Penelusuran Gaib Rania

Penelusuran Gaib Rania
PART 36 MISTERI PENEMUAN MAYAT


Pandangan mataku tertuju pada Agus, ia baru saja berjalan ke arah Lobby. Dengan cepat aku berjalan setengah berlari menghampirinya, dan aku langsung bertanya tentang perempuan yang menurut Agus adalah tetangganya dulu di kampung.


"Lu masih penasaran aja Ran, emang lu lihat perempuan itu lagi?" tanya Agus sambil berjalan masuk lift.


Aku dan Mbak Rika berjalan bersama mengikuti Agus, di dalam lift hanya ada kami bertiga. Tiba-tiba ada aroma busuk yang menusuk hidung, kami bertiga sama-sama mencari asal muasal bau itu. Mata kami tertuju ke suatu bungkusan yang tertinggal di sudut tembok lift. Karena penasaran Mbak Rika memberanikan diri dan membuka bungkusan itu.


"Aaaaa kepala mayaaaat!" pekik Mbak Rika berjalan mundur sebelum akhirnya jatuh pingsan.


Sontak saja aku dan Agus sama-sama terkejut, lalu kami mengecek bersama apa yang ada di dal bungkusan itu. Nampak bau anyir darah dengan aroma yang sangat busuk, begitu Agus membuka bungkusan itu, nampak seonggok tubuh tikus yang terbujur kaku dengan kepala yang nyaris terputus.


"Astaga. Ternyata hanya bangkai tikus saja tapi reaksi Mbak Rika terlalu berlebihan, ia sampai jatuh pingsan segala." aku menggelengkan kepala seraya menolong Mbak Rika berusaha membangunkannya.


"Lagian siapa sih yang iseng ninggalin bangkai tikus di dalam lift, gak ada kerjaan banget tuh orang."


"Entahlah Gus, kita bawa Mbak Rika ke ruang kesehatan aja dulu. Terus minta cleaning service buang tuh bangkai tikus, sumpah bauk banget tau Gus!" seruku dengan menutupi hidung.


Setelah kami membawa Mbak Rika ke ruang kesehatan, tak lama ia sadar dan menjerit histeris seraya mencari ponselnya. Kami terkejut dengan reaksi Mbak Rika yang diluar nalar, hanya karena bangkai tikus ia bereaksi sedemikian rupa.


"Gu gue harus telepon Polisi, supaya pemilik kepala mayat itu dapat segera ditemukan." ucap Mbak Rika dengan menyentuh tombol angka di ponselnya.


Dengan cepat aku merebut ponsel di tangan Mbak Rika, gak mungkin kan hanya karena bangkai tikus sampai menghubungi Polisi segala. Nampak raut wajah Mbak Rika seperti orang bingung, ia membentakku dan berusaha merebut kembali ponselnya. Lalu Agus menenangkan Mbak Rika, dan berusaha memberi pengertian padanya, jika yang ia lihat hanya bangkai tikus saja. Tapi reaksi Mbak Rika nampak tak percaya, dengan tegas ia mengatakan jika yang dilihatnya adalah kepala manusia.


"Gue gak mungkin salah lihat tahu gak! mata gue masih normal, dan gue bisa bedain mana manusia dan tikus. Kalian gak usah bohongin gue deh, cepat hubungi Polisi pasti ada pembunuhan di sekitar sini." teriak Mbak Rika dengan membulatkan kedua matanya.


"Astaga Mbak, itu beneran bangkai tikus, kalau lu gak percaya, gue panggilin cleaning service yang udah buang bangkai tikus tadi." jelasku pada Mbak Rika, sementara Agus memanggil petugas kebersihan dan menjelaskan jika memang benar adanya. Hanya bangkai tikus saja yang ada di dalam lift, dan ia meminta maaf karena rekannya lupa membawa bangkai itu keluar dari lift.


"Tuh kan Mbak kami gak bohong, mungkin Mbak Rika lagi kurang sehat, jadi halusinasi deh." kata Agus dengan menghembuskan nafas panjang.


"Ta tapi gue beneran lihat kepala perempuan, rambutnya panjang nutupin mukanya. Bahkan dibalik rambutnya gue bisa lihat matanya yang melotot. Iih jadi ngeri gue kalau inget kejadian tadi." sahut Mbak Rika bergidik ketakutan.


