
Entah apa yang terjadi setelahnya, tiba-tiba aku tersadar di dalam kamar. Terlihat Tante Ajeng sedang mengompres kepalaku, sepertinya tadi aku sempat tak sadarkan diri.
"Tante sebenarnya ada apa?" tanyaku seraya bangkit dari tidur.
"Rania, sebenarnya ada yang belum Tante ceritakan pada kalian. Tante takut masuk penjara."
"Hah apa yang sebenarnya Tante Ajeng sembunyikan? apa jangan-jangan orang dibalik penutup kepala itu adalah Tante Ajeng?" batinku di dalam hati.
Dengan berlinang air mata Tante Ajeng menceritakan tragedi di balik kematian perempuan yang bernama Agni. Menurutnya Om Dewa sengaja menabrak Agni hingga tewas.
"Om Dewa tahu, kalau Agni masih menyimpan kepala kakaknya. Karena Agni merasa di hianati, tak segera di jadikan penerus ilmu Leak itu. Dan Agus, dia memang bersama mereka di gedung tua itu. Saat itu Om Dewa mengajakku kembali ke Jakarta, padahal setahu Tante, Om Dewa sudah ke Jakarta selama beberapa hari sebelumnya. Hari itu adalah hari tepat dimana kematian mendiang ibu Dahayu. Tante sempat bertanya untuk apa kami kembali ke Jakarta, apa urusan Om Dewa belum selesai. Dan dari penjelasan Om Dewa, ia mengatakan ada urusan dengan orang. Sebelum kami sampai di rumah, Om Dewa pergi ke daerah pinggiran kota. Dia sibuk mengirim pesan ke seseorang, setelah itu ia menunggu lama di dekat perlintasan kereta api. Saat itu Tante tertidur karena kelelahan, dan Tante terbangun karena guncangan dari mobil. Sepertinya kami habis menabrak sesuatu, Tante minta Om Dewa berhenti buat ngelihat apa yang kami tabrak tadi. Tapi ekspresi wajah Om Dewa menakutkan, ia tertawa lepas dan berkata jika dia telah mengirim perempuan itu ke neraka." cerita Tante Ajeng dengan berlinang air mata.
"Jadi Om Dewa sengaja menabrak Agni untuk membunuhnya? lalu kenapa selama ini Tante Ajeng diam aja, gak ngomong apa-apa?"
"Waktu itu Tante gak tahu apa yang dibicarakan Om Dewa. Karena Tante pikir dia sedang berbicara seorang diri. Saat di perjalanan menuju ke rumah ini, Tante kembali menanyakan pada Om Dewa. Tapi dia malah marah, membentak Tante dan memukuli Tante karena banyak tanya. Lihatlah bekas luka di lengan Tante masih berbekas sampai sekarang." kata Tante Ajeng seraya menyingsingkan lengan bajunya.
Nampak luka memar di lengan dan beberapa bagian lainnya. Tapi, kenapa luka ini seperti masih baru ya. Apakah sebelum Om Dewa meninggalkan rumah terjadi lagi keributan di antara keduanya. Aku memberanikan diri bertanya, apakah Tante Ajeng kembali mendapatkan kekerasan dari suaminya.
Tante Ajeng tertunduk dengan menutupi kedua matanya. Ia menangis tersedu-sedu, menurutnya Om Dewa memang sering berperilaku kasar semenjak ia berambisi menjadi penerus ilmu Leak.
"Padahal dulu Om Dewa gak pernah kasar seperti itu Rania. Makanya Tante sampai lupa, kapan terakhir kali ia memukuli Tante huhuhu."
"Yang sabar ya Tante, Rania gak bisa bantu apa-apa. Karena ini termasuk masalah keluarga. Lebih baik Tante ceritakan semua ke Mbak Ayu, biar Mbak Ayu tahu bagaimana sikap Om Dewa sekarang."
"Jangan! tolong Rania, jangan katakan apa-apa pada Dahayu. Tante gak mau dia marah dan mencelakai Om nya sendiri. Biarkan saja Dahayu tetap menganggap Om Dewa adalah orang yang baik. Karena sejujurnya Tante juga gak yakin, kalau Om Dewa adalah dalang dibalik kematian kakaknya sendiri."
