
Pagi ini mobil travel yang akan membawa kami ke Desa sudah tiba. Kami sudah bersiap masuk ke dalamnya, tiba-tiba Mbal Ayu berlari mengejar kami dengan membawa tas ransel di pundaknya.
"Bude, Ayu boleh ikut kan? setelah Ayu berpikir semalaman apa yang Rania katakan. Ayu butuh waktu untuk berpikir di tempat yang tenang."
Kami semua terkejut mendengar keputusan Mbak Ayu, secara tiba-tiba ia mendatangi kami tanpa berbicara terlebih dulu. Tapi Bude hanya menyunggingkan senyumnya, dan mengatakan tak ada masalah bagi kami, jika Mbak Ayu ikut kami ke Desa.
"Tapi Nduk, apa kau sudah berpamitan pada orang-orang di rumah? lalu bagaimana pekerjaan mu?" Bude Walimah membelai rambut panjang Mbak Ayu.
"Nanti saja, Ayu akan mengirimkan pesan pada pihak sekolah. Untuk keluarga di rumah ini, biar Ayu saja yang pikirkan, bagaimana caranya berbicara pada mereka. Jujur saja Ayu jadi gak percaya sama semua keluarga."
"Ya udah yuk Mbak, kita langsung masuk aja. Kasihan penumpang yang lain udah pada nunggu." kata Wati seraya masuk ke dalam mobil.
Aku hanya diam tak berkata apa-apa, entah harus lega atau tidak dengan kehadiran Mbak Ayu bersama kami. Seharusnya aku merasa lega, karena Mbak Ayu akan tetap dalam pantauan ku. Tapi perasaan ini makin tak karuan, seakan ada sesuatu yang mengancam.
Plaak!
Mbak Ayu menepuk pundakku, ia menaikan dagu nya ke atas. Memberi kode dengan gestur tubuhnya, untuk bertanya kenapa aku hanya diam saja di dalam mobil.
"Gak apa-apa kok Mbak, gue lagi banyak yang dipikirin."
"Termasuk mikirin gue ya? sorry ya Ran, karena wasiat dari mendiang ibu, lu jadi repot mikirin gue." ucap Mbak Ayu dengan wajah sendu.
"Gak gitu juga kok Mbak, gue senang bisa bantu lu. Menyampaikan pesan terakhir seseorang adalah tugas yang mulia karena gak semua orang bisa melakukannya. Dan gue bersyukur bisa menjalankan amanah itu. Ya emang gak semua orang punya bakat seperti yang gue punya Mbak, jadi ya syukuri aja apa yang saat ini bisa gue lakukan. Selagi itu bermanfaat untuk orang lain, InsyaAllah gue bakal tetep jalaninnya. Yang penting Mbak Ayu harus yakin sama diri sendiri, kalau Mbak Ayu gak akan terjerumus dalam praktek ilmu sesat itu. Gue akan tetap bantu lu Mbak, selagi gue mampu dan bisa." katakau dengan menyunggingkan senyum.
"Makasih ya Ran, lu udah sangat membantu gue. Padahal lu gak pernah mengenal mendiang ibu, tapi lu mau menjalankan pesan nya buat jaga gue. Sebenarnya gue ikut kalian pergi bukan tanpa alasan, selain gue ngerasa gak nyaman dengan situasi di rumah itu. Gue juga ngerasa di awasin oleh mereka, seakan gue ini tahanan. Gak tahu kenapa, setelah kejadian orang-orang itu, suasana rumah jadi agak berbeda. Untungnya mereka belum bangun ketika aku memutuskan pergi bersama kalian. Mungkin pakaian yang gue bawa gak lengkap, ntar anterin gue beli beberapa pakaian dalam di pasar ya? gak mungkin kan gue minjem daleman ke kalian."
"Dih Mbak Ayu, ngapain lu mikirin daleman segala sih? nyawa lu sedang terancam, lu malah mikir beli daleman di pasar segala." sahut Wati dengan mengaitkan kedua alis mata nya.
"Terus maksud lu gue harus kedodoran gak pake beha gitu?" jawab Mbak Ayu menatap dari sudur mata.
Aku hanya bisa tertawa mendengar percakapan keduanya. Wati memang begitu, terkadang suka mencairkan suasana. Keduanya masih saja berdebat membahas pakaian dalam. Sementara aku kembali diam dan memikirkan sesuatu yang mengganjal di dalam hati. Seakan tahu kegelisahan hatiku, Bude Walimah menggenggam tanganku, lalu menganggukan kepalanya.
