
Sepertinya Dila iba melihat kesedihan yang menggelayuti Denis. Ia berusaha menyentuh tubuh Denis, tapi tangan hampa nya tak mampu melakukan nya. Tapi sepertinya Denis merasakan kehadiran Dila, ia mengusap belakang tengkuknya seraya menoleh ke berbagai arah.
"Kau merasakan nya? Dila memang ada di dekatmu." Kata ku dengan menyunggingkan senyum.
Denis malah menundukkan kepala nya, nampaknya ia berlinang air mata. Ia mengucapkan kata maaf pada sosok Dila, meski ia tak bisa melihat wujudnya. Denis mengatakan, jika seharusnya ia menghentikan Dila untuk berakting di atas tiang gantungan itu. Karena ia sudah memiliki firasat buruk, tapi ia malah membiarkan Dila melakukan adegan di atas tiang gantungan.
"Maafkan aku Dila, seharusnya kau tak perlu tiada jika aku bisa menghentikan mu waktu itu. Apalagi aku tak bisa membuat sutradara itu memberikan pernyataan pada publik mengenai kondisi mu tak bermasalah. Seandainya aku bisa mengulang waktu, lebih baik aku saja yang tiada!" Pungkas Denis seraya mengepalkan tangannya.
Aku meminta Denis untuk menenangkan dirinya, karena hampir semua pengunjung di cafe itu memandang ke arah kami. Sepertinya tangisan Denis mengundang perhatian orang, sehingga mereka melihat ke arah kami dengan penuh tanya.
"Tenanglah Denis, jangan buat orang-orang salah paham dengan kita. Ntar dikiranya kita ada masalah tau gak! Saya tau kau gak ada maksud jelek sama Dila, dan Dila pun gak pernah menyalahkan mu atas kematiannya. Dia datang menemuimu karena mencemaskan kondisi mu. Dila tak ingin kau terpuruk dalam penyesalan, karena semua yang terjadi hanya sebuah kecelakaan. Yang Dila sesalkan memang karena dia meninggal secara gak wajar itu, tapi dia udah bisa menerima kenyataan. Tapi gak dengan gosip yang tersebar di publik, yang mengatakan Dila sengaja bunuh diri. Dia mau sutradara itu klarifikasi dan buat pernyataan di media, supaya publik tau yang sebenarnya kalau ia meninggal memang karena kecelakaan sewaktu proses syuting. Bukan karena Dila sengaja bunuh diri seperti yang diberitakan sekarang ini." Jelas ku seraya menghembuskan nafas panjang.
"Ja jadi Dila gak marah sama saya? Tapi kenapa saya ngerasa dia sering ngehantui saya?"
Sosok Dila mengatakan padaku, jika ia mencemaskan Denis. Karena Denis terlalu merasa bersalah atas kematian nya. Karena itulah Dila sering mendatangi nya, bukan untuk menghantui nya. Aku menjelaskan hal yang sama pada Denis, tapi ia malah tertunduk dengan penuh penyesalan.
"Jadi apa yang harus kita lakukan supaya sutradara itu mau membuat pernyataan ke publik mengenai apa yang sebenarnya terjadi di lokasi syuting?"
"Kalau dia gak mau menjelaskan, biar aku saja yang mengatakan. Akan ku sebarkan rekaman video sewaktu proses syuting, kru sudah bilang kalau alat bermasalah tapi sutradara itu yang memaksakan untuk syuting. Jadi apa yang terjadi pada Dila waktu itu memang murni kecelakaan tak ada sebab lain, seperti yang beredar di publik."
Aku diam memandang ke arah Dila, dia belum memberi keputusan dengan ide yang Denis katakan. Tapi menurutnya bisa berimbas pada karir Denis di dunia perfilman, dan Dila tak mau itu terjadi karena terlalu beresiko bagi pekerjaan Denis. Aku pun memberitahu Denis mengenai kecemasan Dila, tapi dengan tegas Denis mengatakan jika ia tak ada masalah dengan apa yang akan terjadi setelah nya.
"Keadilan untuk Dila harus ditegakkan, kalau bukan sekarang lantas kapan lagi. Semakin lama berita itu tak akan terdengar, dan yang publik ketahui hanyalah kebohongan yang disebarkan sutradara gendeng itu!"
Nampaknya sosok Dila memang benar-benar selalu mengikuti Denis. Sosok itu tak beranjak kemanapun, ia hanya berdiri mengambang di samping Denis. Mungkin cinta mereka sangat tulus, meski sudah berbeda alam.
Aku sengaja pulang naik busway, dan turun di halte depan komplek. Supaya aku bisa menghirup udara malam lebih lama. Aku melewati jalanan dimana biasanya sosok Narsih berada. Tapi malam ini aku tak melihat sosoknya, entah kemana perginya demit penari jaipong itu. Dan sesampainya aku di depan rumah kuno, ternyata ada keramaian di rumah tetangga sebelah. Karena penasaran aku pun bertanya pada orang-orang yang berkerumun di luar rumah itu. Mereka menjelaskan, jika salah satu orang yang tinggal di rumah itu dikirimi santet oleh seseorang yang tak menyukai nya.
