
"Apanya yang mau dikenalin dari wajah mayat ini Mas? wajahnya sudah bengkak begini, bagaimana kami bisa mengenali wajahnya!" kataku agak kesal.
"Makanya scroll ke kanan dong layar ponselnya. Ini kan ada beberapa foto yang komandan kirimkan, salah satunya ada tangkapan gambar di gedung tua itu. Kami hanya perlu mencocokan identitas, mungkin juga ponselnya terdapat petunjuk. Tapi sayangnya batrei ponsel itu habis, dan saat ini petugas sedang mengisi daya batrei ponsel itu. Supaya kami dapat mencari petunjuk lain, apakah benar mayat itu adalah orang yang sama di rekaman cctv."
Aku dan Agus sama-sama melihat foto perempuan bergaun merah di gedung tua. Tangkapan gambar melalui cctv kualitas nya tak terlalu bagus. Tapi Agus dengan yakin mengatakan, jika perempuan ini adalah tetangganya.
"Gue yakin Ran, dia nih orangnya. Masa lu lupa sama wajahnya? dia kan udah beberapa kali nyamperin lu."
"Gue sih inget wajahnya Gus, masalahnya kualitas gambarnya gak bagus. Jadi gue takut salah nebak aja, ini kan masalah serius Gus, gue gak bisa asal nebak gitu aja."
"Gini aja deh Mas, ada KTP korban gak? kalau ada, gue pasti tahu nama dan alamat yang bersangkutan."
Mas Adit tak langsung menjawab, ia mengerutkan keningnya berusaha mengingat apa saja penemuan petugas di sekitar lokasi. Tapi Mas Adit hanya menggelengkan kepalanya.
"Ah apes banget sih. Coba aja ada sedikit petunjuk, pasti kelar deh ni masalah!" seru Agus dengan menghembuskan nafas panjang.
Karena tak ada lagi yang bisa kami lakukan disana, aku dan Agus memutuskan untuk kembali ke kantor. Sementara Mas Adit kembali melakukan investigasi nya. Aku berpesan pada Mas Adit, untuk memberi kabar jika ada petunjuk baru.
"Eh iya Mas, setelah selesai buruan balik ke kantor ya. Mbak Ayu udah nungguin tuh mau nyocokin DNA." kataku di atas motor.
"Beres deh. Kamu tenang aja, di kantor polisi udah ada petugas jaga. Mereka yang akan menemui Mbak Ayu, aku masih harus menyelesaikan pekerjaan disini." sahutnya seraya melambaikan tangan perpisahan.
Tak banyak pembicaraan di sepanjang perjalanan. Sepertinya ada yang sedang Agus pikirkan, karena tak biasanya ia membisu begitu. Aku membuka topik pembicaraan, bertanya tentang siapa sebenarnya jati diri perempuan misterius bergaun merah itu. Karena setelah dari tempat tadi, Agus terlihat berbeda. Dan aku merasa aneh dengan perubahan sikapnya.
"Perempuan itu namanya Agni, dia bukan hanya tetangga gue. Tapi kita masih ada hubungan kerabat jauh. Ya, kayak lu sama Om Dewa gitu Ran. Makanya gue jadi agak diem, gak nyangka aja kalau itu beneran mayatnya."
"Kalau dugaan lu bener, bisa jadi gawat tuh Gus. Secara dia ketangkep kamera cctv sedang keluar dari TKP gedung tua. Dan dia juga bawa bungkusan yang diduga berisi kepala Bu Wayan Sukmawati. Tapi sekarang dia udah tewas karena kasus tabrak lari. Kok jadi makin rumit ya Gus? satu masalah hampir selesai, tapi muncul masalah baru lagi."
"Masalahnya gak sampai disitu aja Ran. Ada yang lebih mengerikan dari itu, kalau sampai dugaan gue bener. Semoga aja gak kejadian deh." sahut Agus bergidik seakan ketakutan.
Aku semakin penasaran setelah mendengar perkataan Agus. Tapi ia tak mau melanjutkan lagi ceritanya. Menurutnya semua dugaan nya belum tentu terjadi, sehingga Agus tak mau membahasnya sekarang.
Sesampainya di kantor, nampak keramaian di Lobby. Rupanya ada seorang karyawan yang kerasukan. Aku meminta Agus menyerahkan hasil wawancara ke Mbak Rika, karena berita akan segera di release. Dari arah belakang, ada seorang satpam berlari mengejarku. Ia adalah satpam yang memiliki kemampuan seperti ku.
"Maaf Mbak mengganggu. Mbaknya namanya Rania bukan?" tanya satpam itu seraya menjelaskan inti dari permasalahan yang terjadi di Lobby.
