil, sosok pocong itu kini berdiri mengambang di samping Mas ojol. Demit itu mengeluarkan aura negatif pada Mas ojol itu, membuatku merasa jijik jika harus menggunakan jasa ojolnya.
"Eh sepertinya pocong itu sengaja memberilan aura negatif pada Mas ojol itu, apakah ia sengaja di utus untuk membuat rejeki Mas ojol ini seret ya." batinku dengan menjentikan jari.
Mas ojol itu mengatakan padaku, jika beberapa penumpangnya juga muntah sama seperti ku. Dan ia merasa ada yang aneh dengan dirinya, karena setelah kejadian itu, orderannya jadi sepi, ia hawatir jika ia tak mendapat pemasukan dari hasil ojek online nya.
...Sekilas iklan dulu ya, biar Agus bernafas lega dulu, sebelum acara makan malam hehehe. See you kawan"....
...Bersambung. ...