
"Pak Markum bisa melihat dan mendengar sendiri, apa yang akan Bu Marni katakan mengenai istri Pak Markum!" kataku tegas seraya menunjukan rekaman video tadi.
Terlihat Pak Markum tercengang mendengar semua ucapan Bu Marni, ia tak menyangka jika istrinya tega melakukan semua kejahatan seperti itu.
"Saya memang sudah curiga dari awal, tapi saya tak mempunyai cukup bukti untuk menuduhnya. Pantas saja dia mati-matian meminta kami segera pindah, katanya dia ingin tinggal bersama anak cucu. Padahal saya sudah katakan, kalau tanggung jawab saya mengurus Aya belum selesai. Meski sekarang Aya ada yang mengurus. Tapi istri saya bersikeras, supaya kami tak terus mengurus Aya. Saya seperti orang bodoh yang hanya bisa menuruti ucapan istri saya saja, dia bilang apa, saya langsung ikut saja. Entah kenapa saya tak pernah melarangnya melakukan apapun. Saat ini dia sedang mengurus berkas pemindahan aset milik Aya, menurutnya kami pantas mendapatkan imbalan karena telah menjaga dan mengurus Aya. Jadi ia ingin memindahkan namanya sebagai ahli waris dari Aya. Karena dia di anggap kurang waras, dan tak dapat menyimpan aset-aset berharganya. Saya sudah melarangnya, tapi dia tak mau mendengarkan ucapan saya. Jadi ternyata ia sudah melakukan hal yang lebih buruk, tak ku sangka ia tega menghilangkan nyawa orang lain." kata Pak Markum menundukan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.
Tak lama setelah itu Pak Markum mengajakku pergin ke kantor kecamatan. Ia ingin menghentikan niat jahat istrinya, ternyata masih ada hati nalurinya sebagai seorang paman. Aku mengatakan pada Pak Markum, tentang apa yang telah ku ketahui mengenai istrinya yang suka pergi menemui dukun. Karena istrinya takut dihantui hantu Bulan, dan karena ingin mengendalikan suaminya sendiri.
"Makanya selama ini Pak Markum selalu diam, dan tunduk dengan kata-kata ibu. Jadi Bapak tak sepenuhnya bersalah, dan ada yang ingin saya sampaikan ke Bapak. Bisakah Pak Markum membantu saya mengungkap semua kejahatan yang dilakukan istri Pak Markum?"
"Gimana dek caranya, saya pasti akan membantu. Kalau hanya saya yang dibodohi, saya masih bisa memaafkan. Tapi dia sudah keterlaluan, nyawa kakak dan keponakan saya sampai hilang. Belum lagi si Aya yang dibuat makin ga waras begitu. Saya jadi merasa bersalah, ternyata Aya makin parah juga ada sangkut pautnya dengan istri saya." nampak raut wajah Pak Markum sendu, ia benar-benar tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Aku menjelaskan semuanya pada Pak Markum untuk mengatakan apa yang telah ia ketahui sekarang. Ku kirimkan rekaman video pengakuan Bu Marni ke ponsel Pak Markum, lalu ku berikan arahan padanya untuk menunjukan video itu pada istrinya. Dan meminta istrinya untuk mengakui keterlibatannya dalam kejahatan yang dilakukan Bu Marni.
"Jadi ketika Bapak menunjukan video itu, saya akan merekamnya dari jarak jauh. Supaya istri Bapak gak curiga, buat dia supaya mengakui semua kejahatan nya. Bilang aja, kalau Bapak akan percaya dengan ucapannya, jadi ia harus berkata sejujurnya. Tapi apakah Pak Markum benar-benar siap melihat istri Bapak akan mempertanggung jawabkan perbuatannya?" tanyaku meyakinkannya.
Pak Markum menganggukan kepalanya dengan wajah sendu, lalu kami bergegas pergi ke kantor kecamatan. Aku langsung mengambil posisi di balik pintu utama, sementara Pak Markum langsung masuk ke dalam menghampiri istrinya.
"Loh Bapak ngapain nyusul kesini? yang nungguin orang mindahin barang-barang siapa Pak?" tanya istri Pak Markum seraya menghampiri suaminya.
"Bu kita keluar dulu, ada yang mau Bapak bicarakan!" ucapnya langsung menarik tangan istrinya.
