
Terjadi perdebatan di antara Pak Bos dan perempuan paruh baya itu. Melihat perbedaan usia mereka, sepertinya mereka lebih tepat menjadi saudara. Karena usia mereka hampir sebaya, mungkin hanya terpaut beberapa tahun saja. Tapi teriakan Tuan besar mengejutkan ku, ia meminta Pak Bos untuk tak berdebat lagi dengan Mama tirinya. Sontak saja aku membulatkan kedua mata, tak percaya dengan apa yang baru saja ku dengar.
"Kartika! Hentikan perbuatan konyolmu itu, kenapa kau bersikap kasar seperti ini!" Pekik Tuan Besar seraya menarik tangan istrinya.
"Untuk apa kau ingin menikahi perempuan tidak waras ini hah? Apa tak cukup hanya aku yang menjadi istrimu?"
Keributan disana membuatku agak canggung, karena tak seharusnya aku menyaksikannya. Tak lama setelah itu, Pak Bos memintaku membawa Purnama pergi. Dan ia pun juga pergi bersama kami, ia membawa kami ke sebuah ruangan di samping taman rumah mewahnya. Melihat ekspresi Purnama yang masih ketakutan, Pak Bos agak ragu berbicara padanya. Dan aku berusaha membuat Purnama kembali tenang, ku lihat tas kecil yang menggantung di pundaknya. Aku berinisiatif mengambilnya, dan melihat isi di dalamnya. Syukurlah, ada obat pemberian Dokter, pasti ini semacam obat penenang untuk Purnama. Lalu aku meminta nya untuk meminum obat itu, benar saja tak lama setelahnya, Purnama sedikit tenang dan mulai bersikap normal seperti sebelumnya.
"Maaf untuk yang terjadi tadi, tak seharusnya kau mendapat perlakuan seperti itu. Dia adalah istri kedua Papa, karena Mama saya sudah lama tiada. Dan tak ada yang mengurus Papa, akhirnya Papa menikahi mantan Suster nya sendiri. Dengan harapan, ada yang mengurusnya ketika ia jatuh sakit dan penyakit nya kambuh. Tapi kenyataan nya lain, setelah menjadi istrinya. Kartika berubah drastis, ia sering meninggalkan Papa di rumah sendirian. Ketika penyakitnya kambuh, dan Papa menghubungi nya. Kartika selalu beralasan ada urusan bisnis atau semacamnya. Akhirnya aku mempekerjakan Suster baru untuk merawat Papa, karena akhir-akhir ini kesehatan Papa memburuk. Dia terlalu merasa bersalah dengan perbuatannya di masa lalu, akhirnya aku memutuskan untuk mencari tahu apa yang Papa risaukan. Dan meminta Rania untuk menelusuri latar belakang mu. Papa mencemaskan mu dan juga anak yang kau kandung, ia berniat menebus semua dosanya. Tapi Kartika tak menyetujuinya, ia tak mau ada perempuan lain dalam hidup Papa. Tapi Papa bersikeras ingin menikahimu, jadi saya harap, kau mempertimbangkan permintaan itu." Kata Pak Bos dengan memijat pangkal hidungnya.
Nampak raut wajah Purnama kebingungan, ia terdiam dengan menundukan kepalanya. Aku langsung menggenggam tangan nya, berusaha memberikan pengertian pada Purnama. Jika ia harus memberikan kesempatan pada Tuan Besar, untuk menebus semua kesalahannya.
"Kau tahu apa yang diinginkan anakmu? Dia mau Mamanya hidup bahagia setelah kepergian nya. Dan Kakakmu Bulan akan tenang di alamnya, kalau kau ada yang menjaga. Memang sebagai Paman Pak Markum bersedia menjagamu. Tapi mengingat usianya yang tak lagi muda, belum lagi dengan keadaan finansialnya. Beliau tak mungkin mampu menjaga dan mengurusmu setiap waktu. Meski Tuan Besar sering sakit-sakitan, setidaknya beliau mampu menjaga dan mencukupi semua kebutuhan mu. Kau juga harus memulai awal baru dalam kehidupan mu. Jangan terus terbelenggu dengan luka di masa lalu, kau berhak bahagia Purnama. Wujudkan keinginan terakhir Kakak dan Anakmu." Ucapku membujuk Purnama.
Nampak bulir-bulir bening membasahi pipinya. Purnama berlinang air mata memikirkan ucapanku. Sepertinya ia memahami penjelasan ku, dan berusaha mengambil keputusan nya. Tanoa ku duga, ia mulai mengatakan sesuatu menanyakan keberadaan istri pertama Tuan Besar.
Pak Bos besar menyunggingkan senyum, ia menjelaskan jika Mamanya sudah tiada, sebelum Kartika menjadi istri kedua Papanya.
"Sebelumnya kesehatan Mama baik-baik saja. Tapi setelah Papa memutuskan untuk menikahi Suster nya sendiri. Kondisi Mama jadi memburuk, ia sering terlihat murung dan kurang bersemangat. Akhirnya beliau jatuh sakit, dan meninggal sebelum Papa memperistri Kartika. Karena Mama sudah tiada, keinginan Papa untuk menikahi Kartika semakin besar. Ia ingin ada seseorang yang bisa menjaga dan mengurusnya, tapi kenyataan berkata lain. Aku tetap harus mempekerjakan Suster untuk menjaga dan merawat Papa. Semoga setelah keinginan nya terwujud, dengan mempertanggung jawabkan perbuatan nya di masa lalu. Kesehatan Papa bisa semakin membaik. Jadi tolong pertimbangkan permintaan Papa, menikahlah dengannya. Kau juga berhak bahagia, melanjutkan kehidupan mu bersama seseorang yang mungkin bisa menjadi tempat mu bersandar di masa tuamu kelak."
Purnama meneteskan air mata, ia tak menyangka mendapatkan perhatian yang begitu besar dari seseorang yang baru saja ia kenal. Mungkin trauma masa lalunya masih ada, tapi aku dapat melihat keinginan nya untuk pulih dan memulai awal baru dalam hidupnya.
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah kami. Nampak perempuan yang bernama Kartika itu datang, lalu berkacak pinggang di hadapan kami. Ia menyeringai dengan sorot mata tajam, ia bergumam seakan berbicara dengan seseorang yang tak kami lihat. Aku memicingkan kedua mata, melihat ke berbagai arah. Ada sekelebatan bayangan yang melesat pergi meninggalkan ruangan ini.
"Mungkin kau bisa menjadi istrinya, tapi tak akan ku biarkan kau hidup tenang setelah ini. Aku akan terus mengawasimu, camkan ucapan ku baik-baik!" Serunya menatap tajam pada Purnama.
Tak lama setelah itu, ia berjalan ke arah bayangan itu melesat pergi. Jangan-jangan perempuan itu bersekutu dengan sosok tak kasat mata tadi. Semoga ini hanya dugaanku saja, karena aku tak mungkin hanya tinggal diam, jika mengetahui hidup Purnama dalam bahaya.