"Tenang ya Nduk, InsyaAllah semua akan baik-baik saja."
"Bude, apa gak apa-apa kalau Mbak Ayu ikut kita ke Desa?"
"InsyaAllah tidak akan terjadi apa-apa Nduk, kelompok itu gak ada yang tahu Ayu pergi kemana. Lagipula mereka gak ada yang tahu dimana Desa kita."
"Semoga saja Ayu baik-baik saja Rania. Bukankah ia mengenakan liontin dari mendiang ibunya?"
"Justru yang Rania hawatirkan orang-orang yang ada di Desa kita. Selama ini kelompok itu berusaha mencari Mbak Ayu untuk menjadikannya sang pemangku. Setelah mereka berhasil menemukan Mbak Ayu, dia malah pergi begitu saja. Bukankah itu akan menjadi masalah besar buat mereka. Pasti kelompok itu akan melakukan berbagai cara untuk menemukan Mbak Ayu. Dan entah apa yang akan mereka perbuat, mengingat kondisi Mbah Karto yang sedang sakit. Tak akan mungkin ada yang melindungi warga Desa dari amukan para pengikut Leak itu. Belum lagi kalau yang namanya Calon Arang datang, nyawa semua orang bisa terancam." jelasku dengan suara bergetar.
Tanpa kami tahu rupanya Mbak Ayu diam-diam mendengarkan pembicaraan kami. Ia menangis tersedu-sedu seraya meminta maaf pada kami. Karena ia tak tahu jika kehadirannya bersama kami ke Desa, akan mengundang masalah besar bagi warga Desa. Aku merasa tak enak mengatakan itu semua, karena melihat reaksi Mbak Ayu yang begitu sedih dan merasa bersalah.
"Lebih baik Ayu turun disini saja Bude! Ayu gak mau membuat semua orang celaka. Kalau Ayu tahu ini dari awal, lebih baik Ayu tetap berada di rumah itu saja."
"Jangan Mbak! ku raih tangan Mbak Ayu dengan menggelengkan kepala.
"Lebih baik lu pergi ke Desa, kalau hanya untuk beberapa hari saja. Mungkin semua akan tetap baik-baik saja, gue juga akan ngerasa tenang kalau lu dalam pantauan gue. Maaf udah bikin lu cemas dengan perkataan gue, gue gak ada maksud apa-apa Mbak. Sorry ya?"
"Gak apa-apa kok Rania. Gue paham dengan kecemasan lu. Jadi wajar aja lu ngomong gitu sama Bude. Tapi yang mengganjal di pikiran gue adalah orang yang udah memanipulasi ibu untuk mengakhiri hidupnya. Pasti orang itu sangat mengenali sifat ibu, sampai orang itu nekan ibu buat mengakhiri hidupnya. Sengaja gue ikut kalian untuk merenungi itu. Siapa tahu gue bisa nemuin clue dari renungan gue nantinya. Terima kasih banget ya udah baik banget ke gue." ucap Mbak Ayu dengan memelukku.
Terdengar Wati menyela pembicaraan, ia heran melihat kami saling memeluk di dalam mobil.
"Sebentar lagi kita udah sampai Desa nih. Kalian malah asyik pelukan tanpa aku." kata Wati dengan mengerucutkan bibirnya.
Bude Walimah menyunggingkan senyumnya lalu merangkul Wati dengan mencubit pipinya.
"Kamu itu gak pernah berubah bawelnya Wati."
Terlihat hamparan padi yang menguning di luar sana. Beberapa petani sibuk menggarap sawahnya. Ada yang membajak sawah maupun membakar rumput kering di sudut persawahan. Aku mengirup nafas dalam-dalam, merasakan udara khas pedesaan.
Mobil travel melewati gapura selamat datang. Ya, ucapan selamat datang di Desa Rawa Belatung terpampang besar. Aku kembali mengingat saat pertama kali aku datang ke Desa ini. Banyak pengalaman yang tak akan bisa ku lupakan sampai sekarang. Tapi ada yang berbeda dengan kepulangan ku kali ini, karena tak akan ada sosok Simbah yang akan menyambut kedatangan ku. Tanpa terasa bulir-bulir air mata menetes, ku kirimkan al-fatihah untuk almarhumah Simbah. Semoga beliau tenang di alam keabadian, Amin.
...Semoga yang dihawatirkan Rania gak terjadi, dan Mbak Ayu dapat menemukan jawaban dari rasa penasaran nya. ...
...Bersambung. ...
Hai othor punya rekomendasi novel yang bagus buat kalian loh.