Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 215 RENCANA PENCARIAN.


Sesampainya di Jakarta, aku langsung kembali ke kost an untuk membersihkan diri dan istirahat. Sengaja aku tak mengembalikan mobil kantor, supaya aku lebih mudah menggunakan transportasi pribadi, tentunya dengan ijin ke pihak kantor terlebih dulu. Aku turun dari mobil lalu membuka pagar, ku kemudikan mobil di halaman rumah kuno. Dari dalam rumah itu samar-samar aku melihat seseorang yang tak asing di mata ku. Ia sedang duduk bersama Ce Edoh di ruang tamu, dan tak lama keduanya keluar menghampiri ku. Ia mengembangkan senyumnya seraya memeluk ku, ah rasanya sudah la sekali aku tak bertemu dengan Mbak Ayu.


"Lu kemana aja sih, beberapa hari gak ada kabar. Ngilang gitu aja, sampai orang tua lu susah nelponin lu tau gak!" Seru Mbak Ayu mengaitkan kedua alis mata.


"Iya iya sorry Mbak. Gue kemarin ada sedikit masalah, ada temen gue yang ilang di Bogor. Nah kebetulan gue diminta gantikan dia buat liputan, pas udah beres kerjaan akhirnya gue sama rekan gue nyari temen gue itu Mbak. Dan lu gak akan nyangka kejadian berikutnya." Kataku seraya menghembuskan nafas panjang.


Tanpa menjawab perkataan ku, Mbak Ayu justru melirik ke arah Petter. Mbak Ayu mengangkat dagunya, memberi kode dengan gestur tubuh. Pasti ia penasaran dengan sosok Petter yang baru saja datang bersamaku.


"Hmm Ce Edoh saya boleh minta tolong gak? Saya pengen makan indomie sama teh hangat nih, tolong buatkan ya Ce?" Kataku menyunggingkan senyum pada Ce Edoh.


"Wah iya Mbak, nanti saya bikinkan. Mbak Ayu teh mau sekalian?" Tanya Ce Edoh dengan logat khas sunda.


"Iya Ce sekalian gak apa-apa. Makasih ya." Jawab nya seraya mengikuti langkahku masuk ke dalam kamar.


Hal yang sama ditanyakan oleh Petter. Ia penasaran dengan orang yang baru ia lihat, tapi ternyata bisa melihat wujudnya.


"Dia siapa Rania? Kenapa dia bisa melihatku?" Kata Petter melesat menembus pintu kamar ku.


Aku menghembuskan nafas panjang, lalu duduk di bangku ruang depan. Aku memperkenalkan keduanya, ku jelaskan jika mereka berdia adalah sahabat baikku.


"Lu inget gak Mbak, gue pernah cerita punya sahabat hantu buat pertama kalinya?"


"Terus apa hubungannya sama hantu Belanda ini?"


"Ya ini sahabat hantu pertama yang gue miliki. Dia selalu nemenin dan bantu gue waktu itu, dan baru beberapa hari lalu dia datang mengunjungi gue."


"Loh kenapa kau tak kembali ke alam keabadian? Bukankah kau sudah berkumpul dengan kedua orang tuamu?" Mbak Ayu menatap wajah Petter dengan serius.


"Oh rupanya kau sahabat Rania juga ya? Tapi ingat ya, aku adalah sahabat pertamanya. Dan kau tak boleh menggantikan posisi ku, ingat itu ya!" Cetus Petter dengan berkacal pinggang.


Nampak Mbak Ayu terkekeh melihat tingkah Petter. Ia malah sengaja menggoda Petter, dan mengatakan jika sekarang dia lah sahabat terdekat ku. Dan aku lebih dekat dengannya sekarang. Petter yang tak terima langsung melesat ke arah ku, dan menarik tanganku.


"Kau tak boleh lebih menyayangi dia Rania! Aku adalah sahabat terbaikmu! Titik!" Seru Petter mengerucutkan bibirnya.


"Iya iya kau yang terbaik Petter." Jelasku seraya menyunggingkan senyum.


Tak berselang lama Ce Edoh datang membawakan pesanan kami tadi. Nampak indomie rebus dengan telur langsung menggugah selera. Tiba-tiba Petter mengatakan jika ia mau dibuatkan susu cokelat. Ah mau tak mau aku terpaksa meminta tolong pada Ce Edoh lagi untuk membuatkan susu cokelat itu. Kini Mbak Ayu keheranan, kenapa hantu banyak maunya juga. Mbak Ayu tak tau saja, jika Petter juga meminta dibelikan baju baru sebelum ia kembali ke alamnya.