"Nanti saja Pak! Sebentar lagi nomor antrianku dipanggil, kita bicaranya nanti saja!"
"Kalau Bapak bilang sekarang ya sekarang Bu!" seru Pak Markum dengan suara tegas.
"Bu. Bapak gak mau ada basa-basi lagi. Jujur saja, karena Bapak juga pernah mendengar sendiri kalian berdua berdebat mengenai pembagian hasil. Selama ini Bapak diam karena tak mengerti dengan arah pembicaraan kalian. Tapi sekarang, Bapak mempunyai bukti untuk menguatkan kecurigaan Bapak!"
Nampak Istri Pak Markum berkeringat dingin, ia ketakutan melihat amarah suaminya. Dengan suara bergetar ia mengakui kebenaran yang dikatakan Bu Marni. Menurutnya, ia terpaksa melakukan semua itu karena saat itu terdesak hutang.
"Saat itu keluarga mereka berkecukupan, tapi mereka gak mau membantu kita Pak. Aku sakit hati, melihat Bapak lontang lantung cari uang demi menutup semua hutang. Tapi mereka tak mau meminjamkan uang pada kita. Aku jadi terpaksa melenyapkan mereka, untuk mengambil semua milik mereka. Karena Aya memang sudah hilang akal, dia gak akan mencari harta bendanya lagi. Maka ku buat dia semakin parah, dengan memberikan dosis obat tinggi. Ibu terpaksa melakukan semua demi kebaikan keluarga kita Pak!"
Plaak!
Tamparan mendarat tepat di pipi perempuan tua itu. Pak Markum sangat marah mendengar semua ucapan istrinya, ia langsung meneteskan air mata dan menjelaskan apa yang sebenarnya.
"Kakak tiriku itu sengaja mengatakan itu padamu untuk memberikan efek jera padamu. Supaya kau terus menerus meminjam uang ke rentenir, dia tak mau kau terjerat dengan lingkaran setan itu. Tapi tahu gak ibu, Bapak dapat uang darimana untuk melunasi semua hutang keluarga kita? Diam-diam kakak tiriku yang malang itu menjual sebagian tanah miliknya, dan uangnya dia berikan ke Bapak untuk membayar hutangmu pada rentenir. Tapi kakakku itu ingin aku menyembunyikan kebenaran itu dari semua orang. Dia ingin adik tirinya ini terlihat berguna di hadapan istri dan anaknya. Tapi kau dengan tega membunuh mereka!" ucap Pak Markum membulatkan kedua matanya.
Hening tak ada jawaban dari istri Pak Markum, nampaknya ia sangat terkejut mendengar penjelasan suaminya. Ia menggelengkan kepala dengan mata berkaca-kaca. Lalu duduk lemas di tanah, ia kehilangan kekuatan untuk menopang tubuhnya. Istri Pak Markum tak menyangka jika selama ini ia sudah salah paham dengan keluarga Purnama. Aku langsung mematikan kamera yang ku pegang, lalu berjalan menghampiri mereka. Ku bantu istri Pak Markum untuk berdiri, dan memintanya mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Nasi sudah menjadi bubur bu, penyesalan ibu tak akan ada artinya. Lebih baik ibu mengakui semua yang telah ibu lakukan pada pihak yang berwajib. Supaya arwah Bulan dapat beristirahat dengan tenang, akhiri segala dendam ini. Apa ibu gak capek dihantui kesalahan seumur hidup ibu? Saya sudah meminta Bu Marni mengakui segalanya, dan dia siap memberikan keterangan pada polisi." kataku membujuknya supaya ia mau menyerahkan diri pada polisi.
Tak ada jawaban dari perempuan tua itu, ia masih menundukan kepalanya. Tiba-tiba dari balik tubuhku, ada seseorang yang mengambil paksa kamera ku. Sontak saja aku membalikan tubuh dan membulatkan kedua mata. Nampak Bu Marni berlari dengan membawa kamera yang ada di dalam tas kecilku. Ia berteriak seraya berlari, jika ia tak mau mendekam di dalam penjara.
...Bersambung. ...
...Maaf slow update ya, mohon pengertiannya othor belum sembuh betul, jadi agak lambat up nya. Terima kasih udah selalu dukung novel ini sayang kalian semua teman² 🤗💕...