Aku mengerutkan kening setelah mendengar penjelasan Mbak Rika. Karena yang ia lihat sama sepertiku sewaktu melihat kepala yang menggelinding. Dan aku yakin itu adalah kepala Bu Wayan Sukmawati. Terdengar suara Agus yang memanggil namaku, ia bertanya kenapa aku malah melamun.


"Gue ketemu dia cuma sekali Ran, dan gue gak tanya dia tinggal dimana selama di Jakarta."


"Kalian ngomongin siapa sih? bisa jelasin ke gue juga gak? gue masih penasaran dengan apa yang gue lihat tadi. Karena gue yakin gak salah lihat, tapi kenapa yang kalian lihat lain sama gue."


Aku dan Agus saling menatap, apa mungkin kami harus menjelaskan semuanya pada Mbak Rika. Tapi tiba-tiba seorang karyawan datang dan memberi perintah meliput ke sebuah wilayah di pinggiran kota. Menurutnya ada kasus tabrak lari yang baru diketahui, karena mayatnya terpental masuk ke dalam gorong-gorong.


"Biasanya berita begini bakal banyak yang nyari tahu. Karena belum jelas identitas korbannya, kita bisa dapetin info mengenai korban tersebut." jelasnya dengan memberikan selembar kertas berisi alamat lengkap TKP.


"Ya udah lu berdua aja yang kesana, sorry gue gak bisa bantu apa-apa. Masih lemes nih badan gue." kata Mbak Rika dengan menyandarkan tubuhnya di tembok.


Astaga lagi-lagi aku harus berhubungan dengan mayat. Bukannya mendapat kejelasan tentang mayat itu, bisa-bisa aku direpotkan dengan arwahnya yang meminta tolong padaku. Aku hanya bisa pasrah mendapatkan tugas itu, sementara Agus sudah bersiap mengambil kamera dan beberapa alat-alat yang harus kami bawa. Sepertinya Agus sangat bersemangat meliput berita ini, ia segera mengajakku pergi ke TKP. Sementara aku hanya bisa mengeluh dengan memegangi perutku yang keroncongan karena belum sempat sarapan pagi tadi.


"Gue laper nih Gus, gara-gara perdebatan Om Dewa dan Tante Ajeng, gue gak nafsu makan tadinya. Tapi setelah drama yang terjadi dengan Mbak Rika, tiba-tiba perut gue melilit nih."


"Ya elah Ran, masih punya rasa lapar juga lu. Kita lagi ngadepin masalah genting, lu gak tahu aja apa yang akan terjadi ke depannya."


"Emang ada apa an sih Gus? kok kayaknya lu tahu sesuatu? apa ada yang lu dan Tante Ajeng sembunyiin ya?" aku menyipitkan kedua mata, memandang Agus dengan curiga.


"Jadi gini ya Ran, perempuan yang bernama Wayan Sukmawati itu bukan orang biasa. Jika ia sampai ditemukan meninggal dengan kepala terpenggal, itu suatu hal yang sangat mustahil. Hanya ada dua kemungkinan, ia berusaha mengakhiri hidupnya dengan menggunakan ilmunya. Atau memang ada seseorang yang ingin mengalahkannya. Karena dengan melenyapkan Wayan Sukmawati, orang tersebut bisa di akui sebagai sang pemangku ritual. Meski secara garis keturunan ia tak ada hubungannya, tapi ia berhak mendapatkan posisi tertinggi dalam sekte itu."


Perkataan Agus membuatku berpikir, jika masuk akal juga penjelasan nya. Lalu aku bertanya kembali, apakah ia mencurigai seseorang, atau mengenal seseorang yang mempunyai ambisi menjadi pemimpin dari ritual yang biasa mereka lakukan.


Kini Agus sedang berpikir dengan memijat oangkal hidungnya, ia mencoba mengingat beberapa pengikut yang biasa melakukan ritual di puncak bukit. Tapi belum sempat Agus menemukan jawabannya, terdengar suara ponselnya yang berbunyi. Rupanya panggilan telepon dari Mbak Rika, ia berdiri di depan jendela dan melihat kami dari atas.


"Buruan jalan, sebelum kalian ketinggalan dari media lainnya!" seru Mbak Rika melalui panggilan telepon nya.


...Bersambung. ...