"Terlambat! Dahayu sekarang sudah tahu semuanya. Kenapa Tante gak pernah cerita apa-apa ke Dahayu? apa seburuk itu perangai Om Dewa?" kata Mbak Ayu seraya melangkahkan kakinya ke kamarku.
"Paati Agus juga sudah di ancam Om Dewa. Karena itulah ia bekerja sama dengan Agni. Bukankah Agni beberapa kali menemuimu Rania?"
"I iya Tante. Tapi saat itu Agus sudah menjelaskan jika perempuan itu adalah tetangganya."
"Tunggu sebentar. Tadi Tante Ajeng bilang Agus bekerja sama dengan Agni karena takut dengan ancaman Om Dewa? itu artinya Tante Ajeng mengakui kalau Om Dewa adalah dalang yang menghasut ibu untuk mengakhiri hidupnya?" tatapan Mbak Ayu menyelidik, lalu duduk di hadapan Tante Ajeng.
Tante Ajeng gelagapan tak dapat menjawab pertanyaan Mbak Ayu. Sepertinya ada yang tidak ingin Tante Ajeng ucapkan, tapi ia terpojok di hadapan Mbak Ayu.
"Tante gak bermaksud berkata seperti itu Dahayu. Karena Tante hanya menduga saja, kalau kau ingin tahu lebih jelasnya seperti apa. Lebih baik kau tanyakan saja pada Agus, siapa orang yang bersamanya waktu itu."
Aku tak dapat mengetahui apapun, karena aku tak memiliki penglihatan seperti dulu. Sejak kecelakaan saat itu, aku kehilangan kemampuan untuk menerawang melalui batin. Hanya menyisakan penglihatan gaib saja yang masih tersisa. Bahkan makhluk gaib seperti Malik saja, tak dapat menerawang ke alam Mangrahi. Karena apapun yang berhubungan dengan alam itu, seakan susah ditembus oleh makhluk gaib sekalipun.
"Maaf menyela sebentar. Rania ingin tahu bagaimana keadaan Janni sekarang?"
"Tenang aja Ran, gue udah beresin semuanya. Baru aja gue lihatin arwah Agni langung keluar dari tubuh Janni. Tapi sekarang Umi jadi takut sekamar sama Janni, makanya gue minta dia tidur di kamar gue. Ntar lu tidur di kamar mereka ya, temenin si Janni. Takutnya arwah Agni balik lagi." ucap Mbak Ayu dengan memijat pangkal hidungnya.
"Kalau gitu kita istirahat aja ya, udah hampir subuh nih. Tapi kita belum ada yang tidur sama sekali. Tante Ajeng tenang aja ya, kita tunggu penjelasan dari Agus ataupun Om Dewa. Dan Rania harap, Mbak Ayu juga sabar gak gegabah. Kita telusuri semuanya perlahan, karena dari tadi Rania udah coba hubungi Agus, tapi panggilan telepon nya memanggil terus. Mungkin ponselnya mati, coba besok Rania ke kantor buat bicara sama Agus."
Tante Ajeng kembali ke rumah utama dengan berjalan tertatih, sepertinya ia sangat terguncang dengan masalah pelik ini. Ku katakan pada Mbak Ayu, untuk menelusuri semuanya terlebih dulu sebelum mengambil keputusan apapun.
"Gue gak ada maksud ngeraguin penjelasan Tante Ajeng. Tapi kita harus dengerin penjelasan dari Agus dulu, sebelum kita menganggap Om Dewa adalah orang yang dibalik tutup kepala itu. Karena semua orang mempunyai motif sendiri-sendiri. Tapi bukan berarti gue ngebela Om Dewa, karena saat ini Om Dewa juga gak ada disini. Jadi kita gak bisa minta penjelasan nya. Kalau pun Mbak Ayu udah tahu kebenaran nya, gue harap kedepannya Mbak Ayu lebih terbuka menyikapi semuanya. Dan gak terbawa emosi dalam mengambil keputusan. Kita serahkan saja kasus ini pada pihak yang berwajib." ucapku meyakinkan Mbak Ayu.
Tak ada jawaban dari Mbak Ayu, ia hanya diam dengan membulatkan kedua matanya. Aku harap Calon Arang tak mempengaruhi jalan pikiran Mbak Ayu. Karena kami tak menganut keyakinan yang sama, aku tak dapat meminta Mbak Ayu untuk melakukan ibadah bersamaku.
...Bersambung. ...