
Sosok perempuan mengenakan gaun putih panjang, dengan topi bundar besar di atas kepalanya. Rambutnya pirang dengan mata biru seperti Petter. Ia menyunggingkan senyum seraya melesat mendekati ku. Ivanna tak pernah berubah selalu cantik seperti saat pertama kali kami bertemu. Ia menanyakan kabarku, kami berkomunikasi melalui batin karena di sekitar ku masih banyak orang. Ia menjelaskan kedatangannya untuk menjenguk ku, dan untuk membawa Petter kembali ke alam mereka.
"Kau sudah semakin besar Rania... Kau bertambah cantik seperti Mamamu. Tapi maafkan aku Rania... Aku harus membawa Petter kembali. Apa kau keberatan jika ia pergi meninggalkan mu lagi?" Ucapnya dengan tatapan lembut.
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Ivanna.
"Tidak apa-apa kok Aunty, Petter sudah pernah menjelaskan jika ia harus kembali ke alam kalian. Tapi bisa ditunda dulu gak? Aku masih membutuhkan bantuan nya, untuk menjaga temanku ini. Ada makhluk jahat yang mengincarnya."
"Baiklah Rania, Aunty akan membantu juga menjaga temanmu ini. Petter tak akan sanggup melawan makhluk jahat itu sendirian."
Nampak Petter tersenyum girang seraya memeluk Mama nya. Aku pun akhirnya bisa bernafas lega, bantuan tanpa diduga datang dari Mama nya Petter.
"Ran lu ngapain diem aja, malah senyum-senyum sendiri lagi!" Seru Silvia seraya menggoncangkan tubuhku.
"Hmm gak apa-apa kok Sil, gue tadi lagi komunikasi sama Petter dan Mamanya. Mereka bakal jagain lu mulai sekarang, tapi setelah itu mereka akan kembali ke alamnya." Jelasku dengan menghembuskan nafas panjang.
"Apa karena gue ya Ran, mereka bakal balik ke alamnya?"
"Bukan kok Sil, emang mereka cuma sementara disini. Eh ya udah gitu aja dulu, ntar kabarin gue kalau ada apa-apa. Gue mau tugas lapangan dulu." Kataku seraya bangkit berdiri.
Aku berpamitan pada Aunty Ivanna dan juga Petter. Mereka melambaikan tangan dengan tersenyum padaku. Tiba-tiba seseorang mengejutkan ku dari belakang. Ia berdiri di balik punggung ku, dan menyapaku.
"Mbak Rania ya?" Tanya seorang perempuan yang usianya mungkin masih sebaya dengan ku.
"Hmm siapa ya?" Jawabku penasaran.
"Perkenalkan Mbak. Gue Wening, partner Mbak Rania hari ini." Imbuhnya seraya menjabat tanganku.
"Oh lu yang namanya Wening. Panggil gue Rania aja, gak usah pake Mbak segala. Kayaknya kita seumuran kok."
"Oh oke deh Rania. Btw tadi Mbak Rika ngomong, kalau ada yang mau lu tanyain ke gue. Tapi sebelumnya, ada yang mau gue tanyain juga nih."
"Lu mau nanya apa Wen?" Kataku seraya berjalan ke parkiran mobil.
"Tadi lu komunikasi sama dua hantu Belanda ya? Kok kayaknya lu akrab banget sama mereka?"
"Gue tau deh, lu udah lama ya kenal mereka. Enak banget sih bisa temenan deket sama hantu baik kayak gitu."
"Lu sejak kapan bisa ngelihat makhluk kayak mereka?"
Wening menjelaskan jika kemampuan itu ia dapat sejak kecil. Karena itu adalah bakat turun temurun dari Kakeknya. Tapi sampai saat ini, ia belum pernah memiliki sahabat tak kasat mata seperti ku.
"Eh bentar ya Wen, gue ada telepon nih." Kataku seraya menepikan mobil.
Aku menjawab telepon dari Mbak Ayu. Ia menceritakan mengenai Arfi yang terus menangis, ketika jasadnya dikafan kan.
"Ran gue kali ini benar-benar yakin, kalau ada yang gak beres dari meninggal nya Arfi. Tapi kedua murid yang tadi gue ceritain gak mau ngaku deh. Mereka kayak ragu-ragu buat cerita. Gue mesti komunikasi sama arwah Arfi, tapi gue gak bisa komunikasi lewat batin. Bisanya langsung ngomong sama dia, sedangkan disini banyak orang, gak mungkin dong gue komunikasi langsung sama dia. Yang ada gue disangka gak waras lagi!" Jelas Mbak Ayu terdengar panik.
"Terus gimana dong Mbak, lu mau gue nyusul kesana aja apa gimana? Kebetulan gue lagi kerja lapangan, gue bisa kesitu dulu nih."
"Sebenarnya gue gak mau recokin kerjaan lu Ran! Tapi gue gak tenang lihat semuanya. Gue gak tega Ran, takutnya si Arfi malah jadi hantu gentayangan lagi."
"Ya udah gak apa-apa kok Mbak. Gue mampir kesana aja, jadi sharelok ke gue alamatnya. Kebetulan gue bawa temen yang bisa ngelihat makhluk tak kasat mata sama kayak kita."
Mbak Ayu mengakhiri panggilan telepon itu. Ia mengirimkan lokasi keberadaan nya saat ini. Ku jelaskan pada Wening, jika aku harus pergi ke suatu tempat terlebih dulu. Ia hanya menganggukkan kepala, dan ku minta ia tukar posisi. Supaya dia saja yang memegang kemudi, karena aku harus fokus melihat maps.
"Kayaknya lu seneng banget ya berurusan dengan makhluk gaib. Harusnya kan kita hunting tempat nih, tapi lu malah bantuin orang yang baru aja meninggal."
"Hmm kalau lu keberatan gue bisa sendiri kok. Lu boleh cari bahan duluan Wen."
"Eh bukan gitu kok Ran maksud gue. Gue cuma heran aja, soalnya selama ini gue gak pernah kayak lu. Ya udah kita belok kemana lagi nih?"
Entah kenapa aku merasa ada yang janggal dari tingkah Wening. Ia seakan menyembunyikan sesuatu dariku, tapi aku tak tau apa. Karena ini pertama kalinya aku bertemu dan berbicara dengannya. Semoga ini hanya perasaan ku saja, dan tak ada apapun yang disembunyikan oleh Wening. Karena biasanya perasaan ku tak pernah salah jika menilai seseorang yang baru saja aku kenal.
"Kenapa Ran? Kok lu ngelihatin gue kayak gitu?" Celetuk Wening dengan mengaitkan kedua alis mata.
Sontak saja aku jadi canggung, dan gelagapan tak tau mau menjawab apa. Tingkahnya yang santai tapi terkadang membuatku penuh tanya. Seakan aku sudah pernah bertemu dengan nya sebelum ini. Padahal aku sama sekali tak mengenalnya. Semoga saja kali ini perasaan ku salah, karena ini adalah hari pertama ku bekerja dengannya. Tapi aku sudah memiliki firasat buruk tentang Wening.