"Apa kau tak bisa menemani Rania terus? Karena mu Rania jadi banyak senyum, pasti ki sangat berarti buat dia." Pungkas Mbak Ayu seraya menyantap makanannya.


Petter tertunduk, raut wajahnya berubah sedih. Ia mengatakan hanya akan menemani ku, sampai urusanku dengan merah selesai.


"Jadi kuntilanak merah itu masih aja ngikutin lu Ran? Bukannya saat ini urusan sama Wati masih menggantung? Apa lu akan berurusan dengan merah selama satu tahun ke depan? Karena waktu yang diberikan buto ireng pada keluarga Sumitro kan hanya satu tahun?" Mbak Ayu mengaitkan kedua alis mata dengan cemas.


"Eh enggak kok Mbak! Masalah Wati untuk sementara bisa di handel. Lu gak tau aja, sekarang Bu Kartika dalam proses mengandung. Ia menginginkan keturunan dari suaminya. Kayaknya dia ragu kalau Pramono dan Wati akan memberikan keturunan. Makanya dia juga usaha sendiri buat ngasih keturunan di keluarga nya. Tapi dia juga berniat nyelakain istri muda suaminya, seorang perempuan yang dulu gue tolong. Sekarang jiwa nya gak tau kemana, feeling gue sih kayaknya jiwa perempuan itu disembunyikan di suatu tempat oleh Bu Kartika. Karena malam sebelum semuanya terjadi, gue sempat berhadapan langsung dengan merah. Dia berusaha celakain gue Mbak. Dia bawa gue sama Mbak Rika ke dimensi gaib, disana dia berusaha celakain gue!"


"Parah! Gak bisa di diemin tuh demit! Gue bakal bantu lu buat cari jiwa perempuan yang disembunyikan anak Sumitro itu!" Seru Mbak Ayu dengan membulatkan kedua matanya.


"Makasih ya Mbak lu udah mau bantuin gue. Jujur aja gue capek banget akhir-akhir ini. Dari gue pulang kampung, gak ada berhenti nya masalah terus datang. Belum lagi temen kerja gue yang mendadak jadi aneh setelah ia jadi arwah gentayangan. Kayak mau pecah kepala gue!"


"Kau tenang saja Rania. Ada aku yang akan selalu membantumu." Sahut Petter.


"Masak iya? Bukankah kau akan kembali ke alam mu setelah ini." Celetuk Mbak Ayu menggodanya.


Petter menundukkan kepalanya, matanya berkaca-kaca mendengar ucapan Mbak Ayu.


"Sudahlah Petter, kau tak perlu bersedih. Kalau kau kembali ke alam mu, kau masih bisa datang mengunjungi ku kembali kan. Itu minumlah susu cokelat mu, sebelum susu nya tak hangat lagi."


"Hei aku hanya menggodamu saja. Datanglah kembali kapanpun kau mau, selagi kau pergi aku yang akan menjaga Rania untukmu. Bagaimana apa kau setuju?" Kata Mbak Ayu membujuknya.


Kini aku kembali membahas rencana untuk melakukan pencarian di alam gaib. Seperti yang ku duga, jika jiwa Bu Purnama pasti disembunyikan di suatu tempat. Mbak Ayu menawarkan diri untuk membantuku, ia sendiri yang akan pergi ke dimensi gaib dan menemukan jiwa Bu Purnama.


"Lu hanya cukup kasih penglihatan ke gue, supaya gue tau seperti apa jiwa yang akan gue cari."


"Nee. Aku yang akan pergi mencarinya kan Rania?"


Aku menghembuskan nafas panjang, memang sebelumnya aku sudah meminta Petter untuk pergi mencari Bu Purnama. Tapi jika Mbak Ayu sendiri yang menawarkan bantuan, justru aku akan semakin terbantu karena kesaktian yang dimiliki Mbak Ayu mungkin lebih dibutuhkan di dimensi gaib.


"Kita pergi bersama saja Petter, kita akan saling membantu. Biar saja Rania yang bertugas di alam manusia. Dia juga harus berhadapan langsung dengan Kartika, perempuan jahat yang memelihara kuntilanak merah itu." Jelas Mbak Ayu dengan wajah serius.


Sekarang sudah diputuskan, jika setelah ini Mbak Ayu akan pergi bersama Petter ke dimensi gaib. Sedangkan aku harus pergi menemui Bu Kartika, untuk mengecohnya. Supaya ia tak sadar, jika aku sedang melakukan pencarian jiwa Bu Purnama yang kemungkinan ia sembunyikan di alam lain. Semoga jiwa nya dapat segera ditemukan, dan nyawa nya akan terselamatkan amin.