"Sudah ada Pak Ustadz di dalam, dan katanya malah ada demit yang berusaha membantu Ustadz ngusir demit kiriman dukun jahat." Kata seorang Bapak-bapak yang masih mengenakan sarung.
Aku menggaruk kepala yang tak gatal, agak aneh saja mendengar penjelasan nya. Mana ada demit yang bantuin Ustad buat melawan dukun ilmu hitam. Bukannya kebalik ya, biasanya demit yang membantu dukun. Ah sudahlah, aku tak mengerti dengan hal-hal berbau santet macam itu. Jadi aku putuskan untuk masuk ke dalam kost. Setelah membersihkan tubuh dan shalat Isya, aku mendengar suara ledakan di halaman samping. Tak berselang lama Ce Edoh menggedor-gedor pintu kamar ku. Ia menunjukkan ada asap di bawah pohon besar. Dan aku terkejut dengan membulatkan kedua mata, ternyata asap yang mengepul itu berasal dari sosok Narsih. Ia sedang tersungkur dengan memegangi dadanya, nampak darah hitam keluar dari mulutnya.
"Ce Edoh bisa kembali ke rumah aja, kayaknya ada anak kecil yang main petasan jatuh disini deh." Kataku tak mengatakan yang sebenarnya.
Setelah Ce Edoh pergi dengan rasa penasaran, aku bergegas mendekati sosok Narsih. Entah kenapa ia jadi terluka seperti itu, dan ia langsung menjelaskan jika tadi ia membantu tetangga sebelah yang akan dikirimi santet oleh seorang dukun yang dibayar untuk mencelakai nya.
"Aku berusaha melawan demit yang dikirimkan dukun itu, meski aku berhasil menghadangnya, tapi ustadz itu berusaha memusnahkan demit kiriman dukun itu, dan akibatnya aku terkena dampaknya. Karena ustadz itu membacakan ayat-ayat suci yang dikhususkan untuk memusnahkan makhluk gaib. Meski aku sempat menghindar, aku tetap terkena imbasnya."
Astaga. Kenapa demit seperti Narsih masih berusaha memikirkan manusia, padahal urusan nya di dunia ini sudah selesai. Tak seharusnya ia mendapatkan luka seperti ini, meski aku tujuan Narsih baik untuk membantu. Tapi tetap saja, dia tahu akibatnya jika akan terluka begini. Rupanya ustadz yang Narsih bicarakan tadi datang ke rumah kuno ini, ia mencemaskan kondisi Narsih yang telah membantu nya mengusir demit jahat kiriman dukun ilmu hitam tadi. Pak ustadz menasehati Narsih, supaya ia kembali ke alamnya. Meski ia gentayangan di alam manusia, dan tak berniat menyakiti manusia, tetap saja tak seharusnya ia berada di alam manusia. Aku pun berniat menceritakan mengenai sosok Risma, apa saja yang telah ia ceritakan padaku.
"Begini Pak Ustadz, Mbak Narsih ini meninggal karena dibunuh. Dan ia mati penasaran, karena tak tau apa yang menyebabkan nya dibunuh oleh orang-orang yang disayanginya. Dia mengalami penghianatan besar, karena itulah jiwa nya tak tenang."
Nampak sosok Narsih menundukkan kepala dengan berlinang air mata. Dan aku berniat menceritakan apa yang Risma jelaskan padaku. Tapi aku tau Narsih tak akan mudah begini saja percaya. Kemudian aku meminta bantuan Pak Ustadz, supaya memanifestasikan apa yang ku bicarakan dengan sosok Risma. Supaya Narsih dapat melihat dan mendengar sendiri apa yang sosok Risma katakan padaku. Entah doa apa yang Ustadz itu bacakan, ia membuka telapak tangannya di hadapanku. Dan gambaran-gambaran yang Risma tunjukkan padaku nampak di telapak tangan Ustadz itu. Kini Narsih dapat melihat wujud Risma yang serupa dengannya. Ia menjadi demit penari jaipong dan gentayangan setelah dibunuh Bardi. Narsih juga melihat dan mendengar sendiri semua pengakuan Risma, mengenai pengakuan nya yang telah sengaja mengakhiri hidup simbah nya. Dan ia juga yang merencanakan pembunuhannya bersama Bardi. Risma mengakui perbuatan nya dan sangat menyesal, karena saat ini ia tak bisa kembali ke alam keabadian. Karena dosanya terlalu banyak, dan jiwa nya tak mendapatkan tempat disana. Nampak Narsih semakin hancur, ia menangis dengan suara yang memekakan telinga. Ia tak bisa menerima, dengan kematian Simbah nya. Narsih berteriak lantang, jika ia akan membalas perbuatan Risma karena telah tega melenyapkan Simbah nya. Tapi Pak Ustadz berusaha menenangkan Narsih, dan menyadarkan nya jika dendam hanya akan membuat nya semakin terpuruk. Entah apa yang Narsih pikirkan, tiba-tiba ia melesat pergi entah kemana. Padahal kondisinya sangat tidak memungkinkan, dan Pak Ustadz pun hanya bisa menggelengkan kepala. Dan ia berpesan padaku, jika nanti aku bertemu dengan sosok Narsih lagi, aku harus berusaha membuatnya sadar dengan kebaikan semasa hidupnya. Supaya ia dapat menerima takdir, dan kembali ke alam keabadian.