"Hah orang yang kesurupan itu marah-marah nyariin saya Pak? apa hubungannya sama saya sih? saya aja baru pulang ngeliput berita." jawabku dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
"Dia gak mau mengatakan apa-apa Mbak. Udah hampir sejaman di keluarin gak bisa-bisa. Mungkin kalau Mbak Rania bicara dengannya, arwah itu mau keluar Mbak." nampak peluh membasahi kening satpam itu.
"Akhirnya kau datang juga. Karena kau tak segera menolongku, hidupku jadi berakhir sia-sia. Kau harus membayarnya dengan nyawamu!" pekiknya seraya berlari ke arahku, dan mencekik leherku.
Leherku terasa panas, dan aku tak bisa menghirup udara dengan bebas. Perempuan ini mencekik leherku dengan kuat, sementara ekspresi wajahnya terlihat puas lalu ia cekikikan dengan sesekali menjulurkan lidahnya keluar. Beberapa orang berusaha melepaskan tangannya dari leherku, tapi kekuatannya terlalu besar, dan tak ada yang bisa menolong ku. Beruntungnya Malik datang disaat yang tepat, dengan kekuatan nya Malik menghempaskan tubuh Cleaning Service itu hingga tubuhnya terjungkal. Aku masih terbatuk-batuk karena hampir kehilangan nyawaku. Malik melesat ke arahku dan memintaku untuk membantunya membaca ayat-ayat suci. Sementara Malik akan berusaha menarik jiwa yang merasuki raga Cleaning Service itu.
Bruugh.
Tubuhnya tumbang dan tergeletak di lantai. Beberapa orang membantu orang tersebut, sementara Pak Satpam terlihat lebih kebingungan dan tak mengedipkan kedua matanya. Ternyata ia terkejut melihat sosok Malik, ia tak menyangka ada sosok tak kasat mata yang menjadi penjaga ku.
"Mbak sebenarnya ada misteri apa sih? kenapa Mbak Rania dikelilingi makhluk seperti mereka?" tanyanya dengan menelan salivanya.
'Duh maaf Pak, bukannya saya gak mau cerita. Tapi saya sedang dikejar waktu, mana leher saya masih sakit banget lagi. Saya permisi dulu ya Pak." jawabku mengalihkan perhatian, karena aku tak ingin menjelaskan apapun mengenai Malik pada sembarang orang.
Malik masih terus mengikuti ku dari belakang, dan aku berkomunikasi dengannya melalui batin. Aku bertanya padanya, siapa sosok yang mencekik ku tadi. Dan menurut Malik itu adalah arwah perempuan yang bernama Agni.
"Ia tak terima mati begitu saja, apalagi kau tak sempat membantunya. Jadi ia ingin kau membayar atas kematian nya."
"Loh dia tiada kan bukan karena aku? kenapa ia minta tanggung jawab ku?"
"Apa kau ingat, dia pernah meminta tolong padamu? sebenarnya dia sedang dalam masalah besar. Terjadi perebutan kekuasaan di kelompoknya, dan apa kau tahu yang lebih mengejutkan itu apa?"
"Langsung bicara aja bisa gak? gak usah main tebak-tebakan."
"Menurut penelusuran ku, perempuan bernama Agni tidak sendirian sewaktu mengakhiri hidup Wayan Sukmawati. Tapi terjadi perdebatan antara Agni dan seseorang yang bersamanya waktu tu. Tapi orang itu lebih cerdas dari Agni, dia tak nampak dalam rekaman kamera cctv yang saat ini dalam penyelidikan polisi."
Plaakk.
Mbak Rika menepuk pundak ku, dan membuyarkan komunikasi ku dengan Malik.
"Astaga Mbak Rika! Lagi-lagi dia datang disaat yang tak tepat. Komunikasi penting ku bersama Malik seketika terhenti kan." batinku di dalam hati, karena Mbak Rika terus-terusan ngomel dan menceramahi ku.
"Buruan selesaiin artikel itu sore ini juga ya Ran. Gue gak bisa tolerir lagi, salah kalian berdua udah beres ngeliput bukan langsung balik malah ngobrol dulu sama orang!" seru Mbak dengan berkacak pinggang.
Aah. Terpaksa aku menghentikan obrolan pentingku dengan Malik, karena Mbak Rika menekanku untuk segera menyelesaikan artikel dan berita yang akan di release sore ini.
...Sabar teman-teman kasus ini sudah menemukan titik terang. Tinggal mengungkap satu persatu orang yang berhubungan dengan kematian Wayan Sukmawati. Sambil nunggu up bisa baca novel baru othor genre romance perselingkuhan ya jika berkenan. Judulnya Gairah Istriku Melukaiku. Terima kasih 😘💕...
...Bersambung. ...